Posted by: Yoga PS | 10 August 2010

Stimulus-Respon

Ternyata ada cerita unik dari kisah sukses penulisan buku bestseller 7th Habit of Highly Effective People karya Stephen Covey. Waktu itu ia sedang cuti mengajar, dan berjalan-jalan ke Hawai. Di perpustakaan kota, ia menemukan sebuah buku yang ia sendiri sudah lupa pengarangnya.

Isi buku inilah yang menginspirasi Covey untuk menulis 7th Habit dikemudian hari. Apa isi bukunya? Isinya sederhana. Kita-kira seperti ini: “Ada ruang antara stimulus (rangsangan) dan respon yang bisa kita kendalikan”. Inti dari buku Covey adalah itu. Tak kurang. Tak lebih.

Apa yang kita lakukan dalam hidup, adalah respon terhadap stimulus yang kita terima. Stimulus yang positif berakhir dengan respon yang positif. Vice versa. Sebaliknya. Pernah dengar cerita tentang menantu yang ingin meracuni Ibunya?

Belum? Wah sayang sekali, saya sedang malas nulis panjang-panjang (tulisan ini adalah selingan saat saya sedang stuck dalam menulis skripsi).

Menantu yang Ingin Membunuh Mertuanya

Okay, saya tahu Anda akan kecewa dan memutuskan untuk tidak meneruskan membaca tulisan ini jika tidak saya ceritakan. Tapi please… tak usah sedih dan membaca dengan mata mengiba dan berkaca-kaca seperti itu :p.

Ceritanya bermula saat seorang menantu yang tidak akur dengan mertuanya. Apa saja yang ia lakukan, selalu disalahkan oleh sang mertua. Mulai dari masakan yang kurang enak, cucian yang tidak bersih, sampai rumah yang sering berantakan.

Saking mangkelnya, menantu ini mendatangi seorang tabib (anggap saja persis engkong di iklan Axis). Ia meminta dibuatkan racun untuk membunuh mertuanya. Setelah mendengar keluhan sang istri, berpikir, akhirnya ia menjawab:

“Baiklah, anakku. Akan kubuatkan racun untuk mertuamu. Tapi ada syarat untuk itu”

“Apa Kek, syaratnya? Jangan syarat yang macem-macem dan mesum ya..” jawab sang menantu.

“Oh nggak koq… yang mesum kan yang nulis cerita ini… mau  nulis skripsi malah nulis ginian..”

“APA SYARATNYA KAKEK???” rupanya sang menantu sudah tak sabar.

“Setelah kamu taburkan obat ini ke teh mertuamu, kamu jangan sampai membuatnya marah. Selalu tersenyum didepannya. Menerima segala kritikannya. Setia melayaninya. Terus berlapang dada juga bersikap ramah dan lembut terhadapnya”.

Sebulan berlalu. Sang menantu kembali dengan air mata berlinang. Ingin diberi obat penawar. Ia mengaku, sikap mertuanya jauh berubah. Tak pernah lagi mencela dirinya didepan suami, bersikap lembut terhadap dirinya, dan memuji-muji jika ia memiliki menantu paling baik di dunia.

Untungnya ramuan yang Kakek berikan hanyalah Tropicana slim… (cerita dari audio CD Adrie Wongso dengan modifikasi sana-sini).

Aksi-Reaksi

Aksi reaksi adalah kaidah fisika. Tertulis sebagai sebuah aturan yang baku dan pasti berlaku. Reaksi yang kita dapatkan adalah hasil dari aksi yang kita lakukan. Seperti gema. Apa yang kita suarakan. Akan kembali kita dengarkan.

Namun, bagaimana jika kita mengalami stagnansi? Disinilah peranan stimulus. Saya kurang sependapat dengan anggapan: “kita tidak bisa mengatur stimulus yang kita terima, tapi kita bisa mengontrol respon yang kita berikan”.

Mengapa? Karena seperti kata Arvan Pradiansyah dalam bukunya You Are the Leader, kepemimpinan adalah masalah pilihan. Demikian juga dengan perubahan. Semua itu adalah pilihan. Kitalah yang menentukan akan dipergunakan hidup kita. Bagaimana cara mengisi waktu kita. Apa keputusan yang kita ambil. Apakah menjadi orang baik, orang jahat, koruptor, atau organisator.

Mereka yang mengalami stagnansi seharusnya berpikir untuk mengubah stimulus mereka. Bukan hanya masalah respon. Untuk itulah diperlukan hijrah. Berpindah tempat. Bertemu orang baru, hal baru, ide baru, tempat baru, bertemu dengan diri kita yang baru!!!.

Stimulus Spiritual

Ramadhan adalah stimulus spiritual special. Langsung diberikan oleh Allah swt. Ramadhan memberikan rangsangan yang luar biasa untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sebulan ini, pintu rahmatnya dibuka. Perbuatan baik mengalami double posting dalam akun pencatatannya. Setan-setan seperti saya dijebloskan ke neraka. Dan kata #maaf menjadi trending topics.

Coba perhatikan media televisi (salah satu barometer kebudayaan). Semua tiba-tiba menjadi islami. Banyak yang tiba-tiba mengenakan jilbab. Prime time bergeser menjadi jam 3 dini hari. Ustadz kebanjiran order. Tariffnya juga mengalami inflasi. Tak ketinggalan panti asuhan ramai. Masjid tiba-tiba buka 24 jam.

Tuhan sudah memberikan stimulus. Sekarang semua kembali pada respon yang kita berikan. Hanya melewati bulan ramadhan seperti bulan-bulan kebanyakan. Atau ingin mengisinya dengan kebaikan? Ingin menjadi manusia yang sama dengan setahun yang lalu. Atau ingin menjadi manusia yang baru?

Selalu ada “ruang” diantara stimulus dan respon.

selamat menunikan ibadah puisi


Responses

  1. 😀

  2. :p


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: