Posted by: Yoga PS | 23 January 2010

Odong-Odong

Bersama surat ini kusampaikan salam kepadamu, Abang penarik* odong-odong. Surat sederhana dengan penuh cinta.

Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada abang penarik odong-odong. Berkat Anda, anak-anak di kampung saya bisa belajar menjadi anak-anak lagi. Saya memang tak kenal Anda, dan Anda tak kenal saya. Tapi saya tahu Anda lewat di depan rumah bapak saya setiap jam 9 pagi. Membawa keceriaan di dalam odong-odong berwarna-warni.

Saya sebenarnya ingin memakai jasa Anda. Menaiki odong-odong. Kereta mobil-mobilan. Naik turun mengikuti irama lagu. Disertai nafasmu yang memburu. Tapi saya yakin, odong-odong Anda belum diasuransikan. Terlalu berisiko jika dinaiki seekor gajah dengan berat 115 kg. Saya juga kasihan, karena tetangga pasti akan membicarakan bapak saya yang anaknya mulai gila karena terobsesi pada odong-odong.

Komentar2 tetangga mulai membanjir dikepala:

“Maaamaaaa ada Goriillaaaaaaaaaaa…”

“Pasti karena terlalu banyak membaca filsafat eksistensialis… seharusnya aliran nihilis aja”

“Wah ini nih gara2 bankrut. Mending minum baygon Mas”

“Nak… jangan ditiru ya. Nanti kamu kuliah yang bener, terus cari kerja, terus nikah, terus punya anak, terus punya cucu, terus pensiun, terus tua, terus terang Philips terang terus”

Aku Pilih Dia

Jika di kabinet Indonesia bersatu jilid II ada menteri khusus urusan anak, maka saya akan memilih Anda abang odong-odong. Setidaknya Anda bisa menjadi wakil Kak Komo yang menciptakan si Seto. Jika tidak ada dan Anda belum terpilih, ya sudah… Pilih saja saya nanti di 2039. Itu jika Anda masih hidup. Tapi saya harus jujur, saya kagum pada Anda, penarik odong-odong.

Anda mampu, membuat anak-anak kembali menjadi anak-anak. Makhluk murni yang diciptakan Tuhan untuk memurnikan kehidupan. Lewat gerobak Anda, dilengkapi empat mobil-mobilan warna-warni biru-kuning yang bisa bergerak naik turun, diiringi lagu-lagu ANAK, dan genjotan sederhana, Anda mencoba mengajarkan keindahan. Dalam kesederhanaan.

Anak-anak di kampung saya mulai mengenal lagi pelangi, hujan, gembala, dan burung kakak tua. Sebuah pengenalan akan kebesaran Tuhan dalam syair sederhana. Karena sesungguhnya keindahan hadir dalam kesederhanaan. Lagu yang mengajarkan cinta pada kemanusiaan, alam, dan akan berujung pada eksistensi ultima yang merupakan causa prima: Tuhan.

Tidak seperti anak-anak dalam ajang pencarian bakat “Idola Licik” atau “Kids n Song” yang belajar kehidupan lewat cinta antara laki-laki hidung belang dan perempuan yang gemar patah hati. Atau asmara yang bertepuk sebelah tangan. Anak-anak “gaul” ini mengenal kemanusiaan dari syair puisi yang ditulis dua sejoli. Hasilnya adalah mental-mental melankolis yang hanya bisa meratapi cinta. Mengeluh. Mengadu dalam gaduh. Apa yang bisa diharapkan dari anak Es-De yang sudah pintar bernyanyi, “Akuuuuu Pilihhhhhh Dia..???” Saya tidak melarang. Tapi coba pikirkan “dampak sistemiknya” (istilah yang lagi nge-trend).

Sex @ 13

Anak belajar lewat meniru. Karena pada fase ini, perkembangan kognisi, afeksi, dan psikomotorik belum memungkinkan melakukan pertimbangan keputusan dalam tindakan. Secara sederhana: belum sadar. Oleh karena itu anak tidak bisa dipidana, dan tak wajib melakukan ibadah dalam agama.

Ketika anak-anak meniru apa yang ia lihat di “tipi”, maka dunia anak yang identik dengan keceriaan, permainan, persahabatan, pengenalan kepada alam dan kehidupan telah sirna. Anak kita seolah mengalami “akselerasi kedewasaan”. Belum puber tapi sudah mengenal kata cinta (c huruf kecil), pacar, sayang, dan hubungan dengan lawan jenis.

Saya belum tahu multiplier effect lanjutan. Tulisan ini bukan tulisan ilmiah. Tapi mungkin survey yang pernah ditayangkan Oprah Winfrey Show soal hubungan seks di kalangan remaja AS bisa terjadi disini. Survey itu menyebutkan umur berapa seorang remaja melakukan hubungan seks untuk pertama kali. Coba tebak jawabannya? 13 tahun!!!! Setara dengan kelas 6 SD!!!

Setiap melihat acara “dIdol” (not idol. ‘Didol’ adalah bahasa jawa= dijual, karena saya melihat aspek komersial lebih kuat daripada aspek pencarian bakatnya) itu saya selalu berdoa. Semoga Anda, abang penarik odong-odong, bisa menggantikan music producer acara itu.

Anda akan mengganti lagu cinta yang sempit menjadi Cinta yang luas. Universal. Anda akan mengubah irama yang mendayu-dayu menjadi ceria. Syair yang rumit menjadi sederhana. Kesedihan karena diputus cinta menjadi harapan akan masa depan. Dan yang paling penting, engkau ajarkan lagu tentang kehidupan.

Terima kasih, abang penarik Odong-odong.

*buat para lingua mania (pecinta bahasa): saya bingung harus menggunakan kata apa. Saya memakai “penarik” karena mengqiyaskan dengan penarik becak. Padahal kita tahu, becak dan odong2 tidak ditarik tapi digenjot pedalnya. Apakah kita harus menggunakan kata “penggenjot”???


Responses

  1. I was deeply impressed on The Yoga’s honesty to view the existence of ‘odong-odong’ just the way it is without any vested interest at all…

    I can say, ‘telling the truth may be the only interest for Yoga to share his perspectives.
    To this typical writer, being considered as unique, out of the BOX, and provocative person, is not the big matter as long as s/he can pursuit her/his freedom and independency to speak his mind and feeling, both of AQL and QALB.
    This is not just an intelectual masturbation but has fulfilled the earth’s most beautiful dream.
    Truly enlighted…

  2. wow you makes me fly…

  3. not me, but you did
    laiknya para darwis yang kasyaf dalam tarian Rumi….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: