Posted by: Yoga PS | 31 January 2010

Tentang Tetangga Buta yang Melihat Tuhan

(Ijinkan saya bercerita tentang tetangga saya. Yang luar biasa. Yang saya doakan masuk surga)

Dan ia adalah pria yang jatuh cinta pada subuh. Subuh yang teduh. Subuh yang dihiasi awan keruh. Subuh yang menutupi matanya dari cahaya. Tapi membanjiri jiwanya dengan cinta. Lelaki itu, Pak Harun, tetangga saya, selalu menjadi orang pertama yang bangun saat dini hari. Lelaki buta yang karena cintanya pada Musholla, rela tidur disana.

Badannya kurus. Kering. Ringkih. Bapak 2 anak dan 2 istri yang harus kehilangan penglihatannya sejak 2007. Katarak. Tapi tampaknya Tuhan tak menghukumnya. Ia merasa tak dihukum. Justru ia bersyukur. Terus bertafakur. Mengingatkan saya yang sering takabur.

Andai saja engkau melihat perjuangan tetanggaku ini, Kawan. Kau pasti akan sadar beratnya menapaki jalan ke surga. Berjalan setapak demi setapak. Selangkah demi selangkah. Meraba-raba. Mencari cahaya. Perjalanan 200 meter ke rumah Tuhan. Dari tempat tinggalnya yang sederhana. Memenuhi panggilan Tuhan. Dengan keriangan dan keikhlasan.

Melihat ia berjalan, maka saya berani bertaruh pasti ada malaikat yang membimbingnya. Membukakan jalannya, membersihkan debunya, menunjukkan arahnya. Meninggalkan perasaan malu dan bersalah bagi saya yang bisa pergi ke musholla dengan mudah. Tapi tetap saja tak melangkah.

Jika adzan dzuhur dikumandangkan Pk.12.00, maka ia sudah berangkat Pk.11.30. Setengah jam menuju Tuhan. Untuk jarak 200 meter. Dan ia tak mengeluh. Meski berpeluh. Ia akan berada di Musholla sampai sore. Pulang untuk makan. Kembali lagi saat maghrib. Tinggal sampai esok hari jam 7 pagi. Untuk mengulang sehari lagi.

Posisinya ketika sholat berjamaah selalu tetap. Baris paling pojok kiri. Mepet tembok. Biasanya shaf no 2. Kecuali jika ada orang yang menariknya untuk maju. Jika tak ada, ia akan stand by di shaf no 2 meski depannya kosong. Jika shaf agak penuh, sudah ada konsensus sosial bahwa shaf no 2 pojok kiri adalah milik Pak Harun. Setelah sholat ia pasti tetap di masjid.

Diusia 52, dunia telah membuatnya bijaksana. Mungkin Tuhan menutup matanya, untuk membuka jiwanya. Menjadikan ia pribadi yang ikhlas, bersyukur, dan pasrah. Tapi tidak kalah. Menjadi seorang hamba yang tidak melihat Tuhan lewat mata, tapi dengan jiwa. Mata hati. “Melihat” yang tak mampu dilihat, oleh kebanyakan orang yang bisa melihat.

Setiap hari ia hanya berdzikir. Hanya “mengadu” kepada-Nya. Tapi mengapa harus mengadu? Toh kebutaan mata justru membuka mata jiwa. Ia bersyukur. Mengingat Tuhan. “Melihat” Tuhan. Terus berdzikir. Meninggalkan aku yang terus berpikir.

Saya yang mencoba menuliskan kesalehan tetangga saya sendiri seperti menembus inti bumi. Sangat dalam. Sangat gelap bagi saya yang masih sering kalap. Saya tak mampu… Jika saya menulis esai, maka esai saya tak cukup qualified untuk disebut esai. Jika ini artikel, maka jenis artikel bodong. Abal-abal. Picisan. Karena kata-kata, Kawan… karena kata-kata takkan bisa melukiskan apa-apa.

Dihadapannya, ribuan buku dan teori yang saya baca menjadi sia-sia. Kalah oleh kesederhanaan dan keikhlasan. Kepasrahan menerima apa yang digariskan Tuhan. Kecintaan pada Sang Pencipta, sehingga tak pernah menggugat apa yang telah menjadi ketetapan-Nya. Semuanya diterima. Dengan lapang jiwa. Memangnya siapa kita, sehingga bisa “menyuruh” Tuhan melakukan ini-itu? Bukankah Ia pasti akan, telah, dan sedang memberi yang terbaik bagi hamba-hambanya?

Ilmu-ilmu yang saya kenal mulai dari ekonomi, filsafat, politik, psikologi, retorika, dan logika, tunduk sujud pada ilmu yang Pak Harun milliki. Ilmu tertinggi. Ilmu yang paling tinggi. Sesuai arti namanya sendiri. Harun. Berasal dari bahasa Ibrani. Berarti gunung tinggi. Tahukah engkau Kawan, apa itu ilmu tertinggi?

Ilmu tertinggi adalah ilmu tentang sesuatu yang abadi dan sejati.


Responses

  1. Good story…. made me aware of a life

  2. thx bos

  3. satu jam dan saya begitu menikmati postingn2 di blog ini…..

    *ngebul,mbaca maning*

  4. monggo bos…

  5. dan keikhlasan, tentu saja🙂

  6. ampon kakak


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: