Posted by: Yoga PS | 11 February 2010

Hore!!! Ada Tuhan Dikepalaku!!!

1.
Orang yang kesepian ternyata tak butuh teman. Ia butuh Tuhan. Untuk menemaninya berbicara dengan tembok yang terus diam saja. Agar teman dan keluarganya tak menangkapnya karena disangka orang yang gila. Padahal orang yang tak butuh Tuhan justru sebenarnya gila.
2.
Mulailah saya mencari Tuhan. Pertama kali saya cari di rumah-rumah ibadah yang megah. Wah, agama memang mewah. Tapi Tuhan model ini mahal sekali. Syaratnya juga tinggi, harus berdoa beberapa kali dalam sehari. Bagi saya yang malas dan instant, lebih suka Tuhan model kun fayakun. Yang jadi terjadilah. Tak usah terlalu susah.
3.
Mungkin Tuhan ada di pasar. Diantara penjual dan pembeli. Yang sama-sama menjual diri. Kali aja ada Tuhan yang sedang di-discount 70%. Bisa dicicil 12x pula. Masih bisa kubeli. Tapi Tuhan di pasar bernama keuntungan dan kekayaan. Sesuatu yang diatas angin bagi saya yang miskin. Saya hanya bisa meratapi Tuhan dibalik jendela kaca. Diantara deru nafas nafsu kerja manusia.

4.
Akhirnya saya berjalan-jalan saja. Tak jelas. Toh hidup juga tak jelas. Harusnya sekalian kupasang plakat di depan perutku, “Dicari Tuhan satu sampai seribu!”
5.
Akhirnya kutemukan Tuhan di tukang cukur. Tuhan yang keren dan modis. Ketika ingin kuletakkan Tuhan di hati, tukang cukur berkata dengan hati-hati:
“Sebaiknya dipakai di kepala Mas, agar kita tidak mudah cemas”
Saran yang bijak menurutku. Akhirnya aku setuju. Kupesan satu Tuhan dikepalaku.
6.
Hore!!! Ada Tuhan dikepalaku. Hatiku sangat gembira. Hampir meledak. Beruntung rasanya memiliki Tuhan dikepala. Sekarang aku selalu ingat kepada-Nya. Mulai kucemooh orang yang rebutan Tuhan. Sampai bunuh-bunuhan. Seharusnya mereka meniruku. Memasang Tuhan dikepala. Mulai sekarang aku takkan kesepian lagi. Takkan kelaparan lagi. Takkan kesedihan lagi. Aku tinggal bilang pada Tuhan dikepalaku.
7.
Tuhan dikepalaku ternyata cukup lucu. Ia sering takut dengan hantu. Pernah suatu ketika mereka bertemu. Saling berteriak. Hantu menjerit, “Ya Tuuhaaannnnn!!!” sambil lari terbirit-birit. Tuhan dikepalaku ikut-ikutan, “Ya Hanttuuuuuuuu!!!” dengan suara keras. Sejak itu aku ogah nonton sinetron. Karena hantu-hantu penggemar hiburan itu.
8.
Ternyata Tuhan dikepalaku rela kuajak ke kamar mandi. “Itu bukan tempat kotor, justru dengan mandi kita bisa bersuci”. Sekalian masturbasi. Tuhan dikepalaku ternyata penggemar berat Miyabi.
9.
Sekali-sekali kuajak Tuhan dikepalaku ke lokalisasi. “Untuk apa Engkau menciptakan dunia? Pasti tak ada yang sia-sia”. Tapi herannya Ia mau. “Pelacuran adalah tempat pelajaran tentang kehidupan”. Giliran aku yang keder. Masih perjaka. Akhirnya ia kuajak ke game center. Alasan tak ada uang dan waktu. Lain kali akan ditunggu.
10.
Bacaan favoritnya selain majalah mesum murahan adalah buku cerita. “Aku suka cerita 3 babi dan Srigala” Ia mulai bercerita. “Mengapa?”, tanyaku. “Dari cerita itu kita bisa tahu pentingnya waktu, bodohnya seekor babi hingga kuharamkan kalian memakannya, dan kenyataan bahwa batu lebih kuat daripada kayu”. Kalau soal itu nenekku juga tahu, jawabku. “Tapi aku tetap suka cerita itu”.
11.
Terkadang ia suka cerewet. Suka melarangku memberi uang pada pengemis. “Mengapa engkau melarangku, bukankah memberi adalah perbuatan mulia?” protesku. “Dasar engkau manusia bodoh, tidak mengerti politik Tuhan. Orang tadi kubiarkan miskin agar ia tetap ingat kepada-Ku. Ia adalah tipe manusia yang beribadah saat susah tapi mengumbar dosa saat jaya”. Sejak itu aku memberikan sedekah lewat transfer ATM.
12.
Gara-gara itu aku bisa mendengar suara hati manusia lain. Suara mereka yang terus memanjatnya doa dan pujian. Suara yang kudengar dari tempat ibadah, pasar, diskotik, pelacuran, kuburan, sampai lampu merah. Terkadang aku juga mendengar semesta berdoa. Doa yang tak pernah putus. Doa yang membuat kupingku panas sampai mampus.
13.
Entah mengapa semua manusia jadi membicarakan Tuhan ditelingaku. Penuh pujian. Dengan keikhlasan.
“Tuhan Tuhan Tuhan?” kata penjaga warung
“Tuuuuhannn. Tu. Han.” Kata pak tua yang ingin membeli pembalut
“Tuhan Tuhan. Tuhan”. Kata si penjaga warung lagi.
14.
Pada mulanya ia tak banyak polah. Jarang bertingkah. Tapi semakin lama semakin sering berbicara padaku seperti berbicara pada dirinya sendiri. Yah inilah risiko menjadi satu-satunya manusia yang bisa mendengar apa yang dikatakannya. Tampaknya Tuhan dikepalaku bisa kesepian juga.
15.
“Yang Maha tinggi. Yang maha suci. ”
“Yang Maha tinggi. Yang maha suci. ”
“Yang Maha tinggi. Yang maha suci. ”
“Yang Maha tinggi. Yang maha suci. ”
“Yang Maha tinggi. Yang maha suci. ”
Kubiarkan saja ia memuja-muji dirinya sendiri.
16.
Saat paling menjengkelkan adalah ketika aku harus berkonsentrasi. Ia tetap saja bergumam sendiri.
“Yang Maha mendengar. Yang Maha melihat”
“Yang Maha mendengar. Yang Maha melihat”
“Yang Maha mendengar. Yang Maha melihat”
“Kau bisa diam tidak bangsat!!!” kucoba membentaknya.
Ia malah mengeraskan suaranya. Suara yang hanya bisa kudengar sendiri. Soundtrack yang menemaniku mengerjakan skripsi.
17.
Lama-lama capek juga punya Tuhan dikepala. Terlalu banyak ia berbicara. “Mengapa kau tidak diam saja!” bentakku. “Mengapa kau memasangku dikepalamu!!!!” balasnya. Sejak itu kami ngambek. Mau putus. Tapi lebih baik tanpa status.
17.
Lain kali aku ingin punya Tuhan di dalam hati. Meski harus operasi. Ganti hati.
18.
Sampai mati. Suatu hari nanti.


Responses

  1. idenya menarik juga tuh… agar selalu ingat bahwa TUHAN itu ada…🙂

  2. hehehhe maklum bos iman tipisss

  3. menarik

    Tuhan mungkin urusan kepala, tapi iman mentok di hati..ga jelas..dan mungkin harus begitu biar menarik

  4. no comment ah :p


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: