Posted by: Yoga PS | 20 June 2010

Ekonomika Piala Dunia dan Ereksi Ekonomi

Masih segar diingatan kita tentang rencana PSSI untuk mencalonkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Sebuah ide yang cukup kreatif (sebagian orang menyebutnya mimpi). Tapi setidaknya kita sekarang tahu kalau PSSI kita juga bisa bermimpi (tidak cuma bisa “tidur” pulas, lalu bangun saat pemilihan ketua yang bisa ditebak hasilnya).

Tentu partisipasi Indonesia sebagai tuan rumah Putaran Final Piala Dunia adalah mimpi seluruh bangsa. Tapi pertanyaannya adalah, Apa manfaat Piala Dunia bagi perkembangan Indonesia? Apakah Menjadi tuan rumah benar-benar menguntungkan?

Dalam Jangka Pendek = Viagra

Dalam jangka pendek, Piala Dunia dapat menjadi stimulus perekonomian. Membawa windfall rejeki. Secara sederhana: durian runtuh.

Ini seperti meminum viagra dengan dosis untuk kuda lalu dikurung dalam sebuah kamar terkunci bersama dua wanita bugil yang mirip Luna Maya dan Cut Tari. Kita sebut saja ”ereksi ekonomi”.

Editorial Jawa Pos pada 14 Juni 2010 menggarisbawahi manfaat piala dunia ini:

”….Jika semua tiket di seluruh permainan terjual, total pendapatan dari tiket mencapai USD 717 juta…
Di luar pendapatan langsung itu, Afsel akan mengantongi USD 2 miliar dari industri pariwisata dan USD 1,1 miliar dari penjualan ritel. Selain uang cash, dampak tidak langsung adalah terciptanya stimulus ekonomi baru. Dari even itu, 695 ribu pekerjaan tersedia, sekitar 5 miliar orang seluruh dunia akan menonton, dengan lebih dari 18 ribu perusahaan media dan 50 ribu wartawan asing melaporkan peristiwa tersebut selama 30 hari terus-menerus. Bisa dipastikan, citra Afsel akan terangkat di mata dunia.
…juga mengangkat nilai ekspor produk tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia hingga 15 persen menjadi USS 11 miliar. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyebutkan, Piala Dunia 2010 mendongkrak order perlengkapan sepak bola, terutama kaus dan sepatu.
….Piala Dunia juga menggeliatkan penjualan elektronik, omzet kafe, produk makanan ringan seperti kacang dan snack, termasuk BUMN penjual setrum PLN. Khusus di wilayah Jawa-Bali, konsumsi listrik selama piala dunia naik hingga 2.000 megawatt…”

Hal ini sejalan dengan penelitian Grant Thornton (2004) yang menghitung manfaat Piala Dunia yang setara USS 3 milyar untuk ekonomi Afrika Selatan dalam bidang pariwisata. Penelitian berdasarkan asumsi 230.000 turis asing yang datang dan menginap selama 15 hari.

Bohlmann and van Heerden (2005) menghitung bahwa even Piala Dunia mampu menciptakan lebih dari 50 ribu pekerjaan. Kejuaraan yang menghabiskan biaya konstruksi sebesar 1,8 milliar ini mampu memberikan peningkatan 1,5% GDP.

Edisi Piala Dunia sebelumnya pada 2006 telah memberikan laba US$ 206 juta bagi Jerman selaku tuan rumah. Untuk penerimaan televisi dan hak pemasaran, FIFA mendapatkan US$ 2,4 milliar untuk piala Dunia 2006. Pengeluaran untuk hadiah dan akomodasi tim 295 juta dollar. Total biaya 704 juta. FIFA mengeruk laba 1,9 milliar dollar untuk even tersebut (Maenig dan Plessis:2007).


Dalam Jangka Panjang = Buang-buang Uang

Fakta yang menarik justru hadir dalam jangka panjang. Berdasarkan penelitian empiris dari even piala dunia dan olahraga pada umumnya, ternyata menjadi tuan rumah Piala Dunia dalam jangka panjang sangat jarang berdampak signifikan terhadap ekonomi. Atau kalau ingin bahasa sederhananya: buang-buang uang!!!. (Okay, saya mengaku: ini bahasa hiperbolis saya)

Dalam sebuah studi pendapatan dan pengangguran setelah Piala Dunia Amerika Serikat 1994, Baade dan Matheson (2004) mencoba meneliti “manfaat” penyelenggaraan piala dunia bagi perekonomian daerah tuan rumah. Hasilnya pertumbuhan ekonomi dimayoritas kota tuan rumah jatuh. Sembilan dari 13 kota mengalami penurunan ekonomi, setara 9 milyar dollar AS.

Hagn dan Maennig (2007) menemukan fakta bahwa Piala Dunia 2006 tidak berdampak signifikan terhadap pengangguran dalam jangka pendek. Meskipun bandara Frankfurt melaporkan kenaikan 1.7% penumpang pada July 2006 dibanding tahun lalu. Tingkat hunian hotel justru TURUN 2,7% dibandingkan Juni 2005. Bahkan di Berlin dan Munich, turun sampai 11,1% dan 14,3 %.

Hasil ini semakin diperkuat oleh penelitian yang dilakukan Szymanski. Szymanski (2002) mengumpulkan data 20 negara dengan GDP terbesar yang pernah menyelenggarakan olimpiade atau piala dunia. Menggunakan regresi sederhana, ternyata pertumbuhan ekonomi Negara tersebut justru turun ditahun penyelenggaraan even!!!.

Penyelenggaraan even kurang/tidak berdampak signifikan terhadap pendapatan regional atau pengangguran juga diamini oleh banyak penelitian lain. Seperti Baade, 1987. 1994; Baade and Dye, 1988; Baade dan Matheson, 2002; Baade dan Sanderson, 1997. Penelitian oleh Coates and Humphreys (1999, 2000, 2002,2003) dan Teigland (1999), bahkan menunjukkan penyelenggaraan even-even olahraga justru berdampak negatif terhadap perekonomian.

Mahal

Fakta yang tak dapat dihindarkan jika Indonesia ingin menjadi tuan rumah Piala Dunia adalah harga. Piala Dunia adalah even yang mahal. Proposal Jerman menyebutkan anggaran 571 juta dollar AS. Pada kenyataannya Jerman menghabiskan 1,9 milliar dollar untuk stadion, dan 2,7 milliar untuk infrastruktur lain. Untungnya 60% pengeluaran dibiayai klub dan sector swasta. Afsel sendiri menghabiskan dana sekitar USD 4,3 miliar, atau 1,72% dari PDB negeri Nelson Mandela tersebut.

Untuk membangun stadion saja dibutuhkan US $1.388.9 juta (lihat tabel) atau sekitar Rp.12.777.880.000.000. Anda bingung melihat nol-nya? Alergi terhadap angka? Mari kita tulis:

“Dua belas trilyun tujuh ratus tujuh puluh tujuh milyar dan delapan ratus delapan puluh juta rupiah.” (ini kurs abal-abal Rp9.200/US $. Jika besok tiba2 saya menjadi gubernur BI dan kurs menembus Rp15.000 maka angkanya bisa berubah).

Kita belikan saja gorengan tempe Rp. 500. Kita akan mendapatkan 25.555.760.000 gorengan. Dengan asumsi satu gorengan memliki “luas” 10 x 5 cm maka uang pembangunan stadion akan bisa menutupi daerah seluas 3833,36 hektar dengan gorengan!!!! (Mengapa tidak sekalian membuat stadion dari gorengan?)

Sosok “wonderkid” seperti Gayus Tambunan pun harus melakukan reinkarnasi sebanyak 122,8 kali kehidupan (semoga tidak kecemplung didunia binatang) untuk mengumpulkan uang sebanyak itu. (Dengan asumsi harta gayus 104 milyar saat ini, maka dibutuhkan urunan dari 122,8 Gayus).

Ini baru stadion. Belum pembangunan infrastruktur, akomodasi, dan biaya lainnya. Pertanyaannya, bisakah kita menyelenggarakan Piala Dunia?

(Cara paling murah tentu saja membangkitkan lagi Bandung Bondowoso. Si developer 1000 candi. Ini bisa dilakukan jika Anda mulai menderita schizophrenia dan percaya pada penulis yang mempercayai Jurassic Park)

Catatan Untuk Indonesia

Produk domestik bruto (PDB) Indonesia hanya 2.667 trilyun rupiah (data BPS semester 1 2009), atau sekitar 289,91 milyar dollar AS (asumsi nilai tukar Rp9.200). Jika dibutuhkan biaya seperti Afsel yaitu sekitar 4,3 milyar dollar (tanpa memperhitungkan inflasi dan purchasing power parity), maka biaya tersebut sudah 1,48% dari PDB Indonesia.

Secara teori dan kemampuan ekonomi, Indonesia bisa menyelenggarakan Piala Dunia. Tapi tidak untuk saat ini. Disaat masih ada 32,53 juta (14,15 persen) orang miskin pada Maret 2009. Ketika jumlah penganggur pada Februari 2009 sebesar 9,26 juta. Tidak saat defisit APBN Rp 133,7 triliun masih ditomboki dari utang.

Terpilihnya Afsel sebagai tuan rumah Piala Dunia kali ini juga tidak steril dari masalah. Perampokan wartawan Portugal, bobolnya ruang ganti tim Inggris, sampai demo pekerja hanyalah sekelumit permasalahan yang ada. Belum lagi tingkat keamanan di Afsel masih meragukan.

Masalah utama yang menghantui: kemiskinan. Afrika Selatan berencana menjual 2,7 juta tiket senilai 638 juta dollar. Harga rata-rata tiket US$ 236 (Deister:2006). Harga yang cukup mahal dimana pengangguran masih 27% dan pendapatan bulanan hanya sekitar US$ 280. Sekedar perbandingan, harga tiket liga local Afsel rata-rata hanya US$ 2,8.

Daripada bernafsu menjadi tuan rumah Piala Dunia, akan lebih baik jika kita berfokus untuk meningkatkan fundamental perekonomian. Memperbaiki infrastruktur, mempersiapkan energi agar tidak byar pet, belajar membuat tabung gas yang aman, berinvestasi pada pendidikan, mengurangi pungli dan korupsi, dan berhenti membesar-besarkan kasus “mirip-miripan” video porno.

Tentu dibarengi dengan peningkatan kualitas sepakbola Indonesia. Terus mendukung pengembangan pemain usia dini, pembinaan berjenjang, pembenahan kompetisi, mempertegas aturan main, berharap agar supporter tidak rusuh, dan bermimpi klub sepakbola tidak mengemis APBD lagi.

Untuk mengenal kata maju, tampaknya ketua pengurus sepakbola Indonesia harus mengenal kata mundur.

Referensi
Florek, Magdalena, Tim Breitbarth & Francisco Conejo. Mega Event? Mega Impact? Travelling Fans’ Experience and Perceptions of the 2006 FIFA World Cup Host Nation. Journal of Sport & Tourism Vol. 13, No. 3, August 2008, pp. 199–219
Jawa Pos 14 Juni 2010.
Kaplanski, Guy and Haim Levy. Exploitable Predictable Irrationality: The FIFA World Cup Effect on the U.S. Stock Market. Journal of Financial and Quantitative Analysis vol 45 no 2 April 2010. 535-553
Maennig, Wolfgang dan Stan du Plessis. World Cup 2010: South African Economic Perspectives and Policy Challanges Informed by the Experience of Germany 2006. Contemporary Economic Policy Vol 25 no 4 October 2007. 578-590


Responses

  1. Mantap kakak Yoga. Dan iya sekarang kurs dolar lagi stabil di kisaran 9200 rupiah.
    Oiya, gw suka pengandaian Gayus dan tempe untuk menggambarkan kemaksiman anggaran piala dunia!

  2. penelitian yang menyebutkan indikator ekonomi menurun setelah piala dunia memang menarik. menurunnya dibandingkan dengan saat piala dunia atau sebelum piala dunia? kalau dibandingkan dengan sebelum piala dunia tentu saja, lebih banyak mudharatnya…

  3. heheheh agak repot klo mbandingin pake relasi koefisien antara kamu dengan pikri.. hihihi

  4. iya tuh kata jurnal2

  5. Tsamina mina eh, eh
    Waka waka eh, eh
    Tsamina mina zangalewa
    This time for Africa

    salam kenal gan..

  6. hehhee salam kenal gan.. bagi cendol

  7. Gayus Tambunan itu ga bereinkarnasi Ga…
    Tapi bikin klonengan…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: