Posted by: Yoga PS | 20 January 2010

Tiga Dosa Pencari Kerja

Seorang teman mengeluh kesulitan kerja. Sudah tak terhitung perusahaan yang didatangi. Tapi hasilnya masih nihil. Yang repot ketika harus menulis status pekerjaan di KTP: tak ada strata pengangguran dalam sistem kependudukan kita.

Oleh karena itu, pertama-tama saya akan ucapkan selamat. Karena kita masih punya 626.621 lulusan Universitas yang senasib. Jika kita membuat partai, kita sudah bisa mendapatkan satu kursi.

Kedua, saya tak akan menggurui. Saya toh bukan eksekutif Te-O-Pe Be-Ge-Te. Status saya masih mahasiswa yang hampir karatan. Tulisan ini just share salah satu buku terbaik dunia dalam masalah pencarian kerja. What Color is Your Parachute karya Richard N. Bolles adalah salah satu master piece yang menjadi “kitab suci” bagi head hunter (pencari eksekutif) di seluruh dunia. Buku ini terbit sejak tahun 70an, dan edisi tahun 2010 masih tersedia dengan harga $10.1 di Amazon.com!

Saya sedikit meringkas tulisan. Karena ini bukan resensi buku. Saya langsung to the point ke masalah teknis pencarian kerja. Dalam bukunya, ada bab yang membahas potensi pribadi (disertai tes), road mapping karier, serta “jurus2 terakhir” jika kita masih menganggur. Tapi sangat “American Way” dan kurang relevan dibahas di tulisan singkat ini.

Tiga Dosa Pencari Kerja:

Menurut Bolles ada tiga “dosa” yang dilakukan pencari kerja: mengikuti job fair, mengirim CV, dan melamar berdasarkan iklan lowongan pekerjaan. Mengapa? Karena sangat tidak efektif. Kita harus mengirim ratusan lamaran untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Dalam persentase, keberhasilan kita maksimal 10%. (Sekali lagi, ini adalah STATISTIK di  AS. Dan ia tidak mengharamkan kita melakukannya, tapi Bolles mengingatkan bahwa cara ini kurang efektif).

And The most effective way is….. (drum.. drummm…. druuummmmm: bunyi genderang)

Talk to the boss. Kita lebih baik langsung berbicara pada pengambil kebijakan. Orang yang memiliki power to hire you. Tunjukkan kalau kita capable dan bisa menjadi solusi perusahaan. Kita mungkin berkata: “Loh itu kan nanti pada fase wawancara..”. Itulah kecerdasan saran Bolles, kita harus memotong jalur sehingga kita tidak dianggap sebagai tumpukan file di meja personalia.

Next question: bagaimana caranya kita bisa melakukan shortcut langsung talk to the boss???

What Should I Do

Buat list perusahaan yang ingin kita tempati. Buatlah top-10. Lalu mulailah mencari! Mencari informasi sebanyak-banyaknya. Carilah bagaimana sistem kerjanya, suasana kerja, dan terutama: sistem personalia. Cari informasi siapa pengambil kebijakan disana, kapan mereka melakukan recruitment, apa kriteria pekerja, dan bagaimana cara untuk bekerja disana.

Temukan contact. Contact adalah orang yang bisa kita akses secara personal. Orang yang menjadi sumber informasi kita. Orang yang bersedia membantu kita. Caranya? Selain lewat co-contact (temannya teman kita, cth: kita punya teman yang memiliki kenalan dan kebetulan bekerja di perusahaan target kita), atau bisa silaturahmi langsung.

Kita cukup datang kesana dan bercakap-cakap. Dalam buku itu dijelaskan tiga teknik memulai pembicaraan dengan tujuan berbeda. PIE. Pleasure, Information, dan Employment. Ketika datang pertama kali, terapkan teknik berbicara pleasure, lalu masuklah ke teknik information, ketika cukup mulailah teknik employment, sebelum ditutup lagi dengan pleasure. (Bagi yang ingin tahu teknik PIE, lebih baik baca bukunya langsung)

Dengan contact dan personal relationship inilah, kemungkinan kita diterima bisa naik menjadi 80%!!!

Intinya: jika menggunakan metode “konvensional” (job fair, cv, dan iklan) kita seperti menembak dengan senapan mesin. Brutal. Banyak mengeluarkan peluru. Tapi belum tentu kena sasaran.

Jika kita menggunakan metode “talk to the boss”, kita seperti menggunakan sniper. Sasaran sempit. Terukur. Tapi memerlukan kesabaran. Dan waktu.

Oleh karena itu, disarankan untuk “berancang-ancang” sejak di bangku kuliah. Tapi tak ada salahnya mulai sekarang kita menggunakan dua metode diatas.

Selanjutnya Apa?

Dalam hidup, saya selalu mengikuti anjuran Danzel Washington (selain Nabi dan dokter) dalam film The Great Debaters: “Do what you can do, so you can do what you want to do”. Intinya: lakukan apa yang bisa kita lakukan. Jika kita merasa kesusahan melaksanakan saran diatas, kita bisa melakukan saran selanjutnya:

Katakan pada dunia. Beritahu keluarga kita, pacar, teman, dosen, pak RT, RW, Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, Presiden, sampai Tuhan! Berikan informasi bahwa kita sedang mencari kerja. Ini penting karena informasi dari orang lain akan sangat membantu. Bisa informasi lowongan, atau co-contact.

Perkecil. Seorang sarjana fresh graduate biasanya masih menganggap dunia kerja adalah dunia eksekutif bergaji mapan dan nyaman. Mereka belum melihat kenyataan bahwa diperlukan penderitaan untuk mendapatkan kesuksesan. Mereka biasanya merasa “alergi” dan malu untuk mendaftar ke perusahaan kecil yang tampaknya kurang high profile. Padahal belum tentu. Justru dengan skala perusahaan yang kecil, kita bisa menjadi bagian kesuksesan pertumbuhan perusahaan. Jika kita masih belum mendapat pekerjaan, tak ada salahnya melamar pada perusahaan kecil.

Perluas. Sebagain pencari kerja tidak ingin menjadi manusia diaspora. Mereka menolak untuk hijrah. Lahir di Jawa, besar di Jawa, kuliah di Jawa, kerja ya harus di Jawa. Padahal dunia ini luas bung. Masih ada Somalia, Uganda, dan Angola… hehe maksud saya sebaiknya kita memperluas scope pekerjaan dengan “bersedia ditempatkan dimana saja asal bukan di neraka”.

Apa Yang Terjadi Jika Saya Menganggur?

Kerusakan terbesar dari pengangguran bukan masalah fisik. Artinya, untuk makan sehari-hari dan menyambung hidup kita rata-rata masih memiliki keluarga yang dengan suka rela memberikan kulkasnya untuk dirampok. Bahaya terbesar menjadi seorang pengangguran adalah rusaknya citra diri. Perasaan merasa gagal, tak berguna, dan menjadi sampah masyarakat selalu menghantui.

Tak adanya kesibukan juga secara ilmiah berkorelasi dengan tindakan kriminal dan aktivitas seksual. Sebuah studi pasca krisis moneter 1998 mencatat lonjakan penjualan kondom. Belum lagi jika ada provokator yang mencoba menyalahkan sistem. Penganggur adalah kelas sosial yang sangat rawan untuk dimobilisasi dan diprovokasi.

Apa Yang Harus Saya Lakukan Jika Saya Masih Menganggur???

Jika sudah benar-benar buntu, dalam buku ini dijelaskan “jurus terakhir”: sebaiknya kita menghubungi dinas sosial terdekat untuk mendapatkan santunan… Tapi karena dinas sosial Indonesia ga jelas kerjanya selain menangkap gelandangan dan pengemis, masih ada jurus lain:

Kerja sosial. Entah kita menjadi guru mengaji, atau menjadi penyuluh HIV di lokalisasi. Yang penting cari kesibukan. Lakukan apapun yang membuat kita bermakna bagi sesama. Hal ini akan menaikkan kepercayaan diri serta bisa menambah koneksi. Selain itu, menjadi amal ladang pahala tentunya.

Upgrade. Tak ada salahnya sekolah lagi. Melanjutkan S-2 mungkin. Atau hanya kursus-kursus singkat. Bahasa Mandarin, penguasaan komputer, sampai memasak halal untuk dipelajari. Bukan tak mungkin dari kursus muncul bakat terpendam yang selama ini kita pendam dalam-dalam…

Usaha mandiri. Ada banyak program wirausaha dengan modal hibah akhir-akhir ini. Cukup dengan proposal dan ide, kita bisa mendapatkan kredit (meskipun kredit mikro). Justru kita bisa mengikuti jejak banyak pengusaha sukses yang memulai dengan bisnis “ecek-ecek”. Kita pasti sudah tahu banyak masalah ini.

Last Word

Saya selalu teringat pesan nabi. Sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi sesama. Kita tak akan menganggur jika kita bisa menjadi manusia berguna. Problem sistemik pengangguran di Indonesia, selain sempitnya lapangan pekerjaan adalah kualitas perguruan tinggi itu sendiri yang tidak siap kerja.

Pendidikan tinggi kita memang dirancang untuk tidak siap kerja. Tapi siap latih. Oleh karena itu kembali lagi ke pribadi masing-masing untuk berlomba memiliki kemampuan plus. Bahkan majalah SWA pernah menurunkan tulisan tentang bajak-membajak dalam dunia eksekutif. Alasannya sederhana: kekurangan eksekutif yang mumpuni!!!.

Sebagai teman saya hanya bisa sharing sedikit ilmu yang saya tahu. Selanjutnya? Yakinlah Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita semua. Tak ada penciptaan yang sia-sia dalam semesta…

Teruslah berusaha, kawan!!!

Buku ini saya temukan di UPT UGM (Gedung Swaragama). Saya membaca edisi 1995. Honestly, saya seperti membaca novel! Buku ini penuh dengan syair, puisi, karikatur, dan data-data yang menarik. Sangat-sangat highly recommended bagi job seeker. Saya tak tahu apakah tersedia edisi bahasa Indonesia atau tidak.


Responses

  1. tulisannya keren, saya udah share kemana2 lewat twitter saya🙂

  2. wow cool. emang bener ya kita harus potong jalur, kalo di sini ada tips yang namanya interview the interviewer. btw, nice writing!

  3. Social comments and analytics for this post…

    This post was mentioned on Twitter by ilmanakbar: tulisan keren. Tiga Dosa Pencari Kerja: ikutan job fair, ngirim CV, & ngelamar krn lowongan. http://bit.ly/8YmTSk

  4. mending baca bukunya langsung bro

  5. wah ntar saya follow deh

  6. hai, yoga.

    saya yendi. nice writing! minta ijin menyebar ya. thanks.

  7. yoa

  8. inspiring, semangat yog! nikmati aja masa-masa dapat bebas dari kerjaan. Plg setuju sama upgrade diri!

  9. hahahha


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: