Posted by: Yoga PS | 25 January 2010

Hening

“Tuhan, dengarkan doa kami..” tak ada nada menyalahkan dalam suaranya, tidak juga doanya. Tapi akhirnya sang pastor kalah oleh nasib. Ia mati tenggelam. Padre Garrpe. Mencoba melawan ketika menyaksikan umatnya disiksa dengan sangat pelan. Tapi juga kejam. Tiga orang itu. Ikitsukijima, Chokichi, dan Haru. Mereka diikat dalam tikar. Seperti roti gulung. Lalu dibawa ke tengah lautan. Untuk ditendang. Untuk tenggelam. Untuk itulah Garrpe melawan.

“Vitam praesta puram, iter para tutum”. Kawannya, Padre Rodrigues mencoba mengucapkan Ave Maris Stella, namun yang keluar bukan kalimat-kalimat doa itu. Yang keluar justru keheningan. Diam. Seperti Tuhan yang hanya menyaksikan pertunjukan penyiksaan.

Untuk apa kita melakukan semua ini? Batin Rodrigues mulai berkecamuk. Mengapa ia harus meninggalkan kehidupan sucinya di Lisbon hanya untuk mengalami penderitaan? Mengapa Tuhan menyiksa hambanya dalam keheningan? Mungkin siksaan ini yang membuat gurunya, Padre Ferreire kalah. Ia murtad.

Kabar murtadnya sang gurulah yang membuat ia dan Garrpe menyelundup ke Makau. Lalu menumpang kapal dagang Belanda. Menuju Jepang. Diperjalanan ia bertemu Kochijiro. Seorang Jepang yang semula ia kira dewa penolong. Tapi seperti Yudas, ia berkhianat. Kochijiro menjual pastor itu untuk 300 keping perak.

Apa yang telah dilakukan Inoue, sang magistrat sehingga gurunya murtad? Rodrigues semula beranggapan Inoue, adalah seorang samurai bengis yang kejam. Begitu kagetnya ia ketika melihat lelaki tua yang ramah dan tampak rapuh itu. Bagaimana mungkin orang ini membuat para pastor murtad satu demi satu?

Apalagi dalam penjara, sama sekali tak ada siksaan. Bahkan ia bisa bercanda dengan penjaga dan penerjemah. Makan teratur. Bisa menerima pengakuan dosa. Mendapatkan baju yang hangat. Saat interogasipun, Inoue sang magistrat hanya bertanya “apa itu kasih sayang”, dan “Jepang takkan cocok dengan Kristen”. Tak ada kekerasan. Hanya perdebatan dan pertanyaan.

Baru sadarlah Rodrigues, ini semua hanyalah taktik. Seperti ular yang mendesis pelan, untuk kemudian memancarkan bisa. Ia kemudian dipindahkan ke Isahaya. Dimana ia menyaksikan umatnya disiksa dengan pelan.

Penyiksaan dalam keheningan. Domba-domba yang malang. Tubuhnya dibalik. Diikat dan digantung. Untuk kemudian disayat telinganya. Dan darah menetes. Setetes demi setetes. Tidak berbunyi. Tapi terus menyayat hati.

“Kristus pun akan menyerah jika melihat umatnya disiksa seperti ini…” Ferreira, pastor murtad itu membujuk Rodrigues. Dan malam itu, sebelum ayam berkokok, sesuai prediksi Inoue, Rodrigues menyerah. Kalah. Ia murtad. Ia menginjak fumie kayu bergambar wajah yang dipuja dalam doanya selama ini.

Shusaku Endo, penulis novel Silence (Hening) mencoba menjawab pertanyaan sederhana, “Mengapa Tuhan diam?”. Cerita bersetting abad 17 di Jepang. Zaman ketika keyakinan bisa menjadi pembawa kematian. Novel yang telah saya baca dua kali, dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Tapi tetap membuatku terpesona, dan terus bertanya.

Diam

Pertanyaan yang sering menggelitikku. “Mengapa Tuhan diam?” melihat begitu banyak ketidakadilan yang ada di dunia. Melihat orang-orang shaleh yang terus mendapat cobaan berat, sementara mereka yang tak percaya kepada-Nya, seperti mendapat dunia beserta isinya.

Bagi yang tak sabar, dan tak sadar, keheningan Tuhan menciptakan ketidakpercayaan. D.N Aidit sang tokoh komunis ternyata pernah khatam Al-Quran. Seperti diceritakan Sobron Aidit dalam “Surat Kepada Tuhan” (Grasindo.2002). Aidit kecil adalah anak yang dibesarkan dengan agama yang kuat. Rajin mengaji, dan selalu sholat. Bahkan ada selamatan khataman untuk merayakan dan mendoakan anak yang kemudian murtad dimasa depan.

Keheningan Tuhan pula yang mendorong Karl Marx menulis “agama adalah candu”. Karena membuat manusia tidak percaya pada kemampuannya sendiri. Tesis Marx, membuat seorang calon pastor muda mengubah Rusia. Soso, dikeluarkan dari Tylis Theological Seminary karena mendirikan “Masame Dasi”. Perkumpulan patriotik dan sosialis.

Calon pastor murtad yang menyembunyikan dua buku favoritnya di pohon apel. War and Peace karya Tolstoy, dan Das Kapital milik Marx. Sang atheis itu, Josep V Dzhugashvili atau yang kita kenal Joseph Stalin, mencoba mengubah dunia karena “jengkel” dengan keheningan Tuhan.

Tuhan TIdak Diam

Saya menemukan ide menarik dalam teori deisme Eduard Herbert. Tuhan sebagai pembuat jam. Deus ex machina. Tuhan menciptakan alam, dan ia menciptakan mekanisme-mekanisme yang telah ditentukan. Sunnatullah. Hukum-hukum alam yang baku dan standar. Apel pasti jatuh ke bawah. Jika ingin pintar ya belajar. Kalau ingin sukses ya berusaha.

Tapi saya juga percaya. Tuhan memiliki mekanisme-Nya sendiri. Yang takkan pernah kita mengerti. Kita takkan pernah tahu apa yang dipikirkan Tuhan. Karena Tuhan memang tak bisa dipikirkan. Kita tak bisa berbicara dengan Tuhan. Berkomunikasi “langsung” dengan-Nya. Dan melakukan apa yang dilakukan sesama manusia. Karena Ia berbeda dari kita.

Kita sering terjebak pada antromorphisme. Menganggap sesuatu seperti manusia. Kita menganggap Tuhan seperti zat yang bisa diajak bercakap-cakap untuk mengabulkan segala permohonan kita. Kita juga mengharapkan “solusi instant”. Ada makanan turun dari langit. Penyakit langsung sembuh. Penjahat perang langsung terkena azab. Dan segala mukjizat lainnya. Ketika doa instant kita tak terkabul, kita menyalahkan Tuhan yang kita anggap “diam”.

Padahal, Tuhan menggariskan mekanisme yang telah baku: Ia hadir dalam takdir. Bersembunyi dalam tabir. Tapi sesungguhnya sedekat titik nadir. Ia telah menetapkan apa yang harus ditetapkan. Memberikan apa yang harus diberikan. Mengambil apa yang harus diambil. Membuka apa yang harus dibuka. Menutup apa yang harus ditutup.

Sebagai manusia, kita hanya bisa melakukan empat (4) hal: percaya, berdoa, berusaha, dan menerima. Percaya bahwa ada zat pencipta semesta (dalam agama saya, masih ada 5 hal lagi yang harus dipercayai), Berdoa agar kita selalu bertakwa kepada-Nya (sesuai agama dan kepercayaan masing-masing). Berusaha sebagai manusia sekuat yang kita bisa. Dan menerima apa saja yang Tuhan berikan.

Seperti penghiburan Rodrigues. Disaat ia sudah tua dan masih secara sembunyi-sembunyi menerima pengakuan dosa. “Sekarang aku pastor terakhir di negeri ini. Tetapi Tuhan kita tidak bungkam. Andai pun ia bungkam selama ini, kehidupanku sampai hari ini sudah cukup berbicara tentang Dia”.

Dalam agama saya, Tuhan terakhir kali “berkomunikasi” dengan manusia lewat Nabi Muhammad SAW, 14 abad yang lalu. Setelah itu, Tuhan “diam”.

Hening.


Responses

  1. Dalam agama saya, Tuhan terakhir kali “berkomunikasi” dengan manusia lewat Nabi Muhammad SAW, 14 abad yang lalu. Setelah itu, Tuhan “diam”.

    apa iya?

  2. lha ga pernah ngomong lagi sih hehehehhe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: