Posted by: Yoga PS | 31 July 2010

Asketisme Anggito Abimanyu

Saya pernah mengambil kuliah Pak Anggito Abimanyu (Anggito) tahun 2007. Mata kuliah PEREK INDO. Perekonomian Indonesia (ada lagi mata kuliah cabul: BINAL = Bisnis Internasional… emang intelektualitas orang mesum tak jauh dari selangkangan :D).

Sebenarnya kuliah itu tak wajib. Saya mahasiswa jurusan manajemen. Itu mata kuliah untuk anak ilmu ekonomi. Tapi hasrat untuk menuntut ilmu (huekkk), dan penasaran dengan Pak Anggito yang cukup terkenal, membuat saya rela menambah 3 SKS di transkrip (sebuah kebiasaan “buruk” jika Anda ingin menjadi anak baik2 dan lulus cepat, total saya mengambil 163 SKS, dan belum lulus2 juga :p).

Pilihan waktu itu ada dua. Boediono yang saat itu masih menjabat Menko Ekuin. Dan Anggito. Banyak anak yang terpesona posisi Pak Boed berbondong-bondong mengambil kelas beliau. Tapi saya tahu. Kelas Pak Boed itu membosankan. Bikin ngantuk. Sangat berbeda dengan Pak Anggito. Begitu menarik dan menyenangkan. Ada insight tentang pengambilan kebijakan yang dijelaskan.

Jika Anda kebetulan hadir dikelas, pasti Anda akan dijelaskan raison d’etre (alasan) sebuah kebijakan perekonomian. Mengapa kebijakan ini yang diambil. Apa risikonya. Apa tujuannya. Dan apa implikasinya. Penjelasan yang tak akan Anda dapatkan dibuku manapun. Ini ibarat bertanya langsung pada pelaku sejarah.

Analoginya perbedaannya adalah seperti melihat Miyabi di video dan melihat langsung ia “main” (Astaghfiruloh… dasar mesum!!!! Cuma buat analogi aja bos heheheheh).

Kecewa

Dan jujur saja saya agak kecewa mengambil mata kuliah itu. Pertamax, karena saya mendapat C (hiks… hiks…). Kedua, karena Pak Anggito super sibuk, sehingga yang lebih banyak mengajar adalah wakilnya (Pak Anggito biasanya datang sebulan maksimal 2x). Meskipun wakilnya juga kompeten. Rata-rata juga sudah S3 dan berpengalaman menjadi staff ahli. Tapi tetep saja, penjelasannya akan berbeda.

Alasan ketiga mengapa saya kecewa adalah subtansi isi mata perkuliahan yang tak sesuai ekspektasi. Saya tak perlu menjelaskan lebih panjang. Intinya mata kuliah PEREK INDO yang saya ambil berbicara tentang SEJARAH perekonomian Indonesia. Dengan metode yang membosankan. Tak ada analisa sejarah kritis. Kita hanya mempelajari data dan fakta tentang perekonomian Indonesia dimasa lalu. Jikapun membahas ekonomi saat ini, lebih pada penjelasan kebijakan pemerintah. (mungkin karena ini ya… saya dapat C hehehehe… bisa aja alesan).

Pergi Untuk Kembali???

Saya bertemu lagi dengan Pak Anggito di Kompasiana MoDis Sabtu pagi (31/7/10). Entah mengapa, ia terlihat berbeda. Rambutnya terlihat lebih putih. Lebih tenang. Dan tampaknya lebih ikhlas dan lepas menjalani hidup.

Mungkin karena sudah tak ada embel-embel jabatan yang membayangi. Topic yang diserbu oleh kompasianer Jogja (anak2 Canting). Pertanyaan “mengapa pergi?”, masalah “reformasi birokrasi”, sampai “cita-cita masa kecil” menjadi sedikit pertanyaan dari obrolan yang ringan tapi berisi tadi pagi.

Obrolan berjalan dengan hangat. Dibuka oleh Koala Band (imut banget namanya), Anggito menjelaskan kalau dulu “kesasar” di ekonomi. Cita-cita kecilnya ternyata sama dengan cita-cita anak zaman sekarang: menjadi artis!!!!. (Musisi lebih tepatnya).

Setelah bercerita tentang pengalamannya, dia membuka alasan mengapa “pulang kampung” ke Jogja. Sebagai sebuah bentuk “perlawanan” terhadap system birokrasi. Tentang kerinduannya mengajar, dan optimisme perekonomian yang masih on the right track.

Ketika ditanya apakah ia bersedia kembali. Jawabannya: tidak untuk saat ini. (wah besok bisa donk Pak? :D)

Asketis

Yang pasti ia menjadi manusia asketis pagi ini. Banyak bercerita tentang agama. Manusia yang sudah mengerti arti dunia, maka tak akan mengejar dunia. Karena seperti kata Seneca: harta takkan bisa membuat manusia menjadi kaya.

Anggito ingin kembali ke kampus, mengajar dengan baik, menjadi role model bagi mahasiswa, dan focus pada pengembangan sumber daya manusia. Kunci daya saing perekonomian bangsa.

“Untuk apa sih hidup?” salah satu pesan yang saya dengar.

“Waktu bapak saya meninggal, saya lihat kuburan, dan ternyata ga ada apa2 koq disana”.

“Bukankah kita hidup untuk akhirat? Meskipun untuk mencapai akhirat, kita perlu dunia”

Lalu ia berpesan tentang good corporate governance. Tentang menjadi pemimpin sekaligus role model. Yang amanah. Yang sederhana. Yang focus. Yang professional. Sebuah kritik atas system birokrasi yang amburadul dan penuh conflict of interest. System yang sering membuat orang-orang baik tapi kritis, angkat koper.

Salah satu pesan yang akan sangat praktikkan:

“Yang penting Anda jujur…. Ketika Anda mati maka Anda akan ditanya dari mana harta Anda….”

Ya..ya…ya… Bapak. Pesan buat saya yang muda dan masih berlumuran nafsu dunia. Pagi ini cuaca di Jogja sangat cerah. Secerah perasaan seorang anak muda yang menemukan pencerahan.

Mungkin benar kata George Moore: Laki-laki berkeliling dunia untuk mencari apa yang dibutuhkannya, dan pulang ke rumah untuk mendapatkannya.

Mantan Mahasiswa Anggito Abimanyu, doakan lulus tahun ini🙂


Responses

  1. gw juga bantu doa biar lo lulus tahun ini deh :p

  2. amiinnnn

  3. Jadi, harapan dari uliah pak anggito tidak tercapai ya ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: