Posted by: Yoga PS | 28 April 2010

Rockefeller

Saya berkenalan dengan John D. Rockefeller di emperan masjid Agung Sidoarjo. Pada tahun 2000, saat masih kelas 2 SMP. Ketika selesai sholat dan sedang memakai kaus kaki, tiba-tiba ada seorang takmir menghampiri. Sampai saat ini saya masih percaya dia sebenarnya malaikat.

“Dibaca ya..” Tiba-tiba dia memberikan sebuah buku. Tanpa alasan dan tanpa firasat. Juga tanpa jaminan.

Buku kecil berwarna hijau dengan tulisan judul kuning. Saya sudah lupa judul dan pengarangnya, yang jelas saat itu pertama kalinya saya mendengar kata Rockefeller. Isinya tentang perjalanan hidup orang terkaya dunia yang mendirikan Standard Oil Company.

Takmir yang amir. Bijaksana. Karena ia tahu, haram hukumnya membiarkan ilmu membeku didalam rak buku berdebu. Sejak itu saya diperbolehkan mengobrak-abrik koleksi perpustakaan dilantai dua. Buku kedua yang direkomendasikan dan masih saya ingat betul adalah karangan Michael H.Hart. 100 Tokoh Paling Berpengaruh Dunia.

7 Sisters

Baru siang tadi (27-4-2010) Rockefeler muncul lagi. Dalam acara bedah buku
“Dibawah Bendera Asing: Liberalisasi Industri Migas di Indonesia” karangan M Kholid Syeirazi (LP3ES:2009). Tapi dalam bentuk yang lain. Lewat 7 sisters. Karena seperti kita ketahui, Standard Oil Company muncul sebagai perusahaan raksasa. Sehingga pemerintah paman Sam sampai harus memecahnya menjadi 34 perusahaan.

Dari 34 perusahaan tersebut, ada 7 perusahaan yang paling kuat dan dikenal dengan sebutan seven sisters. Sampai saat ini, yang bertahan antara lain Exxon Mobil, Chevron, Shell, dan BP. Perusahaan ini selain kuat secara ekonomi, juga berkuasa secara politik. George Bush dan Condoliza Rice adalah salah satu “orang minyak” yang diterjunkan dalam dunia politik. Tentunya untuk mem-backup kepentingan mereka.

Inti dari diskusi tadi adalah masalah minyak dan politik energi. Bahwa amanat pasal 33 UUD 45 sudah dilupakan dalam UU no 22 tahun 2001 tentang Migas. Lelucon tata kelola Migas. Tentang liberalisasi sektor energi. Cerita imperalisme gaya baru (dilakukan 7 sisters dan AS?). Juga masa depan Indonesia yang semakin tak jelas.

Seperti kisah tentang profit sharing dan cost recovery. Mark up gila-gilaan yang dilakukan operator. Gambaran sederhananya: Anda diminta menjaga warung dan bebas makan apa saja. Tapi Anda malah mengajak makan teman sekampung dan meminta tagihan makanan atas nama Anda.

“Selama periode 2000-2005, BPKP mengaudit cost recovery 152 KKKS senilai Rp 122,684 triliun dan menemukan indikasi penyimpangan cost recovery dari 43 KKKS dengan potensi kerugian negara Rp 18,067 triliun. Potensi penyimpangan cost recovery paling besar terletak pada Pajak Perseroan (PPs) & Pajak Bunga Dividen Royalti (PBDR) sebesar Rp 6,24 miliar, Investment Credit (Rp 2,47 miliar), dan kelebihan pembebanan biaya home office (Rp 1,63 miliar). Dari temuan BPKP, yang berhasil ditindaklanjuti mencapai Rp 8,695 triliun (48%), tersisa Rp 9,372 triliun (52%).”

Juga tentang Pertamina yang hanya bisa gigit jadi dinegerinya sendiri. Tidak dipercaya mengelola Cepu. Kekuasaan disunat. Negara bahkan tidak bisa mengaudit biaya produksi minyak yang dilakukan dibawah tanah airnya sendiri!!!

Disaat 77% cadangan minya dunia dikuasai perusahaan minyak nasional. Dan juga 10 besar perusahaan minyak dunia adalah perusahaan negara, dimana Pertamina? (Aramco, pertamina-nya Arab Saudi adalah perusahaan terbesar dunia.)

Oh, ternyata permasalahan juga ada di sektor produksi saudara-saudara.

“Kapasitas kilang terpasang dalam negeri hanya mampu menghasilkan sekitar 740 ribu bph (60-75 persen), padahal kebutuhan minimum BBM domestik mencapai 1,3 juta bph. Sekitar 40 persen feedstock kilang minyak domestik dipasok dari impor, di antaranya dari Arab Saudi, Libya, Sudan, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Vietnam. Karena keterbatasan kilang domestik, minyak mentah impor tidak langsung dikirim ke Indonesia, tetapi “diparkir” di Singapura untuk dikilang di negeri itu dan baru dikirim lagi dalam bentuk BBM. Mekanisme ini memperpanjang alur pengadaan BBM, yang membuat rakyat harus membayarnya lebih mahal.”

Pembahasan menjadi semakin menarik ketika membahas perdagangan minyak yang mewajibkan adanya broker (perantara).

“Mereka, para broker itu, mengutip fee sekitar US$ 1,5 hingga US$ 2 per barel dari setiap impor minyak. Jika impor minyak mentah tahun 2009 mencapai 103 juta barel atau rata-rata sekitar 8,6 juta barel per bulan, para broker meraup rente sekitar US$ 206 juta (sekitar Rp 1,9 triliun setahun/160  miliar sebulan/5,3 miliar sehari). Praktek brokerage ini membuat biaya produksi BBM Pertamina lebih tinggi sekitar 20 persen dibandingkan negara-negara lain. Sayangnya, beban dari biaya ‘siluman’ itu dialihkan ke negara, yang menyebutnya sebagai subsidi untuk rakyat. Jika mafia minyak ini ditumpas, uang negara yang dapat dihemat bila bisa mencapai US$ 2,1 miliar.”

Kutukan Negara Kaya

Tuhan ternyata Maha adil. Dibalik kesulitan ada kemudahan. Dan dibalik kemudahan tersembunyi kesulitan.

Josep E. Stiglitz pemenang nobel ekonomi dalam karyanya Making Globalization Work (2007) menulis paradox of plenty. Istilah yang dipopulerkan oleh Terry Lynn Karl.

“Negara yang mempunyai kekayaan sumber daya alam, memiliki pertumbuhan (ekonomi) yang rendah dan tingkat kemiskinan yang tinggi dibandingkan dengan negara-negara yang tidak memiliki sumber daya tersebut”.

Seperti ayam yang kelaparan dilumbung padi. Kondisi ini terjadi karena Negara hanya bergantung pada sektor komoditas dengan nilai tambah yang rendah. Punya minyak ya jual minyak. Punya batu bara ya jual batu bara. CPO ya CPO. Gas ya jual gas. Tak pernah berpikir untuk mengolah dan memberikan nilai tambah menjadi barang-barang industri.

“Lha, jual gabah saja sudah untung, ngapain jual nasi?”. Logika yang melekat dinegara berkembang.

Padahal hanya bergantung pada sektor komoditas berarti harus bersiap diri pada siklus booming-and-bust. Karena suatu komoditas terkadang bisa sangat mahal, tapi terkadang juga bisa sangat murah. Padahal cadangan sumber daya alam ada batasnya.

Penyakit negara kaya sumber daya, kata Stiglitz adalah melakukan inefisiensi disaat booming. Ada istilah pork barrel. Uang pembangunan yang digunakan untuk menyenangkan konstituen. Contohnya saat Indonesia menikmati bonanza minyak pada 70-an. Pertamina seperti “negara dalam negara”. Membangun rumah sakit, perumahan, dan masuk kedalam bisnis yang bukan merupakan bisnis intinya (Rhenald Kasali: The Powerhouse).

Ditambah korupsi dan prilaku konsumtif, lengkaplah sudah. Kemakmuran takkan bisa menyebar untuk seluruh lapisan masyarakat. Seperti Emir-emir Arab Saudi pada 1970-an yang berlomba-lomba membeli properti, berfoya-foya, dan berbelanja barang-barang mahal (Stiglitz: hal 226).

Seharusnya Negara kaya sumber daya alam memiliki “ban serep”. Menyimpan uang disaat booming. Untuk digunakan disaat resesi. Norwegia adalah contoh yang baik. Minyak meningkatkan PDB-nya sampai 20% dan ekspor meningkat 45%. Perusahaan minyak milik negara berjalan efisien. Mereka tahu cadangan akan habis dalam 70 tahun, dan telah menyisihkan keuntungan dalam dana stabilisasi sebesar 150 milliar dolar (hal 232).

Tampaknya kita belum memiliki visi. Tentang energi masa depan. Seperti Shell yang telah memiliki road map energi dunia 2050 (terima kasih Darwin Silalahi, CEO Shell Indonesia atas kuliah umumnya pada maret lalu).

Seperti Rockefeller yang ketika melihat pengeboran minyak untuk pertama kali, tiba-tiba memiliki visi: suatu saat minyak akan didistribusikan lewat pipa-pipa keseluruh rumah tangga di Amerika.

Dan kita membutuhkan seorang Rockefeller Indonesia.


Responses

  1. Berkunjung menjalin relasi dan mencari ilmu yang bermanfaat. Sukses yach ^_^ Salam dari teamronggolawe.com

  2. yoi bos

  3. Tulisannya bagus, tidak terlampau sulit dipahami oleh kalangan non ekonom seperti saya. Sudah terpikir untuk dikirim ke media cetak ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: