Posted by: Yoga PS | 25 May 2010

5000 dari Ibu

We know the price of everything, but value of nothing

(Oscar Wilde)

Pras datang membawa cerita-cerita bermakna. Ia bercerita. Tentang ibunya.

“Kowe (kamu) tau ga Yog, waktu aku mau ke Jakarta, aku bilang sama Ibu. Ibuku Cuma bilang: waduh le (nak), si mbok Cuma bisa nyangoni selamet.

Terus Yog, ia ambilkan duit. Lima ribu yog. Lima ribu untuk sangu ke Jakarta. Wah, rasane piye ngono (rasanya gimana gitu). Bukan jumlah lima ribunya. Tapi pemberiannya itu lho”.

Kami berdua tersenyum. Senyum yang berbeda. Ada rasa haru pada senyum pras. Lima ribu. Lima ribu dari Ibu. Bagi kita yang terbiasa meminta berjuta-juta dari orang tua, lima ribu tak berarti apa-apa.

Tapi bagi kawanku, Pras, seorang warrior of life, lima ribu dari seorang Ibu adalah segalanya. Saat orang tua tak sanggung memberikan bantuan materi, maka sesuatu yang bersifat supra-materi bekerja.

Dan Pras benar-benar bekerja. Bekerja dengan keras. Menjadi penunggu loket Terminal Giwangan dimalam hari. 3 tahun dijalani. Ia juga harus mengayuh sepeda 20 km ke kampus untuk kemudian berkutat dengan teori ekonomi. Pras juga pernah menjadi guru les, wartawan majalah kampus, dan aktif dalam dunia karya tulis. Pernah beberapa kali menjadi juara. Terakhir pada 2009 di UI. Juara 2. Ia juga memperoleh beasiswa.

Tuhan memang tidak tidur. Ia akan memberikan jalan bagi mereka yang berjalan dan mencari jalan. Tidak diam.

“Mintalah dan akan diberikan kepadamu. Carilah dan engkau akan menemukan. Ketuklah dan niscaya akan dibukakan kepadamu…Karena setiap yang meminta, menerima; dia yang mencari, menemukan; dan ia yang mengetuk, akan dibukakan”. Matius 7: 7-8

“Karena sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan”.

Tinggal selangkah lagi Pras akan menjadi sarjana ekonomi. Meski tidak mudah. Sudah 2x ini ia gagal ujian akhir. Harus mengulang. Hey, apakah ia benar-benar “mengulang”? Bukankah kata Kant: ”Die Schöpfung ist niemals vollendet”. Penciptaan tak pernah usai. Hidup bukanlah serangkaian repetisi.

“Aku pingin Yog, kalo udah tinggal wisuda kubawa orang tuaku ke Grha Sabha. Biar jadi kejutan bagi mereka”.

Bukankah hidup penuh dengan kejutan? Seperti Tuhan yang menyembunyikan takdir kepastian dalam kabut kemungkinan. Surprise. Bagi orang tua tercinta kita. Berita gembira tentang anaknya yang akan menjadi manusia seutuhnya. Berilmu dan berguna bagi sesama.

Kado terindah bagi Ibu. Hanya untuk Ibu. Yang memberi lima ribu dalam nominal rupiah, tapi trilyunan dalam jerih payah.

Jika saya menjadi Pras, uang lima ribu dari tangan ibu itu. Akan kupandangi. Kugenggam erat-erat. Lalu kucium. Lamaaaaaa sekaliiiiii. Seperti mencium tangan ibu sendiri.

NB: Maaf Kawan, Cuma bisa memberi dukungan lewat tulisan. Bagi yang membaca, tolong doakan Pras lulus ujian lisan. Bulan depan.


Responses

  1. go pras goooo..jadi malu gw yang idupnya serba ada tapi skripsinya lebih lama dari dia.hehe

  2. saya juga hehehe

  3. keren ceritanya

    go go mas PrAS…. smga lulus ujian nya

    ibu…..slu menenangkan

  4. udah lulus dia… ketrima beasiswa S-2… skrang lagi nyari tambahan sponsor😀

  5. browsing-browsing nggak tahu napa nyasar kesini..
    mengharukan banget…

  6. T_T

  7. terharu…

    *brebes*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: