Posted by: Yoga PS | 4 February 2010

Saran Untuk Presidenku yang Ngalem

Bapak Presiden Republik Indonesia yang tercinta, ijinkan saya sekali-sekali mengkritik Anda. Toh, anda sudah setiap hari dikritik. Jadi kritik saya hanyalah buih di lautan kritik. Lagipula saya tahu Anda orangnya pemaaf. Namanya dicatut orang, Anda diam. Dimaki-maki, diinjak fotonya, diteriaki maling. Anda tetap diam. Paling banter Anda curhat dimedia massa.

Kemarin Anda curhat lagi: “Ada yang bawa kerbau. SBY badannya besar, malas dan bodoh seperti kerbau dibawa itu. Apa iya itu unjuk rasa sebagai ekspresi kebebasan?”

Komentar Anda dimedia kali ini terpaksa harus saya balas dengan catatan ringan karena dua alasan. Pertama, Anda bukan kerbau, sehingga tak perlu marah. Kedua, masih banyak saudara kita yang tak pernah dipanggil kerbau tapi diperlakukan seperti kerbau.

Catatan ini juga berupaya mengubah kebiasaan kritik. Dari asal kritik menjadi kritik yang konstruktif. Yang membangun. Yang progresif. Kritik kebijakan dan tindakannya, bukan pribadinya. Saya memang tidak memilih Anda sebagai Presiden di Pilpres lalu, tapi ijinkan saya memberikan masukan sederhana yang mewakili perasaan sebagian rakyat kita.

8 Pertanyaan

Saya hanya bisa mengutip Peter Drucker dalam bukunya The Effective Executive yang baru saja selesai saya baca. Menurut Drucker ada 8 kebiasaan yang dikembangkan seorang eksekutif yang efektif. Kebiasaan itu antara lain:

  1. Mereka bertanya, “Apa yang perlu dilakukan?”
  2. Mereka bertanya, “Apa yang tepat dilakukan?”
  3. Mereka mengembangkan rencana aksi
  4. Mereka mengembangkan tanggung jawab atas berbagai keputusan
  5. Mereka mengambil tanggung jawab atas komunikasi
  6. Mereka berfokus pada peluang, bukan masalah
  7. Mereka mengadakan rapat produktif
  8. Mereka berpikir dan berkata “kami”, bukannya “aku”.

Pertanyaan saya kepada Anda, Bapak Presiden, apakah Anda sudah memikirkan 8 hal diatas? Apakah anda sudah yakin bahwa “curhat” di media massa adalah hal yang tepat untuk dilakukan? Apakah hal itu adalah rencana aksi anda? Apa hubungannya kerbau yang ditempeli foto Anda dengan kemiskinan disekitar kita? Apakah curhat anda bisa mengatasi pengangguran dan kemiskinan?

Maaf, Bapak Presiden, sekali lagi maaf. Saya sebagai salah satu dari 40 juta rakyat miskin di negeri ini merasa capek melihat ketakutan Anda sendiri. Anda takut dibunuh ketika pemilihan presiden. Anda takut pada demo peringatan hari anti korupsi. Anda takut pada peringatan 100 hari peringatan pemerintahan baru. Intinya: Anda takut pada rakyat Anda sendiri!

Sudah saatnya Anda tidak menggunakan jurus pencitraan politik yang itu-itu melulu. Mengutip Einstein: Kita takkan bisa menyelesaikan masalah yang berbeda dengan solusi yang sama. Politik pencitraan yang anda kembangkan sebagai “korban” bisa-bisa justru menghancurkan citra Bapak sendiri. Lama-lama rakyat bosan punya pemimpin yang ngalem dan hanya bisa curhat di media massa.

Level 5 dan Hastabrata

Rakyat mendambakan pemimpin yang berbuat. Yang kuat. Tidak cengeng. Tidak lembek. Karena bangsa yang kuat membutuhkan kepemimpinan yang kuat. Pemimpin yang menurut Jim Collins dalam Good to Great disebut pemimpin level 5. Dan salah satu kehebatan pemimpin level 5, adalah kemampuannya mengendalikan ego. Mengubah AKU menjadi KITA.

Level 5 leaders channel their ego needs away from themselves and into the larger goal of building a great company. It’s not that level 5 leaders have no ego or self-interest. Indeed, they are incredibly ambitious – but their ambition is first and foremost for the institution, not themselves.

Kalau Anda alergi dengan teori barat, maka kita punya teori kepemimpinan sendiri. Karena Anda orang Jawa, saya kutipkan teori Hastabrata. Delapan (8) sifat seorang pemimpin yang tercermin dari 8 jenis unsur alam raya. Matahari, Bumi, Bulan, Angin, Air, Api, Langit, dan Bintang.

Matahari yang terang dan bijak. Bumi yang bersahaja. Bulan yang lembut. Angin yang ringan. Air yang fleksibel. Api yang panas menggelorakan semangat. Langit yang luas berwibawa. Dan Bintang yang bersinar dan mencerahkan.

Saya tidak meminta Anda menguasai semua elemen untuk menjadi Avatar dalam film Nickelodeon Legend of Aang: The Last Air Bender. Karena film itu sudah digarap oleh Hollywood.

Saya hanya meminta agar Anda, Bapak Presiden Republik Indonesia yang terhormat, untuk berpikir seribu kali sebelum melontarkan suatu pernyataan dimedia. Karena Anda adalah panutan bagi 230 juta jiwa penduduk negeri ini. Karena 60% pemilih memilih Anda secara langsung. Karena ucapan Anda akan dicatat sebagai sejarah bangsa.

Saya sebagai rakyat kecil yang miskin hanya bisa berharap, agar Anda sebagai Presiden jangan terlalu ngalem. Istilah dalam bahasa Jawa bagi orang yang mudah mengeluh dan tidak siap menghadapi tantangan. Karena saya merasa Anda agak “cengeng” dalam berpolitik. Begitu sering anda berkomentar dan memainkan peran sebagai “korban” politik.

Kita takkan bisa maju jika hanya mengeluh. Apalagi mengeluh masalah pribadi. Kita adalah bangsa yang dilahirkan dari sejarah panjang penjajahan dan penderitaan. Tapi nenek moyang kita mengajarkan, perubahan butuh perjuangan. Butuh pengorbanan. Membutuhkan kesabaran. Membutuhkan tindakan!

Saya bermimpi Anda akan sebijak Siddharta Gotama dalam menerima kritik. Ketika brahmana Akkosaka dari kelompok Brahmana Bharadvaja mendengar bahwa pemimpin kelompoknya telah menjadi anggota Sangha dari pertapa Gotama. Ia pun menemui Sang Bhagava. Setelah selesai melampiaskan emosi, Gautama bertanya.

“Apa pendapatmu Brahmana? Apakah engkau menerima kunjungan dari sahabat2 dan kenalan2 , handai taulan dan sanak keluarga, serta tamu2 lainnya?”

“Ya, sang Gotama, kadang2 aku menerimanya”

“Dan apakah pendapatmu, apakah engkau menyiapkan makanan dan minuman, dan juga tempat bermalam bagi mereka?”

“Ya, sang Gotama, kadang2 aku melakukannya”

“Dan jika mereka tidak mau menerima barang2 tersebut darimu, barang2 tersebut menjadi milik siapa?”

“Tentu milikku”.

“Demikian pula dengan yang terjadi disini, brahmana. Caci maki, cercaan, dan kata2 kasar yang engkau ucapkan untukku yang tidak mencaci, mencerca, dan mengeluarkan kata2 kasar, tak mau kuterima. Semua ucapan itu adalah milikmu, brahmana. Seorang yang memaki ketika dimaki dan mencerca ketika dicerca adalah seperti tuan rumah dan tamunya yang makan bersama dan saling menjamu. Kita, brahmana, tidak makan bersama ataupun saling menjamu. Semua ucapan itu adalah milikmu, Brahmana”.

Sekian kritik dan saran sederhana saya, Pak Presiden.

Salam saya,

Yoga PS, Rakyatmu


Responses

  1. great post!

  2. thx gan. bisa add saya di fb emailnya_yoga@yahoo.com

  3. Subtle criticism but meaningful

  4. absolutly, grat post

  5. krik…krik…krik…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: