Posted by: Yoga PS | 9 February 2010

Salah

Saya sering tertawa melihat Bapak saya sendiri.

Beliau sering menyalahkan dirinya sendiri ketika bermain Tumblebugs. Game tembak-tembakan bola serangga. Ketika tembakannya meleset ia sering bergumam sendiri, “Goblok! Gitu aja koq ga kena”. Tapi itulah hebatnya laki-laki yang menghamili Ibu saya itu. Tetap setia bermain game di usia 64 tahun!.

Ketika melihat sepakbola, saya jadi ikut-ikutan ketularan. “Goblok Ronaldinho Mandul!!! Penalti aja ga masuk!”. Untung saya belum ketularan taruhan. Juga belum terkena sindrom “free throw”(kebiasaan melempar sesuatu jika jengkel). Saya hanya sering berkomentar sebagai sebuah bentuk self defense mechanism dari makhluk berlemak dengan massa 115 kg dan sering takut kalau harus menyundul bola.

Ketika saya renungkan lagi, kebiasaan menyalahkan lahir dari sistem pendidikan nasional.

PO vs NO (vs jangan diganti huruf R, ya…)

Menurut Edward de Bono dalam bukunya Berpikir Lateral, dalam dunia ini ada dua logika. Logika NO dan PO. Logika NO adalah logika hitam putih. Benar salah. Ya dan tidak. Sedangkan PO adalah semua bisa benar. Semua bisa salah. Tak ada yang benar. Tak ada yang salah. Bingung kan? Sabar sodara-sodara.

Kerja pikiran menurut Bono menganut tiga aspek. Pertama, pikiran kita bekerja berdasarkan pola. Kedua, pikiran kita memiliki system pengaturan diri. Ketiga, perhatian pikiran sangatlah terbatas. Oleh karena itu kita tidak sehebat computer dalam melakukan multi-tasking. Kita tak bisa menonton Film Porno sambil membaca Kitab suci.

Nah, pendidikan yang umum di sekolah adalah pendidikan yang mengajarkan logika NO. Pola pikir vertical. Lurus. Berurutan. Berpola. Tersistematis. Terstruktur. Sistemik. (anda bisa memambahkan kata lainnya sesuai selera), Hasilnya adalah kebiasaan menjustifikasi benar salah.

“Saya Anjing. SBY Kerbau”. (logika ini salah dan tidak bisa diterima, karena saya bukan anjing dan SBY bukan kerbau)

Logika PO sendiri lahir untuk melengkapi logika NO. Berpikir lateral. Fungsinya adalah untuk memunculkan breakthrough gagasan baru, dan juga memecahkan masalah. Contoh sederhana dalam bukunya adalah tentang penyebab orang yang naik lift hanya sampai lantai 10 dan naik tangga sampai lantai 15. Jika menggunakan logika NO kita akan memiliki beberapa “opsi yang rasional”.

“Liftnya rusak di lantai 10.” (Alasan paling logis)

Atau,

“Sedang ingin berolahraga” (Cukup logis)

Kita cenderung mencemooh jika ada orang yang mengajukan ide:

“Karena takdir menuliskan ia harus naik lift sampai lantai 10 dan naik tangga sampai lantai 15” (Irasional, tidak masuk akal. Ide ditolak)

Jika menggunakan logika PO, kita dibebaskan untuk memberikan premis. Karena memang tujuannya untuk men-generate ideas, dan break the wall. Cara pemakaiannya sederhana. Tulis PO + ide anda. Bebas. Tak ada yang salah. PO lahir karena banyak ide yang “dibunuh” sebelum lahir.

“PO Fengshui mengajarkan untuk naik lift maksimal di lantai 10”.

“PO Orang itu trauma dengan lift di lantai 11. Ia pernah diperkosa dan kemudian dibunuh disana”.

Jawaban kasusnya ternyata cukup unik. Orang itu pendek. Sehingga hanya bisa memencet sampai lift lantai 10.

Generasi Penakut

Seharusnya Ujian Nasional tidak menganut pola pikir benar salah. Hidup bukan hanya pilihan A, B, C, dan D. Karena dunia bukan hanya pilihan hitam putih. Masih ada abu-abu. Kebiasaan berpikir vertical dengan men-judge benar salah menghasilkan generasi penakut. Takut salah. Takut berbuat. Malu ketika dicap salah. Berbuat apa saja agar tidak terlihat salah.

Kita tidak diajarkan untuk belajar dari kesalahan. Karena kita tidak diajarkan untuk menerima kesalahan. Mereka yang tak lulus ujian disamakan dengan anak bodoh. Karena telah “salah menjawab” soal. Padahal orang-orang hebat adalah orang yang belajar dari kesalahan. Seperti salah satu komentar unik Edison ketika “bersalah” dalam eksperimen pembuatan lampunya:

“Saya tidak gagal. Sekarang saya tahu kalau janggut orang Yahudi tidak bisa menghantarkan listrik”.

Mental Salah dalam Bisnis

Pebisnis yang masih menganut logika benar-salah biasanya akan menutup-nutupi kesalahannya. Takut produknya tak laku. Bisnisnya lesu. Konsumen akan lari. Tak membeli lagi. Padahal orang cermat adalah orang yang melihat kesalahan orang lain, tapi orang yang hebat adalah orang yang mampu melihat kesalahan diri sendiri. Seperti yang diajarkan industry otomotif akhir-akhir ini. Mereka mengakui kesalahannya, dan berani bertanggungjawab atas kesalahannya!!!.

Toyota me-recall sekitar 5,35 juta mobilnya di pasar Amerika Serikat. Penarikan akibat masalah pedal gas juga berembes ke Eropa dengan 1,8 juta unit. China menyumbang 75.000 unit. Honda Inggris menarik seluruh Honda Jazz produksi 2001-2008. Honda menemukan ada kesalahan produksi di bagian tombol jendela yang jika kemasukan air diduga bisa memicu arus pendek dan menyebabkan kebakaran. Padahal ada 646 ribu Honda Jazz di seluruh dunia.

Berita terbaru tentang Suzuki Motor Corp (SMC) yang juga “ketularan”, tapi masalah ini hanya terjadi di China yang akan me-recall 10.000 unit Suzuki Alto. Masalah diperkirakan timbul dari sistem filter bahan bakar yang tak berfungsi seperti seharusnya.

Apa pelajarannya? Ada dua. Pertama, kesalahan itu baik, karena “memaksa” kita menyempurnakan produk. Kedua, jangan malu untuk bertanggungjawab dari kesalahan anda. Konsumen akan lebih menghargai produsen yang mengakui kelemahannya sendiri, tapi terus berupaya memperbaikinya.

Sejak kasus ini saya jadi kepincut pada Toyota dan Honda. Meski di keluarga inti saya tak ada pengguna dua produsen mobil itu. Bapak saya Suzuki, Kakak saya Mitsubishi. Tapi brand trust saya meningkat. Tentu menyenangkan mempercayakan kendaraan kita pada produk yang tak sempurna, tapi secara gentle mengakui ke-tidaksempurnaan-nya itu. Dari pada produsen yang cuci tangan padahal sudah mengaku punya “kecap no. 1”.

Sekali lagi, dalam bisnis jangan takut berbuat salah. Tak ada yang salah dalam hidup, yang salah adalah ketika kita terus menyalahkan hidup.

 


Responses

  1. nice…
    menginspirasiku akan sebuah tulisan juga.

  2. thx. keep writing ya

  3. trus, klo kita ditakdirkan, mau tidak mau- karena sistem membuat kita cuma mampu melakukan itu- harus jualan cendol di depan kampus…lalu digusur karena peraturan baru..
    salah siapa?

  4. ya ga ada yang salah bos


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: