Posted by: Yoga PS | 18 February 2010

Bangga Aku Jadi Orang Indonesia!!!

Dulu saya sempat berpikir: Mengapa Tuhan mengirimku ke Indonesia? Negara indah dengan orang yang ramah. Negeri terjajah tapi hanya bisa terus mendesah. Tapi itulah Tuhan, Yang Maha Mengetahui yang tersembunyi. Terkadang Ia baru membuka rahasianya ketika kita tak mampu menemukan jawabannya.

Bertepatan dengan hari kasih sayang, ada 5 orang Malaysia yang menginap di asrama. Siswa Sekolah Menengah. Remaja berusia 18 tahun. Din, Wazzin, Adam, Imran, dan Daniel. Petualang-petualang muda. Mencoba menangkap inti sari kehidupan dari inti sari petualangan.

Baru saja mereka datang sudah disambut asrama yang tak beda dengan kebun binatang. Lengkap dengan kandang dan penghuni-penghuninya. Tumpukan piring kotor. Baju-baju seperti kain pel yang agak sulit teridentifikasi lagi. Sepatu-sepatu kelaparan sampai ingin memakan solnya sendiri. Dan tumpukan kertas berserakan yang untungnya mengesankan kalau penghuninya pintar. Padahal malas.

Bukan “Maling”sia

Kami sempat “bercakap-cakap”. Ngobrol. Bertanya tentang kabar disana. Kabar disini. Bagaimana persepsi mereka tentang Indon. Sebutan Indonesia. Tentang pergerakan Islam di Malaysia. Bagaimana sikap Kerajaan. Lalu lintas. Moda transportasi. Kebersihan. Tukang gaji (TKI). Grub band. Wali band yang ternyata disukai. Wanita-wanita. Siti Nurhaliza. Sampai Ipin dan Upin.

Ternyata mereka tak merasa menjadi “Maling”sia. Mencuri budaya Indonesia. Mereka tak mengenal reog, tari pendet, atau lagu rasa sayange seperti yang digembor-gemborkan media Indonesia. Faktanya adalah orang Indonesia yang menetap di Malaysia kemudian membawa kebudayaan asli mereka dari Indonesia. Anak-anak muda ini mengakui itu.

Percakapan ngalor-ngidul yang semakin membuatku yakin akan tesis Benedict Anderson. Sebuah bangsa tak lebih hanyalah komunitas imajiner. Tak lebih dan tak kurang. Tak ada lagi status Indonesia-Malaysia. Kami berbicara sebagai sesama manusia.

“Akhirnya, bangsa dibayangkan sebagai komunitas. Sebab, tak peduli akan ketidaksetaraan nyata dan eksploitasi yang mungkin lestari dalam tiap bangsa. Bangsa itu sendiri dipahami sebagai kesetiakawanan yang mendalam dan arahnya horizontal” (Komunitas-komunitas Imajiner: Nasionalisme. 1999. Pustaka Pelajar Yogyakarta. Halaman 9 paragraph terakhir)

Percakapan yang diakhiri kesepakatan untuk pusing-pusing Yogyakarta. Jalan-jalan. Esok hari.

Pusing-Pusing

Baru saja kami meninggalkan gang asrama. Di belakang UPN. Dekat SD Muhammadiyah. Kawan-kawan Malaysia yang polos itu sudah disuguhi pemandangan “guru kencing berdiri”. Karena memang ada laki-laki pengendara motor tak bertanggungjawab yang sedang kencing di tembok lapangan bola.

“Itulah hebatnya orang Indonesia. Bisa kencing dimana saja. Hehehe” Malu Aku Jadi Orang Indonesia kata Taufik Ismail. Benar-benar inilah wajah bangsaku. Masih ada dari 230 juta manusia yang belum kenal toilet.

Tapi saya mencoba untuk tersenyum. Mengajak mereka tertawa. Tawa yang berbeda. Kawan Malaysia tertawa karena masih punya tetangga yang seperti anjing. Kencing sembarangan. Saya tertawa untuk menghibur diri. Tawa yang diiringi air mata yang mengalir dalam hati.

Mulai saat itu saya melawan dengan humor. Mencoba menertawakan ketertinggalan bangsa saya sendiri. Kebodohan diri saya sendiri.

Seperti ketika naik trans jogja dan bis tak juga kunjung datang.

“Kami di Indonesia memang orangnya sabar-sabar. Jadi tak masalah menunggu lama”. Saking sabarnya sampai mau diinjak-injak saudaranya sendiri.

Kawan Malaysia heran melihat peta jalur trans Jogja. Sangat complicated.

“Harusnya kalian belajar dari kami. Hanya dengan 6 jalur bus, bisa membuat system transportasi yang rumit” Rumit bin mbulet.

Saat membandingkan dengan lalu-lintas Jakarta yang penuh dengan motor asal nyalip.

“Yah kami memang dididik untuk selalu cepat menangkap peluang. Opportunity seeking behavior”. Kebiasaan asal embat sampai lupa halal-haram. Yang penting sikat.

Ketika harus transit  bis 3x untuk menuju Prambanan.

“Orang Indonesia memang suka perubahan. Tak seperti kalian yang raja-nya Cuma itu-itu saja dari dulu” kali ini bisa sekalian counter dan membuat mereka tersenyum kecut.

Akhirnya datang juga di Prambanan. Kebanggan pertamaku atas bangsaku di hari itu!!! Mereka hanya terkagum-kagum melihat kreasi nenek moyang kita. Saat petronas hanya mimpi. Kita sudah beraksi dan berlari! Tapi itu kreasi nenek moyang kita. Bukan kreasi kita sendiri. Sekarang pemimpin kita lebih suka menghasilkan album dalam 100 hari daripada membuat sebuah karya monumental inspirasional.

Setelah puas kami menuju Malioboro. The orchard road of Yogyakarta promosiku. Kali ini aku juga bangga bisa menjadi bangsa murahan. Menjual barang dengan harga murah. Mereka seperti menemukan surga belanja. Ingin membeli apa saja. Adam yang baru saja menghabiskan Rp 1 juta dalam 2 jam masih berpromosi di dalam bis. “Murah sekali disini”.

Bangga

Kawan jiranku yang baik, kalian membuatku sadar. Bangsa kami, Indonesia, memang tak semaju kalian. Pendapatan kami tak setinggi kalian. Pendidikan kami masih jauh tertinggal. Kemiskinan masih mengakar kuat. Begitu sering terlihat.

Tapi Kawan, sekarang aku tahu mengapa Tuhan mengirimku disini. Untuk melakukan perubahan!!! Coba bayangkan jika kita dilahirkan di Negara maju. Makmur. Tak ada orang miskin. Tak ada antrean BLT. Tak ada korupsi. Mungkin kita akan menjadi pribadi medioker. Terlena dengan kemakmuran.

Seperti kisah katak dalam kuali. Seekor katak yang dilempar diair panas akan langsung meloncat. Tersentak. Berbeda dengan katak yang ditempatkan diair dingin. Untuk kemudian dipanaskan dengan perlahan-lahan. Mereka yang merasa nyaman sering tak sadar dengan perubahan. Mereka sudah merasa aman. Meski akhirnya mati kepanasan dalam kenyamanan.

Mulai sekarang saya mencoba bangga terhadap Indonesia. Bangga dengan segala kekurangannya. Ketertinggalannya. Kebodohannya. Kemiskinannya. Kehancuran alamnya. Tapi bukan asal bangga seperti falsafah right or wrong is my country.

Karena saya yakin, Tuhan memberikan tantangan. Bagi bangsa ini. Untuk bangkit dan berdiri. Kemudian berlari. Semua ada ditangan kami sendiri. Bukankah Tuhan takkan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri mengubah nasibnya?

Oleh karena itu kawan, saya berjanji. Dengan segenap hati. Indonesia yang kau lihat hari ini takkan kau lihat 20 tahun lagi. Indonesia 2030 adalah bangsa yang berbeda. Kami akan menjadi kekuatan ekonomi no 5 dunia. Dengan pendapatan perkapita sekitar 50ribu dollar. Kemiskinan akan berada di level 3%. 90% penduduknya mengenyam pendidikan tinggi. Pengangguran tertahan di angka 2%.

Itu semua bukan mimpi Kawan. Jika mulai hari ini. Kita berhenti menghina bangsa kita sendiri. Mulai berpikir positif. Berhenti menyalahkan. Mencari jalan keluar. Bangun dari tidur tentang kejayaan masa lalu. Mulai menatap masa depan. Merencanakan kemenangan. Bergerak untuk perubahan!!!

Mengutip Lao Tse, daripada mengutuk kegelapan, akan lebih baik jika kita menyalakan lilin. Lilin itu bernama harapan. Api itu bernama perjuangan. Kegelapan itu adalah kebodohan dan rendah diri. Malu pada bangsanya sendiri. Merasa tak bisa. Tak bisa merasa. Malas memulai. Memulai untuk malas.

Kita harus bangga untuk menjadi sebuah bangsa.

Aku bangga menjadi orang Indonesia!!!.


Responses

  1. M.E.R.D.E.K.A

  2. Ada positifnya juga ya bos kita dijajah Belanda? Mental memang ikut dijajah, tapi tidak dengan budaya! Coba kita bandingkan dengan negara jajahan Inggris, Malaysia contohnya. Negara mereka memang lebih maju, tapi ke mana budaya (bahasa ibu) mereka? Globalisasi bahasa bukanlah alasan!

  3. yoi pak.. repot klo pake ases utilitas


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: