Posted by: Yoga PS | 13 February 2010

Paintball Effect

Setahu saya ada tiga cara untuk mengenal seseorang. Tinggal di rumahnya, bepergian dengannya, dan menjalin bisnis bersama orang tersebut. Tiga hal ini sangat ampuh untuk mengetahui “kepribadian tersembunyi” seorang manusia. Karena seperti kata Sigmun Freud, embahnya psikolog, kepribadian yang terlihat hanyalah “gunung es”. Masih banyak yang tersembunyi dan tak diketahui.
Itulah mengapa seorang yang “terlihat” sangat baik dan hangat ternyata berbakat jadi seorang psikopat-mutilator-sadomasokis yang menyodomi bocah-bocah. Seperti Babe. Ada juga orang yang tampangnya sueeeerem dan tak sedap dipandang tapi ternyata lembut dan baik hatinya. Ya.. seperti yang nulis notes ini😀. (Waspadalah!!! Waspadalah!!!)
Ternyata ada cara lain mengetahui kepribadian seseorang: mengajaknya bermain!!!.
Games dan Kepribadian

Manusia adalah homo luden. Makhluk yang bermain. Bagi yang meremehkan peran games dalam pembentukan kepribadian, akan saya kutipkan buku Gamers Juga Bisa Sukses (2007. Jakarta: Grasindo) karya John C Beuc & Mitchell Wade. Dua orang harvard kurang kerjaan yang menginterview ratusan manager untuk menyelidiki korelasi games dan pengambilan keputusan.
Hasilnya cukup unik. Para manager yang gamers (suka bermain game dimasa mudanya) cenderung toleran terharap kegagalan, anti-leader, fleksibel, berpikir lompat-lompat, dan memiliki respon pemecahan teknis masalah dengan cepat.
Ini sesuai dengan karakter games itu sendiri. Di games tidak ada bos, anda adalah pahlawan (karena itu sebagian gamers agak “susah diatur”). Jika kalah, anda tinggal merestart (tidak takut gagal). Kita dituntut memberikan reaksi cepat (misalnya tembak-tembakan), dan yang pasti mengajak kreativitas kita untuk berkembang.
Cara memotivasi seorang gamers ternyata gampang-gampang susah. Berikan mereka tantangan!!!. Mereka terbiasa dengan level, peta, tujuan, quest, bos, monster, senjata-senjata sakti, dan karakter-karakter unik.
Sehingga jika anda memiliki anak buah seorang gamers, jangan berkata: “Cepat, kerjakan ini”. Berkatalah, “Ayo, tantangan di depan masih sangat berat. Ada “bos” yang harus kita hadapi. Saya percaya anda pasti bisa!!!”. Dengan insentif yang cukup, target yang jelas, seorang manager-gamer memiliki senjata yang tak dimiliki manager non-gamer: kreativitas!.
Paintball


Pada hari Sabtu 13 Februari 2010 saya bermain paintball bersama kawan-kawan EQ. Sekalian nostalgila dan silaturahmi. Dan hipotesa tentang karakter akan muncul di permainan ternyata terbukti.
Saya jadi tahu, mana yang leader, mana yang follower. Siapa yang memiliki kemampuan analisa strategi, organizational architect, motivasional, financial analysis, inter-personal communication, dan yang paling penting: siapa decision maker-nya!!!.
Biar nggak ribet, kita bagi dalam empat tipe manusia: climber, camper, quitter, dan cheater.
Jika seorang climber bermain, ia kan berusaha menunjukkan progresivitas. Merangsek maju. Memberikan arahan. Motivasi. Dan dorongan. Memiliki hasrat to win yang kuat. Tak mau kalah. Kita beruntung jika memiliki rekan kerja seperti ini. Kelemahannya, ia terkadang meninggalkan organisasi yang dirasa sudah “dicapainya”. Tak mampu lagi memenuhi hasrat yang menggelora didalam dada.
Bermain dengan camper membuat anda aman. Orangnya suka ngendok. Menunggu pergerakan. Biasanya orangnya hati-hati dan memiliki kesabaran. Tapi kelemahannya ya perusahaan majunya agak lama. Lha bisanya cuma nunggu. Reaktif. Tapi orang-orang camper dalam organisasi biasanya berfungsi sebagai “rem”. Mengingatkan para climber yang terlalu bernafsu ekspansi.
Yang agak susah kalau kerja sama dengan quitter. Baru kena sekali sudah nyerah. Orang tipe ini harus disupport habis-habisan. Dan kita juga harus punya kesabaran ekstra. Sumber daya ekstra. Dan motivasi ekstra. Orang tipe quitter biasanya takkan lama bekerja dalam perusahaan. Namanya aja Quit-ter.
Kalau untuk cheater, wah ini seperti buah simalakama. Dimakan pahit, dibuang sayang. Orang tipe cheater biasanya banyak akal dan kreatif. Tapi kreatifnya ga bener. Suka ngakalin aturan. Udah kena, ngaku ga kena. Kena cat kuning, tapi karena bajunya ada kuningnya, jadi punya alibi.
Padahal namanya bisnis/pekerjaan itu bukan cuma urusan duit. Inti dari bisnis adalah kepercayaan. Sedangkan kejujuran awal kepercayaan. Seperti salah satu cerita dalam 52 Kisah Penjualan Spektakuler karangan Robert L. Shook (1995).
Isadore Sharp membutuhkan waktu 6 tahun untuk melobi McAlpine group. Sebuah grub real estate di Inggris. Lobi 6 tahun yang menghasilkan Hotel Four Season pertama di London pada 1970. Kesepakatan yang ditutup dengan makan malam dan sebuah komentar Gerald Clover, penghubung McAlpine.
“Bernegosiasi membutuhkan waktu yang lama. Saya menyadari ada banyak hal yang harus dipelajari dalam suatu bisnis. Lebih jauh lagi, tanyailah seseorang sambil memandang ke matanya, dan dapatkan perasaan apakah dia mampu memberikan jawabannya”. Sebuah jawaban atas proses pendekatan 6 tahun hanya untuk mengetahui karakter seseorang!.
Jika anda punya pegawai tipe cheater, saya sarankan untuk menempatkannya di bagian pajak. Kali aja bisa nge-cheat 2,1 Trilyun seperti “juragan beringin” di televisi😀.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: