Posted by: Yoga PS | 24 November 2015

Pindah Rumah

Lupa bilang disini, sekarang blogyoga pindah ke www.yoga-ps.com ya🙂

Keep writing and sharing😀

Posted by: Yoga PS | 26 April 2015

How to Write

7 September, 1982

If everybody in our company took an exam in writing, the highest marks would go to the 14 directors..

The better you write, the higher you go in Ogilvy & Mather. People who think well, write well.

Woolly minded people write woolly memos, woolly letters and woolly speeches.

Good writing is not a natural gift. You have to learn to write well. Here are 10 hints:

  1. Read the Roman-Raphaelson book on writing (Writing That Works, Harper & Row, 1981). Read it three times.
  2. Write the way you talk. Naturally.
  3. Use short words, short sentences and short paragraphs.
  4. Never use jargon words like reconceptualize, demassification, attitudinally, judgementally. They are hallmarks of a pretentious ass.
  5. Never write more than two pages on any subject.
  6. Check your quotations.
  7. Never send a letter or a memo on the day you write it. Read it aloud the next morning – and then edit it.
  8. If it is something important, get a colleague to improve it.
  9. Before you send your letter or your memo, make sure it is crystal clear what you want the recipient to do.

(point terakhir menurut saya yang paling penting)

  1. If you want ACTION, dont write. Go and tell they guy what you want.

Diambil dari The Unpublished David Ogilvy. 2012. Profile Books Ltd. London.

Posted by: Yoga PS | 19 April 2015

Sedikit Resep Penciptaan Brand Community

Ditengah dunia marketing yang semakin horizontal seperti saat ini, brand community memegang peranan vital dalam penguatan brand. Peer support influence istilah kerennya. Karena konsumen zaman sekarang, berkat kecanggihan teknologi dan gajet, semakin terkoneksi dengan konsumen yang lainnya.

Revolusi digital membuat konsumen semakin mudah untuk mereview, memuji, merekomendasikan, hingga menghujat dan mencaci maki produk yang mereka gunakan. Dan ditengah bombardir iklan yang mengklaim produk yang dijual adalah “kecap nomer 1”, banyak konsumen menggunakan rekomendasi teman sebagai dasar pengambilan keputusan pembelian.

Untuk itulah brand community berperan penting. Coba bayangkan konsumen brand-brand besar semacam Apple, Harley Davidson, Linux, hingga klub bola macam Manchester United dan AC Milan. Mereka memiliki brand community yang otomatis menghasilkan evangelist. Kaum loyalist yang akan memperjuangkan brand hingga titik darah penghabisan. Berani menghina Harley didepan anak moge yang sedang touring? Anda harus siap-siap dicium. Dicium sama aspal jalanan.

Asyik kan kalo kita bisa punya brand community sendiri. Brand kita ada yang ngebelain, ada yang ngejagain, dan yang paling asyik: mereka rela mempromosikan secara gratis. Brand community ini ada yang lahir dengan sendiri, tanpa campur tangan marketer, tapi juga bisa hasil settingan pemasar.

Bagaimana cara membuatnya? Read More…

Berita tentang kasus pembegalan di daerah Pasar Minggu membuat saya kaget. Perasaan baru seminggu yang lalu kawan seprofesinya di Tangerang harus menjadi steak medium well done karena dijadikan bahan eksperimen resep “Begal Bakar Tangerang” oleh warga yang menangkapnya.

Pertanyaan begonya: apakah mereka tidak takut mengalami nasib yang sama? Apakah tidak ada “begal warning” dari APEM – PANAS (Asosiasi Pembegal – Penadah Nasional) bagi para anggotanya? Apakah tidak ada efek jera bagi calon pembegal di seluruh dunia?

Jawabannya tentu seperti menjawab pertanyaan kenapa kejahatan masih tetap eksis kaya artis, padahal penegakan hukum terus berjalan dinamis. Penjara selalu terisi penuh. Neraka juga katanya bersedia menampung para manusia yang jahat. Tapi namanya juga manusia, selama ada kesempatan di tengah kesempitan, ya milh kesempatan. Coba adanya kesempatan atau dana umum, pasti milih dana umum. (Aduh koq malah ngomongin monopoli)

Demikian juga dengan pembegal. Saya yakin mereka tahu risiko diamuk warga dan dipaksa melapor ke malaikat izrail sang pencabut nyawa. Kasus begal dijadikan menu “begal guling” oleh warga sudah terjadi sejak lama. Tapi toh, beberapa bulan kedepan, saya yakin kasus pembegalan masih akan terjadi.

Secara ekonomi, setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan pembegal akan terus berkeliaran di muka bumi. Dua faktor sederhana:

  1. Low barrier to entry – modal enteng
  2. High ROI (return on investment) – hasil mentereng

Begal: Profesi yang Menjanjikan

Secara ekonomis matematis, menjadi seorang begal adalah profesi yang menguntungkan.

Jika Anda ingin jadi seorang politisi koruptor, maka modal yang Anda butuhkan tidak sedikit: pendidikan tinggi, modal capital untuk mendapatkan kekuasaan (termasuk bagi2 serangan fajar ke konstituen), dan modal sosial kepada calon partai pengusung Anda. Total bisa ratusan juta dan milyaran.

Bandingkan modal sebagai seorang begal. Cukup modal nekat, tampang sangar, fisik yang prima buat berantem, motor kenceng buat kabur, dan senjata tajam seadanya. Untuk sekali beroperasi sebagai begal, hanya dibutuhkan Read More…

Posted by: Yoga PS | 22 February 2015

Rahib yang Menjual Ferrari

edisi bhs indo

Saya membaca The Monk Who Sold His Ferrari secara tidak sengaja. Ketika itu saya sedang sholat di praying room bandara Changi Singapura. Salah satu bandara terbaik dunia ini memang tidak memiliki musholla yang dedicated, tapi mereka menyediakan ruang doa bersama untuk semua penganut agama.

Saya berjamaah dengan bapak-bapak orang Melayu. Dia tanya saya dari mana. Pingin jawab “dari tadi” takutnya ga nyambung. Setelah ngobrol basa yang gak basi, saya akhirnya tahu jika dia bekerja di salah satu toko buku di dalam bandara.

Mainlah kesana, ajaknya. Karena flight saya masih satu jam lagi, saya mengiyakan tawarannya. Lagipula, buku adalah teman terbaik saat menunggu.

Novel Motivasi

Setelah sampai di toko, dia mempersilahkan saya melihat-lihat. Bagi saya, ini adalah kesempatan membaca gratis. Dari berbagai koleksi buku bahasa asing yang ada, saya tertarik pada sebuah buku dengan judul yang unik: The Monk Who Sold His Ferrari. Setelah saya balik ke Indonesia, ternyata edisi terjemahan-nya sudah dicetak sejak September 2014 lalu.

Buku cerita inspirasi ini berkisah tentang seorang pengacara kondang Julian Mantle. Hidupnya sangat sukses, baik dalam karier, ataupun berkeluarga. Punya rumah mewah, dan tentu saja: Ferrari Merah.

Tapi tentu semua yang ada di dunia, hanya sementara. Suatu hari, ada kabar duka. Putrinya kesayangannya meninggal karena kecelakaan. Julian yang sebelumnya sangat sibuk dan tidak punya banyak waktu bersama keluarga, menjadi merasa bersalah. Dia merasa depresi. Kemudian mencoba menghibur diri lewat minuman keras dan tak butuh waktu lama untuk menghancurkan tubuhnya sendiri: dia terkena serangan jantung ketika sidang.

Disaat keadaan semakin buruk, dia memutuskan untuk pensiun dari dunia hukum, menjual semua asset (termasuk Ferrari kesayangannya) dan pergi ke India untuk hidup yang lebih baik. Ketika dia kembali, dia justru terlihat 10 tahun lebih muda, badan ramping, muka bercahaya, dan menjadi bijaksana. Apa rahasianya?

Cerita Rahasia dari Kaum Bijak Sivana

Dia membagi rahasia hidup bahagianya kepada John, kawan firma hukumnya. Sebuah rahasia yang konon diperoleh dari kaum pertapa Himalaya.

Rahasia yang ada dalam sebuah cerita sederhana:

Kau sedang duduk di tengah taman yang sangat Read More…

Posted by: Yoga PS | 10 February 2015

Pak Presiden dan Situational Leadership

Hari Jum’at lalu saya iseng-iseng mengikuti leadership training yang diadakan oleh kantor regional. Dari undangan yang di blast ke ribuan orang, hanya dua orang Indonesia yang bersedia hadir. Diantara berbagai materi yang dibagi, ada satu konsep klasik yang menurut saya masih sangat berguna di zaman modern: situational leadership.

Makhluk apaan itu?

Situational leadership adalah konsep yang dikembangkan oleh Paul Hersey dan Ken Blanchard pada tahun 69 (jangan memikirkan gaya 69). Tentang bagaimana mengambil keputusan sebagai leader berdasarkan 4 situasi: telling, selling, participating, dan delegating. Berikut penjelasan singkatnya:

Telling: Anda memberikan instruksi langsung. Perintah yang jelas tentang step to do. Tanpa perlu mendengarkan pendapat mereka.

Selling: Anda menjual ide dan menjelaskan sesuatu kepada staff Anda. Meyakinkan mereka akan keputusan Anda.

Participating: Anda meminta pendapat team Anda. Ada sharing of power disini.

Delegating: Anda berada di luar dan hanya mengawasi. Semua Anda serahkan kepada bawahan Anda.

Kapan harus menjadi seorang teller, seller, coordinator, delegator, atau malah vibrator???

Tergantung Sikondom

Coba lihat diagram dibawah ini:

managewell.net

managewell.net

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi situational leadership. Namanya juga situational. Semua tergantung sikondom: situasi, kondisi, dan dominasi. Semua bisa berubah. Tapi setidaknya kita bisa melihat dari task dan relationship category, readiness, dan juga directive level-nya. Aduh koq gaya banget lu cuk pake bahasa Inggris mulu?

Seperti diagram diatas. Untuk project yang sifatnya berfocus pada tugas dan tidak memikirkan relationship, maka gaya telling lebih tepat. Contohnya: saat ada kondisi yang membutuhkan keputusan mendesak, atau saat anggota team masih baru dan belum tahu apa-apa. Disini Anda diperbolehkan menjadi diktator.

Selling lebih digunakan untuk memberikan keyakinan kepada anggota team. Mempersuasi mereka tentang keputusan yang Anda ambil. Contohnya: saat Anda memberikan new role kepada staff Anda, terkadang ada resistensi. Tugas Anda sebagai leader adalah “menjual” ide tentang role baru itu dan membuatnya setuju untuk mengambil peran tersebut.

Sedangkan participating biasanya diambil saat Anda merasa directional level bisa dikurangi, dan dimungkinkan adanya sharing of power. Disini Anda akan meminta masukan dari staff. Tugas Anda hanya mengawasi dan memberikan guidence secara garis besar. Sangat cocok jika Anda memimpin departemen yang diisi “orang-orang lama”. Mereka biasanya sangat ingin didengar dan berperan dalam pengambilan keputusan.

Last but not least, delegating bisa kita gunakan untuk staff grade A. Para stars performer. Mereka yang sangat Anda percayai dan tidak membutuhkan pengawasan detail. Saat menerapkan delegating, Anda memberikan 100% authority kepada staff untuk mengambil keputusan.

Nah setelah tahu teorinya, bayangkan Anda adalah seorang pemimpin pabrik yang lagi nge-tren: batu bacan. Semua berjalan smooth dan perfect. Sampai pada suatu pagi, negara api mulai menyerang. Halah garing banget.

Suatu pagi ada dua staff Anda yang melakukan kesalahan fatal. Untung hanya dua. Kalau tiga nanti jadi salah tiga dan berubah menjadi nama kota di Jawa Tengah. Satu lagi jokes yang tidak kreatif bung.

Nah, staff Anda yang melakukan fatality itu:

Pegawai A, anak baru yang baru bergabung sehari.

Pegawai B, sudah bekerja 10 tahun, selama ini bekerja dengan sangat baik.

Apa yang harus Anda lakukan? Pendekatan apa yang harus diambil? Apakah:

  1. Memarahinya dan memberi hukuman mengepel lapangan bola
  2. Memujinya sebagai pembelajaran dan memberikan promosi kenaikan gaji dan liburan ke Maladewa
  3. Tidak melakukan apa-apa dan menganggap tidak terjadi apa-apa

Tentu Anda tidak bisa memarahi habis-habisan si anak baru dan kemudian menyuruhnya menyelesaikan masalahnya sendiri (delegating). Bisa-bisa doi akan langsung resign dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita juga tidak perlu memberikan arahan terlalu detail kepada pegawai B yang sudah mahir melakukan tugasnya selama 10 tahun dengan sempurna. Bisa-bisa respect dia kepada Anda malah turun karena berpikir Anda menganggap dirinya tidak capable. Sedikit encouragement dan less directing akan lebih efektif.

Apa Style Presiden Kita?

Sekali lagi, leadership itu seni, bukan Cuma teori. Kita bisa belajar 1000 buku tentang leadership tapi belum tentu akan menjadi great leader. Dan seni kepemimpinan berarti juga seni membuat keputusan. Tahu kapan harus memutuskan berdasarkan kebijakan personal. Kapan harus mendengarkan saran komunal. Atau bahkan ada kalanya harus mendelegasikan pengambilan keputusan ke level struktural.

Intinya, pemimpin harus bisa memutuskan.

Bagaimana dengan presiden baru kita? Saya tidak mau banyak berkomentar. Tapi kasus pengangkatan kapolri menunjukkan:

Anda bukanlah pemimpin jika tidak bisa mengambil keputusan.

Posted by: Yoga PS | 25 January 2015

Ka’bah Dekat Rumah (7): Hotel Bintang Tujuh

Seperti cerita di tulisan sebelumnya, alhamdulilah saya mendapat tumpangan menuju madinah. Kebetulan masih ada bangku bus yang kosong. Ibrahim mengenalkan saya dengan rombongan dari Indonesia. Jauh-jauh menghindari macet ibukota, eh tetap saja ketemu warga Jakarta. Haha.

Mereka kaget karena tahu saya ga pake rombongan. Istilah kerennya: solo backpacker. Istilah jujurnya: ga punya duit ikutan umroh lewat tour and travel. Mereka pada penasaran nanti nginep dimana? Makan apa? Ke Mekah gimana? Jangankan mereka, saya yang mau ngejalanin aja ga tau mau tidur dimana, makan apa, atau cara umroh ke Mekah gimana. Kita lihat saja nanti.

Yang penting itu niatnya.

Kelaparan? Tuhan akan memberikan makanan

Kebingungan? Tuhan akan menunjukkan jalan.

Kejauhan? Tuhan akan memberikan tumpangan.

Keyakinan itu yang coba saya afirmasi kedalam diri. Pasrah dan berserah. Sepasrah-pasrahnya. Seikhlas-ikhlasnya. Toh selalu ada jalan bagi mereka yang mau berdoa dan berusaha.

Mananya yang Merah?

Akhirnya saya jadi peserta travel selundupan. Dan menikmati paket tour yang sama. Berarti saya juga ikutan rombongan yang akan berjalan-jalan ke Masjid Apung dan Laut Merah. Asyikkk!

Saya tidak sabar ingin menyaksikan masjid Apung di tepi laut merah. Seperti apa rupanya? Saya Cuma tahu lesehan warung apung. Ini masjid yang mengapung? Di laut merah? Apa lautnya benar-benar berwarna merah?

Setelah menempuh perjalanan yang saya isi dengan tidur (untuk menghemat tenaga karena tidak tahu nanti malam akan tidur dimana), tibalah kami di masjid Apung di tepi laut merah. Ya elah, disebut masjid Apung karena kalo air pasang, masjid ini seolah-olah “mengapung” di lautan. Dan lautnya? Koq ga merah ya?

Saya baru tahu jika sebutan laut merah karena adanya organisme sejenis Trichodesmium berwarna merah yang hidup dilautan ini. Saya sempat berpikir laut ini disebut laut merah karena merah darah pasukan firaun yang ingin menangkap nabi Musa. Untungnya pikiran sesat saya berhasil dicerahkan oleh wikipedia.

Karena sudah sholat dan takut ketinggalan bus (risiko penumpang gelap), saya menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di tepi pantai disekitar parkiran. Ternyata banyak juga orang Indonesia yang jualan makanan dan minuman. Karena banyaknya orang arab ditengah orang Indonesia, atau sebaliknya banyak orang Indonesia ditengah orang arab, saya kemudian berpikir:

Anggep aja saya lagi liburan di puncak, tapi ga pake acara kawin kontrak.

Hampir Disiram

Setelah kurang lebih satu jam berkunjung ke Masjid Apung, akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Jarak dari Jeddah ke Madinah sekitar 400 km. Hampir sama dengan jarak Jakarta-Pekalongan. Bedanya, jika di Jawa harus melewati kemacetan dan butuh waktu 10-12 jam, disini jalanan lebar dan mulus. Bus melaju dengan kencang dan hanya butuh 4-6 jam tergantung mau istirahat berapa lama.

Tak terasa kami menempuh sekitar 6 jam perjalanan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan sampailah kami di Madinah al mukarromah. Bus langsung menuju ke masjid Nabawi, karena rombongan travel yang saya tumpangi menginap di hotel sekitar sana. Terus lo nginep dimana cuk?

Setelah berhenti dan mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya ke rombongan yang berbaik hati membantu, saya langsung mengambil ransel satu-satunya. Turun. Memasuki pelataran Masjid, dan memikirkan dua hal. Pertama: Alhamdulilah ya Allah bisa berkunjung ke masjid Nabawi, dan kedua: bingung mau tidur dimana.

Memasuki pelataran masjid, pintu masih ditutup. Rencana saya untuk nyamar jadi jamaah sholat untuk tidur di dalam gagal. Karena bingung, lagi-lagi saya pake jurus minta petunjuk: sholat. Toh sholat di masjid Nabawi insya Allah lebih punya keutamaan.

“Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih baik dari seribu (shalat) daripada yang lain kecuali Masjidil Haram, dan shalat di Masjid haram itu lebih baik dari seratus ribu (shalat) daripada yang lain.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Kali aja abis sholat terus saya berdoa langsung dikabulin. Contohnya:

“Ya Tuhan, mau tidur di hotel donkkk..”

Tiba-tiba kunci hotel jatuh dari langit, atau ada orang yang ngerasa saya mirip keluarga kerajaan dan menawari nginep di Abraj al bait yang terkenal dengan menara jam-nya itu. Aduh, kebanyakan nonton pilem hidayah ya bro???

Karena selanjutnya tak terjadi apa-apa..

Malah saya hampir disiram karena tidur di depan pintu masjid dan kebetulan lantainya mau di pel. Langsung saya berdiri dan melarikan diri. Tangi leee…

Karena bingung saya coba perhatikan keadaan sekeliling. Ternyata saya tidak sendiri. Ada beberapa jemaah lain yang Cuma bermodal tas berisi pakaian. Mereka rata2 tidur di sekitar toilet/WC. Akhirnya saya dekati mereka. Salam. Senyum sana-sini dan basa-basi. Meletakkan barang pribadi. Merebahkan diri. Ah lelahnya tubuh ini.

Sambil menunggu pintu masjid dibuka bagi para jemaah yang ingin sholat malam dan berdoa di sekitar raudhah, saya mencoba beristirahat. Berbaring disamping jamaah asal Pakistan. Tak lupa memakai kaus kaki dan pakaian dobel karena suhu yang dingin. Sambil memandang langit.

Terima kasih Tuhan, karena menerima hamba dirumah-Mu.

Dibandingkan hotel-hotel yang saya tempati sebelumnya, maka saya berada di “hotel bintang tujuh”.

Karena saya tertidur dengan hati yang damai. Sejuk sekali.

Pemandangan didepan "hotel" saya :)

Pemandangan didepan “hotel” saya🙂

Posted by: Yoga PS | 22 December 2014

Calo Tiket: Musibah Atau Berkah?

Pada 13 Desember lalu, harusnya saya terbang ke Yogyakarta untuk urusan keluarga yang sangat penting. Naik salah satu budget airlines di terminal 3 Soekarno Hatta. Jadwal flight jam 5.20, tapi berkat kebodohan saya sendiri, saya terlambat dan ditolak untuk check in (saya lupa untuk web checkin T_T).

Karena sudah janji dan tidak bisa diwakilkan, mau tidak mau saya harus terbang pagi ini juga. Saya cek next flight, ada yang jam 6. Tapi sudah penuh. Ada penerbangan selanjutnya yang available jam 10 pagi. Saya sudah telat.

Saya coba pindah jurusan. Cek jurusan Solo via internet. Karena acara keluarga sebenarnya di Solo. Saya terbang ke Jogja karena rata-rata tiket kesana lebih murah dari yang langsung ke Solo. Adanya malah sore. Lha terus gimana donk?

Satu pintu tertutup, dua jendela terbuka. Kepercayaan yang menggelora di dalam dada. Pasti ada cara untuk mendapatkan tiket penerbangan. Banyak jalan menuju Solo! Akhirnya saya pindah ke terminal 1A, coba tanya ke sales counter maskapai yang plesetannya Late is Our Nature. Penuh juga.

Mampus… saat saya sudah siap dimarahin keluarga sekampung, saya iseng-iseng mengelilingi terminal 1. Niatnya sih menyambangin semua kantor maskapi dari 1A sampai terminal 2. Ga berapa lama berjalan, saya didekati bapak-bapak:

“Mas, Solo mas? Ini ada tinggal satu”

Wah, bau-bau calo nih.

“Berapa Pak?” tanya saya iseng.

“Berangkat pagi ini juga, jam 8. Satu koma empat saja”

Gile ni bapak tua bangka. Masa ke Solo doank 1,4 juta. Apalagi kalo mau ke Amerika?

“Normalnya kan 500 Pak, ya udah 700 aja mau?” saya coba tawar.

“Ga bisa mas. Kita bayar ke maskapai-nya aja 400rb. Belum uang rokok ama uang nganter check in kedalam. Ini tinggal terakhir nih” sanggah bapak yang mengaku bernama Yayat.

Untuk negosiasi seperti ini, jangan sampai penjual tahu jika Anda benar-benar butuh. Munculkan alternative, dan jika dia tidak tertarik, gunakan exit strategy.

“Pak, saya masih bisa cari maskapai lain. Kalau Bapak ga mau, ya Bapak sendiri yang rugi karena tiketnya hangus” kata saya sambil berpura-pura melangkahkan kaki. Dalam hati saya berdoa biar dia manggil saya. Kalau saya yang kembali ke dia, posisi tawar dia menguat dan dia bisa mempertahankan harga.

Baru berjalan beberapa langkah, ada suara:

“Ya udah Mas sini. Tapi tolong tambahin uang rokok ama ongkos nganter ke dalam ya”

Ok kita deal di 850rb. Saya setuju karena ya saya juga bener-bener butuh ama tiketnya dan harga segitu adalah harga normal tertinggi untuk flight ke Solo. Sambil mengambil uang di ATM, muncul pertanyaan di kepala: amankah beli tiket di calo? Kalau saya ditolak masuk gimana? Kalau saya ditipu? Ah.. anggap aja ini risiko dan bisa jadi pelajaran. Siapa suruh telat datang ke bandara?

Sindikat

Setelah setuju saya dibawa ke gerombolan teman-temannya. Mereka duduk-duduk di ruang tunggu. Dekat tempat dropping taxi.

“Ini ada yang mau Solo nih, cari yang mudaan” seru pak Yayat.

Hah? Muda apaan?

Salah seorang temannya lalu merogoh kantong dan mengeluarkan setumpuk KTP. Sambil melihat wajah saya yang ganteng dan mempesona (huekkk), dia menyerahkan salah satu KTP.

Ternyata, dia memiliki setumpuk KTP aspal dengan nama yang sama, tapi dengan wajah berbeda. Nama yang dipilih adalah unisex: Mardian. Bisa untuk laki, bisa untuk perempuan. Tinggal foto-nya aja. Ada yang tua, ada yang muda.

Saya menerima KTP atas nama Mardian asal Jakarta. Kelahiran tahun 73. Buset tua amat. Wajahnya garang. Beda jauh ama komuk (muka) saya yang imut-imut.

sejak kapan muka saya jadi sangar?

sejak kapan muka saya jadi sangar?

Setelah ada KTP, pak Yayat meminta uang 400rb untuk menebus tiket. Saya tidak mau. Untuk berurusan dengan para rent seeker seperti ini, kita harus punya golden rule: Jangan berikan uang sebelum jasa diterima.

Saya ga mau bayar sebelum dapat tiket dan sudah berhasil masuk ke boarding room. Akhirnya saya maksa untuk ikut ke sales counter dan membayar 400rb-nya disana, sedangkan sisanya akan dibayar setelah check in di dalam ruang tunggu.

Akhirnya kami melangkah ke sales counter maskapai berlogo singa yang bisa terbang itu. Disana sudah menunggu anggota gang mereka, Adi namanya. Rupanya dia juga sedang mengurus tiket untuk 2 penumpang dengan tujuan yang sama dengan saya: Solo.

Saya ga tau mekanismenya gimana, pokoknya mereka meminta saya membayar 400rb kepada kasir sales counter. Untuk kemudian bisa langsung check in ke dalam.

“Kita return dulu tiketnya, Mas. 400rb itu untuk biaya return”. Return maksudnya gimana ya?

Hipotesa saya: mereka bekerja sama dengan travel agent melakukan booking, meng-hold booking tersebut, dan melakukan payment jika sudah ada korban orang tidak berdosa yang kepepet seperti saya.

Yang jelas, saya kemudian diantar ke dalam. Di check-in kan dan membayar sisa 450rb di koridor sebelum boarding room. Setelah itu semua berjalan sesuai rencana. Saya boarding dengan mulus, duduk manis di dalam pesawat yang penuh, dengan menggunakan identitas Mardian.

tiket

Lemahnya Pengawasan

Begitu mudahnya saya masuk dan menggunakan KTP abal-abal menunjukkan lemahnya pengawasan bandara kita. Dan ini juga berarti rendahnya standar kemanan. Seorang calo bisa dengan bebas keluar masuk ruang check-in. Untung saya tidak berniat jahat, bagaimana jika saya adalah seorang buronan polisi yang ingin terbang untuk menghilangkan jejak?

Calo juga menghadirkan ineffisiensi pasar. Penumpang diharuskan membayar harga yang jauh diatas harga pasar untuk keuntungan segelintir orang. Terjadi asimetric information antara penumpang dan airlines sebagai penyedia jasa. Sang calo seenak jidat bisa menyebutkan harga jual yang harus dibayar.

Kehadiran calo sebenarnya juga merugikan airlines. Jika terjadi musibah, maka pihak asuransi berhak menolak mengganti biaya kerugian pesawat karena ketidaksesuaian manifest. Tapi toh calo hadir dikarenakan sistem maskapai itu sendiri. Mereka melihat peluang dalam lemahnya fungsi pengawasan data penumpang.

Selain itu mayoritas LCC (low cost carrier) tidak memperkenankan adanya uang kembali jika penumpang berhalangan terbang. Hal ini menyebabkan banyak penumpang yang gagal terbang, malas me-return tiketnya yang berakibat tertutupnya peluang orang-orang go show (mencari tiket untuk terbang saat itu juga) untuk mendapat kursi pesawat secara resmi. Mereka akhirnya memilih opsi menjual di secondary market lewat calo (pak Yayat mengatakan bisa membantu menjual tiket yang sudah di book).

Yo wes lah… ambil positifnya saja. Jika pengawasan penerbangan kita terlalu ketat, saya pasti gagal terbang dan batal menikah.

Iya, saya harus terbang untuk mengucapkan janji suci di depan petugas KUA.

“Yog, lu minggu depan ada agenda apa? Lo ke Dili ya”, tanya atasan saya.

Hah??? Dili? Timor Timor? Timor Leste? Rahul Lemos? Krisdayanti? Ada apaan disana?

Sama sekali tidak ada bayangan tempat wisata iconic yang melintas di otak seperti Merlion di Singapura, Great Wall di China, atau Dolly di Surabaya. Astaghirullah… sayangnya yang terakhir udah tutup…

Sebagai cecunguk berkasta Sudra di korporasi kapitalis, saya tidak punya pilihan lain. Sebenarnya saya pingin jawab: “Aku mau kalo duty travel-nya ke Europe, Mas”, atau “Australia aja donk”, tapi jika saya lakukan tentu minggu depan saya sudah nyebar2 CV di Jobstreet.

Apalagi beberapa teman yang sudah kesana menakut-nakuti dengan cerita “horror”.

“Ga, nanti lu kalo di Dili jangan lupa pakai baju rompi warna cerah ya” kata Pai, yang sudah pernah 3x ke negeri Xanana Gusmao itu.

“Hah? Kenapa emangnya?” mengingat reputasi si Pai sebagai traveler yang lebih berpengalaman (ni orang sampai pernah iseng-iseng main ke Christmast Island), saya langsung pasang telinga dengan sungguh-sungguh.

“Jaga-jaga aja sih.. biar kalo lu ditembak, mayat lu keliatan di semak-semak”.

“………..” mengheningkan cipta. Mulai.

Perjalanan saya menuju Timor Leste diselimuti mitos, legenda, dan cerita rakyat yang negative tentang Timor Leste. Ada yang bilang Krisdayanti dipuja seperti ratu disana. Dili juga dibilang tidak aman lah, penuh tentara United Nation dengan senjata lengkap yang berpatroli lah, hingga berlakunya jam malam.

Tulisan ini ingin memberikan klarifikasi berdasarkan pengalaman pribadi, tentang mitos vs fakta perjalanan wisata ke Dili.

Mitos 1#: Kita harus bisa berbahasa Portugis

Karena Timor Leste termasuk anggota persemakmuran Portugis, awalnya saya kira kita harus bisa bahasa Porto. Ternyata bahasa yang dominan adalah bahasa lokal, Tetum. Bahasa daerah orang Timor sejak dulu.

Dili airport

Dili airport

Fakta 1#: “Selamat Pagi, Apa Kabar?” Dimengerti Semua Orang

Begitu mendarat eh ternyata semua orang bisa bahasa Indonesia. Saya merasa Timor Leste masih menjadi provinsi ke-27. Semua orang dewasa mengerti bahasa Indonesia. Meskipun bukan bahasa resmi, tapi bahasa Indonesia adalah “bahasa gaul”.

Karena di Timor Leste hiburan media terbatas (TV resmi mereka, TVTL hanya mengudara dari jam 8 ke jam 9 untuk menyiarkan berita), mau tidak mau masyarakat Timor Leste menonton siaran tv Indonesia dengan parabola. Jangan heran kalau mereka tahu Ganteng-Ganteng Srigala, mengikuti sepak terjang koalisi Merah Putih, atau tertawa menonton Indonesia Lawak Club.

 

Ngerti koran bahasa Tetum ini?

Ngerti koran bahasa Tetum ini?

Mitos 2#: Timor Leste Menggunakan Mata Uang Sendiri Setelah Merdeka

Seperti negara merdeka pada umumnya, biasanya mereka mencetak mata uang sendiri. Begitu kita merdeka, Gulden ditinggalkan dan kita punya rupiah. Berbeda dengan Timor Leste, mata uang “lokal” yang berlaku hanyalah uang koin Centavos. 100 centavos sama dengan satu dollar AS.

Koin centavos

Koin centavos

Fakta 2#: Transaksi Menggunakan Dollar, dan Rupiah Tidak Diterima

Dollar Amerika cong, bukan Dollar Bekasi😛.

Pake dollar brooo

Mitos 3#: Wisata ke Timor Leste Murah

Timor Leste? Deket NTT? Nitip oleh-oleh donk, pasti murah2 kan yah disana? Mereka yang ngomong kaya gini pasti kalo traveling paling jauh ke Mall di Tangerang Selatan. Mereka tidak tahu perjalanan ke Indonesia Timur itu lebih mahal daripada perjalanan ke barat mengambil kitab suci.

Timor Plaza, "Mall" terbesar di Timor Leste

Timor Plaza, “Mall” terbesar di Timor Leste

Fakta 3#: Wisata ke Timor Leste Nggak Mahal, tapi Muahaaalllll

Emberrr. Untuk tiket pesawat, karena tak ada direct flight Jakarta-Dili saya harus singgah dan bermalam dulu di Bali. Terus untuk pulangnya lebih rempong lagi, karena return flight ke Bali penuh, saya harus muter ke Singapura dulu sebelum bisa kembali ke Jakarta. Total untuk tiket pesawat saja, kira-kira habis 8 jutaan.

Sebagai negara kecil yang baru merdeka, Timor Leste sangat bergantung pada barang impor untuk memenuhi kebutuhan warganya. Sehingga wajar saja, apa-apa serba mahal. Untuk biaya hidup, sekali makan di warung biasa2 aja berkisar 5 dollar belum pake minum. Mau nongkrong di roof top skybar? Siapin 50 dollar cuk! Hotel juga begitu. Penginapan yang saya tempati punya corporate rate 125 dollar/malam padahal hanya sekelas hotel 800rb-an di Bali.

Tapi tenang sodara-sodara. Masih banyak yang murah koq disini. Karena pajak hanya 5%, Anda bisa membeli mobil-mobil macam Pajero atau Ford Ranger dengan harga separuh dari Indonesia. Dan bagi pecinta anggur, maka Timor Leste adalah tempat yang tepat. Disini Anda bisa mabok sepuasnya dengan harga mulai dari 7 dollar/botol!.

Wine dan minuman keras dijual bebas (dan murah)

Mitos 4#: Dili Bukanlah Kota yang Aman, Penuh Tentara Bersenjata!

Hanya jika Anda berkunjung ke Dili dibawah tahun 2012, Anda akan menemukan pasukan UN bersenjata lengkap, berjaga diseluruh kota. Tapi itu dulu. Sejak tahun 2012, pasukan UN sudah ditarik mundur.

Saya juga ga tau buat tuh meriam untuk apa

Saya juga ga tau buat tuh meriam untuk apa

Fakta 4#: Dili adalah kota yang Tenang

Dili adalah kota yang tenang cenderung sepi. Tapi ternyata hal ini tidak terjadi begitu saja. Berdasarkan cerita dari orang lokal, sebelum tahun 2013 sering terjadi keributan malam. Mereka yang minum-minum, dansa, senggol dikit, bacok, tembak, berantem. Oleh karena itu mulai tahun 2013 hiburan malam dilarang. Sekarang Dili jam 8 malam hampir seperti Jakarta jam 3 pagi. Sepi. Semua sudah pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.

Suasana Largo de Cidere, taman kota Dili

Suasana Largo de Cidere, taman kota Dili

Mitos 5#: Tidak ada Objek Wisata yang Menarik Disini

Apa yang dicari di lingkungan gersang dan panas seperti Timor Leste? Ilmu pelet apa yang dipakai Rahul Lemos untuk meyakinkan Krisdayanti hingga rela tinggal disini?

Anak-anak bermain di dermaga, dekat Largo de Cidere

Fakta 5#: Dili Punya Potensi Secantik Bali

Kata siapa Dili tidak Indah? Mereka punya Christo Rei, patung Paus Benedictus, taman kota yang menarik, Los Palos, hingga Pulau Jaco.

patung maria

paus

landscape1

Narsist dikit ah…

 

Kesimpulannya, Timor Leste adalah negeri yang indah untuk dikunjungi. Saya akan mengenangnya sebagai Negara muda yang akan selalu menjadi saudara kita.

Posted by: Yoga PS | 13 October 2014

Bacaan Oktober [Sold Out]

Seperti biasa, tinggalkan alamat jika tertarik buku-buku ini.

1. Daniel Pink, To Sell is Human. Buku tentang seni “menggerakkan” orang lain dan menjual ide. Sold to Desti.

2. 8 x 3 = 25! Bertambah Bijak Setiap Hari. karangan Budi Tanuwibowo. Sold to Vivit.

3. Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya. karangan Dewi Karisma Michellia (karya unggulan Dewan Kesenian Jakarta 2012), kebetulan saya pernah satu training anti korupsi sama penulisnya!😛 Sold to Helvira Hasan

4. Selimut Debu, Agustinus Wibowo. Buku pertama sebelum Garis Batas dan Titik Nol. Bercerita tentang eksotisme Afghanistan.Sold to Michelle

5. Tribes. Buku penuh provokasi dari Seth Godin. Sold to Ambar

Saya percaya:

Pecinta ilmu bukanlah pengoleksi buku. Karena ilmu diciptakan untuk diamalkan dan disebarkan, bukan untuk disimpan, apalagi dipamerkan.

Dipilih-dipilih…

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 253 other followers

%d bloggers like this: