Posted by: Yoga PS | 17 April 2010

TOGELnomics

Cerita ini harus dimulai dari 11 Maret 2010. Saat saya pulang ke Surabaya, menumpang bus Mira. Duduk dibangku paling belakang disamping pintu. Disamping saya ada pengamen yang entah kenapa, tidak mengamen. Mungkin ia mengalami disorientasi profesi.

Seperti polisi yang bosan mengayomi dan belajar sedikit korupsi. Seperti pegawai pajak yang sudah bosan menyimpan uang tarikan pajak di peti kayu dan belajar sedikit investasi lewat tabungan berbunga tinggi.
Ia selalu tersenyum sepanjang perjalanan. Naik dari Solo, membawa “sound system portable”. Rupanya ia adalah seniman jalanan yang mengerti teknologi. Toh, seni telah mengalami komodifikasi.

Karena duduk disebelahnya, saya jadi tahu persis pembicaraan dia dengan kondektur dan pengamen lainnya. Olala… rupanya ia baru saja menang togel.

“Alhamdulilah dik… tembus”. Jawabnya setelah saya bertanya apa yang baru saja dia alami.

Alhamdulilah bapak ini masih menyebut Alhamdulilah. Seolah-olah ada Tuhan disetiap kebaikan dan kejahatan. Karena ia mengerti. Rezeki sudah ada yang memberi. Dan bukankah pintu rezeki-Nya datang dari mana saja?

“Tembus tiga nomer. Lumayan 500rb”. Ungkapnya dengan berseri-seri.

Dengan modal Rp1.500 dan mendapatkan keuntungan Rp.487.500 maka return bapak pengamen ini sebesar 32.500% dalam seminggu. Saya mulai berpikir. Seharusnya ia menggantikan Warren Buffet atau Peter Lynch.

Sejak tahun 1926 hasil rata-rata return saham adalah 10-12% setahun. Meninggalkan treasury 5% dan bunga 3%. Bila kita invest 1 dolar di 1802 maka di tahun 1998 nilainya 2.755.000 atau return 83.700% setelah memperhitungkan inflasi dan pajak (Marshall:2000). Berarti persentase kenaikan spekulasi bapak pengamen ini setara dengan 40 tahun investasi dipasar saham AS. Not bad.

Ketika di Madiun, temannya memberi konfirmasi kabar baik itu. Karena hidup memang butuh konfirmasi. Agar kita benar mengerti. Apa yang sesungguhnya telah terjadi.

Sebuah kabar baik tentang kenyataan bahwa mereka bisa menjadi “manusia lupa”. Lupa bahwa mereka adalah pengamen. Lupa bahwa masih ada esok hari. Mengamen lagi. Lupa bahwa 500rb yang baru ia dapat, akan segera hilang tak tersirat.

“Wes, gawe awakmu ayo bar iki tuku klambi (Untuk kamu, ayo beli baju)”. Penjudi yang baik hati. Masih ingat untuk berbagi. Entah berbagi dosa atau bahagia, setidaknya ia telah menjadi homo homini socius. Manusia adalah kawan bagi sesama.

Analisis

“Waktu skandal kasus Century yang keluar pernah 67. Terus kadang-kadang skor bola juga sering keluar”. Ujarnya membagi resep rahasia.

Pengamen yang cerdas. Ia memiliki rekam historis nomer yang keluar. Semacam pool data yang diupdate setiap minggu.

“Setiap akhir 1-3 bulan, pasti ada angka 9 yang keluar”.

Kali ini ia sudah mampu mendeteksi modus. Padahal mungkin ia tidak mengenal statistik. Apalagi membaca Elementary Statistic karya Mario Triola.

“Kita harus rajin-rajin baca koran. Liat tipi. Ngikuti berita. Nomer kuwi sering nyerempet-nyerempet”. Tips lain meluncur dari mulutnya.

Saya mulai membayangkan ia sebagai John Naisbitt. Sang futurolog pengarang Megatrends. Naisbitt selain menggunakan pendekatan fenomenologis juga menyebar “agen” dilebih 145 negara untuk memonitor perkembangan dunia. Caranya? Dengan membaca berita di koran, tv, dan internet.

Pengamen ini telah menjadi rational economics hitman. Tak ada saran untuk bertapa dikuburan atau mencari mimpi-mimpi aneh. Secara tak sadar ia telah memasuki ranah positivistik. Sebuah aliran filsafat objektif. Semua bisa dianalisa. Untuk kemudian diprediksi.

Expectationomics

Apa beda pengamen ini dengan spekulan? Yang membeli saham untuk kemudian berharap harganya naik. Pada akhirnya terjadi pertarungan manusia dengan pasar. Sayangnya manusia takkan pernah mampu mengalahkan pasar. Termasuk Nabi sekalipun. Pertarungan ini selalu dimenangkan oleh satu hal: ekspektasi.

Karena ekonomi membutuhkan ekspektasi. Membutuhkan harapan. Sebagai penyembuh kotak pandora yang telah dibuka. Ekspektasi adalah penggerak utama pasar. Ia membuat pengusaha berani membuka usaha, investor berani berinvestasi, dan konsumen berani berkonsumsi.

Mengutip Jason Zweig dalam Intelligent Investor karya Benjamin Graham: “Pasar adalah sebuah pendulum yang selamanya mengayun antara optimisme temporer dan pesimisme tak berdasar. Investor pintar adalah seorang realis yang menjual sahamnya kepada orang optimistis dan membelinya dari orang pesimistis.”

Dan manusia juga membutuhkan alasan. Karena setiap tindakan butuh pembenaran. Termasuk ekspektasi tindakan ekonomi.

Seorang spekulan tidak ingin disebut spekulan. Ia selalu beralasan telah memiliki alasan kuat untuk melakukan tindakan yang tepat. Masuk pasar disaat bullish. Keluar disaat bearish. Agar terlihat ilmiah. Kita mengenal indikator Aroon. Bollinger Bands. Stochastic Oscillator. Mooving average Convergence Divergence. Chaikin Money Flow dan Oscillator. Sampai Candlestick analysis.

Sedangkan alasan bagi pengamen itu sangat sederhana: pengorbanan mini dengan hasil maksi. Secara opportunity cost, togel sangatlah menguntungkan. Jika tembus hasilnya lumayan, jika gagal juga tak masalah. Hanya kehilangan 3 batang rokok.

Berbeda jika taruhan togel adalah nyawa. Saya yakin tak ada yang berani mengikuti togel meskipun hadiah yang ditawarkan sebesar 6,7 trilyun sekalipun. Sehingga jika Anda ingin membuka bisnis togel saran saya cuma satu: tentukan biaya taruhan pada batas seorang penjudi ikhlas untuk kehilangan.

Kita menyebutnya risiko. Manusia selalu membenci risiko. Tapi spekulan adalah manusia yang menerima risiko. Bahwa apa yang ada, sangat mungkin menjadi tiada. Ada dan tiada hanyalah sebuah keadaan sementara. Untung hari ini, buntung esok hari. Kita boleh kehilangan sesuatu asal berkesempatan mendapatkan seuatu.

“Uangnya untuk beli sepatu dulu”. Sekarang ia mulai merencanakan pola konsumsi. Setelah lelah berspekulasi.
Carpe diem. Nikmati hari ini. Esok hari siapa yang tahu? Kepastian adalah urusan Tuhan. Kita, manusia, hanya berurusan dengan probabilitas. Karena hidup adalah sederetan kemungkinan.

Saya hanya bisa berdoa, dalam hati. Semoga ia menjadi spekulan yang professional. Penjudi yang sejati. Mereka yang meletakkan uangnya dengan pengertian. Hidup memang butuh pengorbanan. Dan kehilangan hanyalah salah satu bentuk pengorbanan.

Akhirnya kita berdoa. Ya.. pada akhirnya manusia membutuhkan doa.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: