Posted by: Yoga PS | 20 January 2010

Penjara

Indonesia lahir dari penjara. Di Banceuy, Jawa Barat. Oleh seorang pemuda yang sedang duduk menulis diatas kaleng tempat kotoran. Berkawankan ruangan 1.5 x 2.5 meter, dan setumpuk buku, ia mulai menulis masa depan. Takdir yang ditetapkan Tuhan kepada bangsa dan negaranya. Dari penjara lahir gagasan tentang nation state. Landasan Indonesia. Pemuda itu, Soekarno, menulis salah satu pembelaan terbaik sepanjang sejarah: Indonesia Menggugat. Didalam penjara.

Dibantu istrinya Inggit, yang tekun menyelundupkan buku lewat stagen. Ia mulai menjebol pintu, merusak terali, dan menghancurkan tembok. Dengan ide. Dari penjara pikirannya mendunia. Penjara bisa memasung raganya, tapi takkan pernah mampu menahan cita-citanya yang telah melanglang buana. Penjara takkan mampu menahan ketetapan Sang Pencipta: bangsa Indonesia akan merdeka.

Penjara mengajaknya bercanda. Berkenalan dengan Marx, membaca Sun Yat Sen, mengutip Albarda, meresume karya Snouck Hugronje. Tak kurang ada sekira 66 nama tokoh yang dikutip Soekarno. Sebut saja Anton Menger, August de Wit, Bauer, Boeke, Brailsford, Brooshooft, Clive Day, Colenbrander, Daan van der Zee, de Kat Angelino, Dietrich Schafer, Dijkstra, Duys, Engels, Erskin Childres, Federik Peter Godfried, FG Waller, Gonggijp, Henriette Roland Holsts, Herbert Spencer, HG Wells, Houshofer, Huender, Jaures, John Robert Seeley, dan Jozef Mazzini.

Ada juga Jules Harmand, Karl Kautsky, Karl Renner, Kilestra, Koch, Kraemer, Lievegoed, Mac Swiney, Manuel Quezon, Michael Davitt, Multatuli, Mustafa Kamil, Parvus, Peter Maszlow, Pieter Veth, Raffles, Reinhard, Rouffaer, Rudolf Hilferding, Sandberg, Sarojini Naidu, Schrieke, Scmalhausen, Sister Nivedita, Sneevliet, Stokvis, Treub, Troelstra, van den Bergh van Eysinga, van Gelderen, van Heldingen, van Kol, van Lith, dan Vleming*.

”Saya mencari consolation, hiburan hidup dari buku-buku. Saya membaca buku-buku. Saya meninggalkan alam ini, alam jasmaniah. Saya punya pikiran, saya punya mind terbang, meninggalkan alam kemiskinan ini, masuk di dalam ”world of the mind”; berjumpa dengan orang-orang besar, dan bicara dengan orang-orang besar, bertukar pikiran dengan orang-orang besar”. Kata Soekarno.

Perenungan

Manusia besar selalu menempuh jalan sunyi. Asketis. Sebuah fase dimana seseorang terdampar dalam “goa pertapaan”. Menempa kepribadian, mengasah ketajaman batin dan intelektual. Sebuah bentuk mesu budi, kata sejarawan Sartono Kartodirdjo. Fase ini adalah fase kepompong. Saat ulat membungkus dirinya untuk mempersiapkan diri menjadi kupu-kupu yang indah.

Asketisme, menurut Indra Tranggono, dapat dipahami sebagai kawah candradimuka seorang manusia untuk menggodok cita-cita sosialnya menjadi idealisme, sikapnya menjadi integritas, keprihatinan sosialnya menjadi komitmen, dan potensi serta talentanya menjadi kemampuan. Dengan idealisme, integritas, komitmen, dan kemampuan inilah ia mampu ‘tampil’ untuk memimpin perubahan sosial.

Penjara adalah guru penderitaan. Seseorang yang dipenjara, berarti melepaskan statusnya sebagai manusia yang merdeka. Bebas. Tidak bisa bepergian. Tidak bisa bertemu dengan orang lain. Diharapkan dari penjara itu seseorang diharapkan melakukan introspeksi. Merenung. Atas apa yang telah, sedang, dan akan ia lakukan.

Penjara juga berfungsi sebagai penjera. Biar kapok. Tidak mengulangi perbuatannya. Sebuah pendekatan behavioralist dengan memberikan stimulus respon negatif. Sarana punishment. Sama seperti Tuhan yang menciptakan neraka agar manusia tidak berbuat dosa.

Indonesia Hancur dari Penjara

Melihat sidak satgas pemberantasan mafia hukum pada hari Minggu malam 10 Januari 2010, kehancuran Indonesia bukan tidak mungkin “lahir” dari penjara. Lihatlah bagaimana hunian seorang koruptor yang dilengkapi perabotan lengkap bak hotel. Mulai televisi, kulkas, AC, stereo system, sampai perawatan kecantikan!.

Bagaimana mungkin Indonesia bisa hancur? Kita pakai sedikit imajinasi. Dengan kemewahan yang didapatkan seorang penjahat, berarti sistem hukum itu telah dikuasai koruptor. Ini juga menjadi insentif bagi mereka yang ingin melakukan korupsi. Tak ada efek jera. Toh penjara tak beda dengan surga. Efek dominonya adalah tak ada ketakutan untuk terus melakukan korupsi.

Karena terus korupsi, dan aparat penegaknya bisa dibeli, maka kepastian hukum rendah. Kepastian hukum rendah membuat pengusaha dan investor berpikir-pikir karena banyaknya pungli, daya saing bisnis amburadul terbentur high cost economies, belum lagi proyek infrastruktur yang menjadi tambang emas korupsi membuat pengerjaannya asal-asalan, ujung-ujungnya perekonomian menjadi tidak sehat karena terjadi ekonomi nepotisme. Hanya mereka yang dekat dengan penguasa yang bisa berjaya.

Lalu bersiaplah dihajar ronde perdagangan bebas dunia. Akan banyak pengusaha gulung tikar jika menghadapi regulasi penuh korupsi. Pengangguran meningkat. Pendapatan rendah. Ditambah frustasi karena dimarjinalkan dan dianggap lemah dimata hukum. Jika ini terjadi, maka kekacauan sosial sudah didepan mata.

Tentu ini hanya imajinasi liar saya. Dan semoga tidak terjadi. Tapi disaat masyarakat awam menganggap penjara adalah tempat yang menyeramkan sehingga tidak ada yang bersedia berada disana, mengapa yang terjadi justru sebaliknya?

Jika semua penjara seperti sel Artalyta, saya yakin semua orang berlomba-lomba untuk dipenjara.

Jika Soekarno ditempatkan di sel yang dihuni Artalyta, saya tak yakin Indonesia bisa merdeka.

*Soekarno, Hiburanku di buku-buku (Muhidin M Dahlan). Saya membaca artikel ini di koran Jawa Pos, tapi ketika saya cari2 ternyata sudah diloakkan. Saya menemukannya di www.indonesiabuku.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: