Posted by: Yoga PS | 15 January 2010

Apa Persamaan dan Perbedaan Ruhut Sitompul dengan Gennaro Gattuso???

Apa persamaan dan perbedaan Ruhut Sitompul dengan Genaro Gattuso? Persamaannya adalah mereka berdua adalah “perusak”. Gattuso adalah salah satu gelandang bertahan terbaik Italia. Permainannya disiplin, mencoba mematikan pergerakan lawan dengan tackling-tackling keras. Benturan biasa dialami. Bahkan sudah menjadi langganan penerima kartu kuning. Julukannya tak kalah keren: Gattuso si Badak!.

Gattuso adalah seorang defensive midfielder. Dalam skema 4-1-2-3 yang kerap dimainkan Milan, peran ini sangatlah sentral. Tugas utamanya adalah memutuskan supply chain serangan lawan (meski dengan kekerasan) untuk kemudian memberikan bola kepada gelandang serang seperti Ronaldinho atau Clarence Seedorf.  Jadi seorang defensive midfielder berperan sebagai jangkar yang menghubungkan lini belakang dengan lini tengah.

Lantas bagaimana dengan Ruhut Sitompul? Sama saja. Dalam skenario politik di dalam pansus hak angket DPR, Ruhut berfungsi sebagai “bumper” bagi fraksi Demokrat. Disaat anggota pansus dari fraksi lain mencecar saksi yang dihadirkan, Ruhut bermain. Lihatlah kasus ketika pejabat BI yang dipanggil menganggap pertanyaan anggota pansus “mengarang”, Gayus Lumbuun meradang. Ia merasa dilecehkan. Dan Ruhut pun memainkan perannya.

“Silahkan Bapak mau bicara apa saja, ini forum bebas!” Ruhut membela pejabat itu. perdebatan sengit yang sebenarnya tidak subtansial terjadi begitu keras. Bagi seorang yang “disidang” di depan 30 anggota pansus DPR yang terhormat, “pembelaan” Ruhut setidaknya bisa menjadi peringan beban secara psikologis.

Bangsat!

Lalu apa perbedaan antara Ruhut dengan Gattuso? Memang Gattuso adalah pemain bola, dan Ruhut adalah politisi yang mantan pengacara. Gattuso orang Italia, sedangkan Ruhut orang Indonesia. Tapi perbedaan utama adalah profesionalisme. Gattuso tidak pernah melakukan pelanggaran yang tidak perlu. Dan jika harus melanggar secara keras (dan berbuah kartu dari wasit), ia melakukannya karena alasan profesional. Benar-benar technical foul.

Ruhut berbeda. Entah mengapa ia sampai kelepasan dan “men-tackling” Gayus Lumbuun terlalu keras, tapi alasan keluarnya kata “Bangsat!” benar-benar tidak bisa diterima akal sehat. Konflik ini bermula ketika Ruhut memprotes kepemimpinan Gayus yang membiarkan anggota dari fraksi PDIP untuk berbicara lebih lama, pada rapat pansus angket Century 7 Januari 2010.

Gayus yang sudah berupaya bersabar akhirnya terpancing ketika Ruhut mencoba bercanda dengan menyebut ‘profesor koq marah’ dan ‘lempar palu’. Perdebatan tak penting ini berlanjut ketika Gayus meminta Ruhut untuk diam yang kemudian diakhiri dengan klimaks keluarnya kata dari mulut Ruhut: “Kau yang diam, Bangsat!”.

Lebih lucu lagi ketika dewan kehormatan DPR yang terhormat menganggap kasus ini tidak perlu ditindak lanjuti. Bahkan tidak ada sanksi apa-apa dari fraksi Demokrat, tempat Ruhut bernaung. Untungnya Gayus tidak memperpanjang masalah ini dan keduanya sudah bersalaman esok paginya (8/1) ketika memulai rapat lanjutan.

Inilah Politik, Inilah Politikus

Yah, inilah politik kawan. Inilah politikus. Tak ada kawan yang abadi, tak ada musuh yang abadi. Yang ada hanyalah kepentingan abadi. Panggung politik itu seperti pertunjukan topeng. Penuh kepalsuan. Politikus, kata Gus Dur belum canggih kalau apa yang ditampakkan sama dengan apa yang disembunyikan. Politikus paling sakti ya kalau wajahnya hitam, tapi topengnya putih.

Saat kampanye, bilangnya berjuang demi rakyat. Janjinya kesejahteraan. Tapi akhirnya juga uang rakyat buat nolongin bankir. Buat beli mobil baru. Naikin gaji. Nambah tunjangan. Mencabut proteksi. Gak papa koq. Ya gini ini emang wajah politik kita. Jangan kaget lho, bukan Cuma bangsa Indonesia aja yang muak dengan politikus busuk (saya yakin masih ada white politician). Politikus busuk itu sudah seperti wabah yang harus dibasmi dari dunia ini.

“Jangan bilang2 ke ibu saya, ya, bahwa saya masuk ke dunia politik. Selama ini dia mengira saya bermain piano di rumah bordil” kata anonim Amerika.

“Politikus ya memang gitu-gitu saja dimana pun. Mereka selalu berjanji membangun jembatan meskipun tak ada sungai disitu” ini kata Nikita Khruschev lho…

“Dan ada satu rahasia. Sebetulnya tak ada satu politikus pun yang mempercayai omongannya sendiri. Mereka justru akan terpana ketika ada orang memercayai omongan mereka”. Kata Charles de Gaulle.

Kata Albert Camus, “Tapi sialnya, mereka itu yang menentukan nasib orang banyak. Menurut saya, politik dan takdir itu sama belaka, sama-sama ditentukan oleh orang-orang yang tak punya gagasan maupun harga diri. Orang-orang yang punya harga diri tak akan masuk politik”.

Let’s have Positive thinking. Anggap saja ini merupakan pembelajaran politik bagi masyarakat. Untuk terbiasa menghadapi konflik. Jarang-jarang lho, kita diajari anak TK (kata Gus Dur loh..). Setelah marah-marahan, gontok-gontokan, bangsat-bangsatan, ketawa-tawa, salam-salaman. Namanya juga marah untuk politik. Damai juga demi politik.

Tapi ini pembelajaran politik apa dagelan???


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: