Posted by: Yoga PS | 8 April 2010

Tamu yang Aneh

Tadi malam ada tamu yang datang kehatiku. Sambil mengetuk pintu. Dengan pelan. Pintu kubuka, dan kulihat sebuah buku berdebu. Ingin bertemu.

“Wah, Qur’an kecilku… apa kabar???” aku menyambut Al-Qur’an kecil itu.

Kupersilahkan ia masuk. Bingung aku harus menyuruhnya duduk dimana. Sudah sesak dengan gambar porno, tumpukan target dan strategi, buku-buku kiat sukses sambil menjadi kaya, kliping berita pembunuhan, ceceran darah, dan pembalut.

Hatiku tidak luas, penuh dengan urusan-urusan dunia. Sempit. Pengap. Dan lembab. Kubiarkan saja ketika ia duduk dipojokan dekat jendela hati. Jendela dengan pemandangan tembok batu. Gelap sekali.

Qur’an kecilku terus membisu. Wajahnya lesu. Memaksaku mengingat kembali masa-masa itu.

Saat 2004, ketika kami pertama kali bertemu. Ia sedang berada di emperan masjid kampus. Qur’an kecil bersampul hitam. Dengan tulisan emas. Terbitan CV Diponegoro. Semarang. Harganya sekitar Rp.12ribu. itupun setelah bernegoisasi dengan laki-laki pembawa ilmu. Pemuda berkumis yang menyamar sebagai pedagang buku.

Tak lupa, kutulis pesan pertama dihalaman kedua. Dibalik lembaran Asmaul husna.

“Dibeli di emperan maskam, awal semester 2004. Ketika memegang pertama kali, aku berkata didalam hati: Kau akan selalu kubaca, kupelajari, kuhayati dalam hati, agar bisa kuamalkan sehari-hari”.

Juga kutulis label “bestseller” diatas judul: Alquran dan Terjemahannya. Menggunakan pensil.

Qur’an kecil juga tetap diam saat kutawari ingin minum apa. Wah maaf, dihatiku sudah tak ada air kehidupan yang mengalir jernih. Aliran air kecil yang terus mengalir. Sudah berganti dengan air dunia yang berarus kuat, berbau, dan berwarna hitam coklat.

Kami Cuma saling menatap dan berbicara dalam diam. Entah, bagaimana kami bisa berkomunikasi.

Tiba-tiba aku melihat Yoga kecil. Yoga yang sudah gendut sejak kecil. Selesai mandi jam 3 sore, ba’da Ashar. Memakai sarung warna hijau kesukaanku. Juga baju koko warna telor asin. Biru yang absurd. Terkadang kancingnya agak mencuat. Tanda mulai tidak muat.

Yoga kecil keluar rumah dengan bersemangat. Menuju Musholla. Berjalan kaki sejauh 300m. Yoga kecil dengan mata bercahaya. Mata yang haus akan ilmu dan ingin tahu segalanya. Dimana sekarang mata itu? Mengapa mataku sekarang berganti dengan mata mesum penuh nafsu?

Sampai di Langgar (sebutan Musholla), sudah ada kawan-kawanku yang dulu. Ada Tsabat, Sulis, Arief, dan yang lainnya. Juga ada Cak Dji dan Cak Toha. Dua orang hebat yang mengenalkanku pada akhirat. Guru yang tak dibayar dan tak mengenal sertifikat. Mereka hanya mengajar dengan niat. Menyebarkan kebaikan untuk ummat.

Ah… Iqro… ya… mari kita mulai dengan iqro. Tapi sebelumnya kita harus berdoa: semoga Allah memudahkan urusan kita. Membuka otak kita, pikiran kita, hati kita.

Doa yang selalu dibaca keras dan berjamaah: …robbi ziqni ilma, warzuqni fahma… ya Tuhanku, berikan ilmu dan pemahaman untukku.

Iqro jilid satu kuhabiskan dalam satu hari. Mana lagi?!? Ayo ajarkan aku sesuatu lagi! Lagi! Lagi! Yoga kecil mengalami ekstase. Kecanduan ilmu. Tak sabar menunggu sesuatu yang baru. Untuk dipelajari. Esok hari.

Saat pertama kali bisa membaca ‘bismillahirrohmanirrohim’, Yoga kecil sangat senang. Ada perasaan ‘puas’ yang tak bisa dilukiskan dihati. Akhirnya… akhirnya aku tahu bagaimana mengucapkan tulisan itu! Setelah sebelumnya buta huruf dan hanya bisa mengucapkan, kini Allah mengizinkanku untuk bisa menuliskan.

Ia mengalami orgasme intelektual. Karena akhirnya bisa memecahkan kode bahasa Quran. Bahasa perantara agama Tuhan. Bahasa yang sebelumnya hanya ia anggap sebagai lengkungan ular yang tak jelas. Ditambah titik. Juga garis miring diatas atau dibawah.

Oh, sekarang aku sadar mengapa ia datang untuk bertamu. Qur’an kecilku. Mengingatkanku. Untuk selalu mengenang masa itu.

Masa dimana aku sangat menghormati Qur’an. Berwudhu sebelum memegangnya. Mendekapnya dengan dua tangan. Meletakkannya didada. Memeluknya. Takut kehilangan. Karena Quran adalah sebaik-baiknya kitab seluruh zaman.

Meletakkannya harus dengan hati-hati. Jangan kasar. Jangan sampai jatuh. Jikapun terjatuh maka harus diambil, diusap, dicium, lalu didekap kembali. Didalam hati. Dengan dua tangan. Dengan keikhlasan. Dengan kelembutan…

Tampak sekarang diriku yang sombong. Sudah sejak usia 9 tahun bisa membaca Qur’an tapi tetap belum mau menyelesaikan. Khatam. Padahal membaca seluruh isi Qur’an berarti membelah seluruh isi kehidupan. Sayangnya itu cuma teori. Sejak kelas 6 SD, aku mulai malas. Alasan les ini itu. Tak sempatlah. Sibuk lah. Belajar lah.

Saat ini Qur’an kecilku hanya terselip dirak buku. Tak pernah lagi aku membacanya. Kalah oleh “kitab suci investasi” karya Benjamin Graham. Atau buku2 bisnis-politik-filsafat-sastra favoritku.

Rupanya semakin bertambah usia, aku belum juga sadar. Tentang “ilmu tua”. Bahwa hidup sesungguhnya sederhana. Cukup ambil secukupnya. Bagikan selebihnya. Karena kita hidup didunia tak selamanya.

Qur’an kecilku mulai menggeser duduknya. Ingin berdiri. Mau pergi.

Tak mau kalah cepat kususul berdiri. Berlari. Menuju pintu. Menutupnya. Mengunci. Menelan kunci. Seperti adegan dalam kartun Tom and Jerry.


Responses

  1. like this ‘ga ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: