Posted by: Yoga PS | 20 January 2010

Belajar Menulis (Lagi)

Pagi yang cerah. Saya sedang menikmati ritual setiap pagi: membaca koran. Tiba-tiba orang tua bertanya, “Skripsimu gimana?”. Kontan ada kuliah subuh di saat dhuha. Bahkan Ibu mengkorelasikan ketidakjelasan kelulusan dimana pada ujungnya berdampak signifikan terhadap masa depan dengan tingkat konfidensi 90% disertai uji validitas dan reabilitas yang tidak kutahu darimana tesisnya.

Sepertinya Tuhan menyuruh saya menulis skripsi. Bisnis yang saya bela-belain sampai “cuti” dari kampus hampir collapse. Meninggalkan hutang. Dan tampaknya saya harus menggadaikan diri di bursa kerja. Menjadi profesional bahasa kerennya. Tapi menurutku tetep aja kacung. Bekerja untuk pemodal. Biar jabatannya direktur, CEO, manager. Jika ia tidak memiliki faktor produksi (modal/saham), ia tetap saja buruh.

Lalu mulailah saya bertapa. Mengunjungi perpustakaan kota. Mencoba mencari buku cara-cara menulis. Logika saya sederhana: saya harus menulis skripsi, jadi saya baca saja buku tentang penulisan skripsi. Seperti orang yang sakit kepala dan mencari obat sakit kepala. Tapi dasar, malah baca buku tentang penulisan umum.

Saya mendapat beberapa buku:

Buku Penuntun Membuat Tesis, Skripsi, Disertasi, dan Makalah. Nasution S dan M. Thomas. 2002. Jakarta: Bumi Aksara (buset ni buku terbit pertama tahun 84!!! Ditulis oleh duo virgin.. eh duo profesor pendidikan lho)

Panduan Menulis Untuk Mahasiswa & Pelajar. Phyllis Creme, Mary R Lea. 2008. Jakarta: PT Indeks (Judulnya aja sudah kaya peta)

Piawai Menembus Jurnal Terakreditasi. Wahyu Wibowo. 2008. Jakarta: Bumi Aksara (saya ga butuh nembus jurnal pak, karena udah pake sayap samping anti tembus. Kalo nembus togel, boleh dah)

Sukses Menulis Buku Ajar dan Referensi. Syamsul Arifin dan Adi Kursuno. 2009. Jakarta: Grasindo (Ambisi saya untuk menulis buku ekonomi bisnis rasa sastra. Buku ajar yang kurang ajar)

Mengarang Itu Gampang. Arswendo Atmowiloto. 2004. Jakarta: Gramedia (Tidak mengarang lebih gampang)

Asyiknya Menulis Cerita. Cella Warren. 2008. Solo: Tiga Serangkai (Apalagi cerita porno)

Asyiknya Menulis Surat dan email. Cella Warren. 2008. Solo: Tiga Serangkai (Hari gini nulis surat???)

Asyiknya Menulis Laporan. Anne Faundez. 2008. Solo: Tiga Serangkai (Lapor bos!)

Asyiknya Menulis Lagi. Wes Magee. 2008. Solo: Tiga Serangkai (Kayaknya ni penerbit kehabisan judul)

Asyiknya Tidak Menulis Skripsi. Yoga PS. 2010. New York: Kantong  ngePress (BARU)

Setelah berjam-jam dan berhari-hari membaca, akhirnya saya dapatkan intisari tumpukan buku diatas…

Menulis = Memasak

Yups bener banget. Menulis itu hampir sama dengan memasak. Kita punya bahan, kita masak, lalu kita makan. Jadi kalau ada yang merasa tulisannya jelek (termasuk saya), maka penyebabnya hanya dua: bahannya kurang, atau cara masaknya ga bener.

Bahan bisa berarti bacaan, data, kutipan, pengalaman, pemikiran, dsb. Intinya  “something to give” untuk pembaca kita yang tercinta. Anda tidak dapat membuat nasi goreng tanpa nasi yang akan digoreng.

Bagaimana dengan cara memasak? Ternyata ada dua pendekatan. Cara pertama saya sebut “jalan yang lurus”. Pendekatan ini adalah pendekatan formal, logis, ortodoks. Cocok bagi tulisan ilmiah. Anda harus membuat urutan yang jelas. Ada ide utama, ada ide pendukung. Ada kerangka. Ada logika yang sistematis. Ada urutan alur. Ada data penunjang hipotesa. Yah pokoknya “mengikuti metode penulisan yang baik dan benar”.

Saya lebih suka cara kedua. Metode sakarepku (semau gue). Metode ini adalah anti-metode. Bebas. Ga ngurus grammar, sistematika, bahkan isi. Yang penting tulis aja. Ngalir. Bebaskan apa yang ada dikepala. Jangan dikekang. Tak ada tulisan yang buruk, yang buruk adalah ketika kita tidak menulis.

Membuat nasi goreng ga harus selalu urut masukin bawang, telur, nasi, garam, kecap dan saos. Ga dosa koq kalo nasinya masukin dulu. Ga pake telur. Ato dikasi wortel. Biar sedap kasi daging onta. Ditambahin tai kebo juga no problem. Suka-suka aja. Sesuai selera.

“Saya masih bingung kenapa saya bingung. Saya juga tidak mengerti mengapa saya tidak mengerti. Tapi sekarang saya tahu kalau saya tidak tahu”

Yoga’s Rule of The Writer (Tiga Hukum bagi Penulis menurut Yoga)

  1. Tulis apa yang ingin anda tulis.
  2. Tulis apa yang bisa anda tulis.
  3. Tulislah mulai sekarang juga! Apa saja!

Kelemahan penulis (pemula) menurut Creme adalah “…kurang percaya diri dan merasa tidak memiliki apa pun untuk dituangkan dalam bentuk tulisan.” (hal 39).

Tulisan yang baik bukanlah hasil, tapi sebuah proses. Semua penulis besar tidak langsung “bisa menulis”. Ada kesalahan. Ada pembelajaran. Yang penting terus melakukan percobaan. Sehingga seperti pisau, yang perlu kita lakukan hanyalah mengasahnya. Terus menggosokkan pisau ke batu asah.

Kalau menurut Arswendo Atmowiloto, yang penting kita punya minat, ambisi, dan percaya diri.

Last, Dosa-dosa Tulisan Mahasiswa

-Beberapa mahasiswa cenderung mengkopi dan bukan mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran mereka dalam tulisan

-Mahasiswa memiliki masalah karena mereka tidak selektif dan tidak mengetahui apa yang merupakan informasi mendasar. Sehingga tulisan mereka cenderung terlalu banyak uraian daripada pengembangan argumen yang terstruktur. Juga, mereka seringkali kurang paham keterkaitan antara teori dan bukti

-Banyak mahasiswa mengalami kesulitan menetapkan sesuatu, membuat argumen, dan menyimpulkan.

Dosa terbesar: Banyak Mahasiswa yang tidak menulis!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: