Posted by: Yoga PS | 14 August 2010

Semakin Cepat

Mari kita pergi ke Yogyakarta untuk melihat taraweh tercepat di jagat raya…

Y, seorang pemuda. Baru dua tiga. Masih mahasiswa. Belum lulus-lulus juga. Bercita-cita jadi pengusaha. Sempat memiliki beberapa perusahaan dibidang agrobisnis dan otomotif. Dan alhamdulilah. Bankrut semua.

Jarum pendek jam diangka 7. Jarum panjang diangka 5. 7 lewat 5.

Y sedang menjalankan peran sosialnya. Menjadi pemuda harapan bangsa untuk mengharumkan nama Indonesia dimata dunia. Y seperti biasa, sedang melakukan ritual lintas spiritual yang dilakukan 7 dari 10 mahasiswa dengan orientasi seksual normal. Y sedang bermain sepakbola didunia maya.

Alhamdulilah. Terpujilah konami. Terima kasih tuhan bernama teknologi. Y masih bisa menuntaskan hasrat bawah sadarnya untuk memainkan sikulit bundar. Dengan berat badan 105 kg, Y lebih cocok menjadi bola daripada pemain bola. Bola daging. Meatball.

Persija melawan Besiktas. 0-2. Penyisihan grub D liga Chiampion Eropa. Hey,  sejak kapan Persija ada di Eropa???

Beginilah jika PSSI mati suri. Tak ada liga Indonesia disini. Tapi terpujilah Patch ISL PES 2010. Laknatlah Belanda. Berkat kreativitas beberapa pemuda Indonesia yang tak terima dengan tak diterimanya liga Indonesia, kita berhasil menjajah Belanda. Sebuah pembalasan setelah 350 tahun. Akhirnya kesampaian 65 tahun sesudahnya.

Maka PSV Endhoven berubah menjadi persija. Dan Bambang Pamungkas masih bermain disana. Dengan stat pas-pasan jangan lupa.

Tiba ada panggilan. Tuhan memanggil lewat pengeras suara. Saatnya waktu sholat isya.

Nanggung. Pertandingan masih satu babak. Baru menit 18. Tertinggal dua gol pula.

Kemudian Y ingat. Dunia masih bisa ditunda. Tapi sepakbola… tak mungkin ditunda. Hahaha.

Y menyelesaikan satu babak. Masih 0-2. Untuk Besiktas sementara unggul atas PSV Eindhoven yang tiba-tiba berkostum oranye dan berbanner Persija.

Tuhaaannnnnn aku datangggg….

Y berlari ke kamar mandi. Bukan untuk onani. Tapi untuk menyucikan diri. Tak lebih dari 47 detik, ia sudah memakai sarung. Tanpa celana didalamnya.

Y mulai mendaki. Puncak kerinduan pada Tuhan. Ekstase spiritual. Trance. Pertemuan transendental holistis yang mengalahkan logika materalisme dialektis.

TV masih menyala. Disamping kanan. Metro TV. Masih berbicara tentang Abu Bakar Ba’asyir. Disamping kiri. Persija Besiktas harus ditunda. Buku Tan Malaka Dari Penjara ke Penjara masih berserakan. Terbuka dihalaman tiga puluh tiga. Jilid dua.

Rakaat pertama bagaikan naik pesawat concorde dengan pengawalan voorijder udara. Sangat cepat dan lancar. Tak sampai satu menit. Y sudah memasuki gear 2. Menginjak Gear 3. Dan terakhir gear 4. Tiba-tiba hand break. Ngepot plus pivot seperi slalom. Salam.

Y mengalami ejakulasi dini. Orgasme spiritual kurang dari 3 menit.

Ternyata itu baru foreplay. Saatnya main course. Sholat taraweh dengan formasi 4-4-3. Total football. Hidup adalah penyerangan. Penyerangan adalah pertahanan terbaik. Y  tak peduli meskipun jika amal ibadahnya tak tercatat. Karena Y tak tahu berapa kecepatan mentatat dari seorang malaikat pencatat.

Bukankah kita harus berlomba-lomba dalam kebaikan? Dan bukankah yang paling cepat yang akan memenangkan lomba? Begitu bunyi pemikiran sesat yang ada dibenak Y.

Mulut Y mulai berkomat-kamit. An-nas. Al-ikhlas. Al-Ashr. Dan bacaan di rakaat terakhir yang selalu tak jangkep. Memori Y untuk surat-surat di Al Qur’an hampir sama dengan memori tag yang efektif untuk google. Maksimal 5. Lebih dari itu maka tak efektif.

Maka jadilah Asy-Syam yang putus sekolah. Dan Ad- Dhuha yang tak mampu melanjutkan perjalanan. Setidaknya kita sudah berusaha. Itu yang ada di otak Y.

4-4-3 yang berisi penuh repetisi.

Tak sampai dari 10 menit.  Y duduk kelelahan. Ternyata sholat dimalam hari bisa menjadi olahraga kardiogram pembakar kalori. Terpujilah Tuhan. Satu kewajiban telah diselesaikan. Y merebahkan diri. Kepanasan. Tak lupa kipas angin dihidupkan.

Y merasa puas. Spiritualitas telah berpadu dengan produktivitas. Sebuah sinergi aktivitas yang penuh kreativitas.

Y bangga telah menjadi manusia abad 21. Yang serba efektif, efisien, dan terukur. Y kembali mengingat-ngingat teori-teori ekonomi tentang produktivitas. Bagaimana scientific management dari Taylor. Bagaimana hygiene factor. Bagaimana kaizen Jepang. Bagaimana ilmu manajemen modern mengajarkan kita untuk menjadi semakin cepat dan cepat. Produktif dan produktif.

Seekor semut melintas didekat Y. diambilnya semut itu. Diamatinya dari dekat. Mengapa semut berjalan begitu lamban? Mengapa semut harus mengambil makanannya secara manual? Mengapa semut tidak menciptakan roda berjalan seperti Henry Ford untuk mengambil makanan?

Ingin rasanya menguliahi semut tentang manajemen distribusi dan supply chain management. Tak ketinggalan system Just in time. Tapi Y tahu, semut tetaplah semut. Meskipun kita meletakkannya di pesawat, semut tetaplah berjalan seperti semut.

Dan manusia, tetaplah manusia.

Y kemudian teringat Yasraf Piliang. Tentang Dunia yang Berlari. Tentang globalisasi. Tentang dunia yang bergerak semakin cepat setiap hari. Ya… manusia yang semakin cepat. Rasanya hidup ini kurang jika menghabiskan 24 jam sehari.

Kita butuh proses yang semakin cepat. Seolah-olah waktu abad 21 sudah tidak 24 jam lagi. Makanan yang disajikan semakin cepat. KTP yang diurus semakin cepat. Koneksi internet yang semakin cepat. Sampai waktu beribadah yang semakin cepat…

Tapi untuk urusan kematian, kita ingin semuanya menjadi semakin lamban.

Waktu telah menjadi komoditas itu sendiri kata Baudrillard. Dan ukuran produktivitas telah mereduksi makna waktu yang bernas dan penuh vitalitas.

Seorang pengendara mobil yang melintasi hutan takkan bisa mencium aroma kayu. Melihat kelopak bunga yang mekar. Mencicip buah yang sedang ranum. Seorang yang terburu-buru takkan bisa menikmati esensi perjalanan melintasi waktu.

Kita harus berhenti Kawan. Turun. Menikmati. Lalu mensyukuri. Penuh perasaan. Dalam kelambanan.

Dan ramadhan mengajak kita berhenti sejenak. Turun dari hiruk pikuknya “mobil dunia”. Mencoba keluar untuk menikmati perjalanan yang sejati. Mengobati kerinduan hasrat sebagai makhluk ilahi.

Kita membutuhkan puisi. Seperti kata Marx, manusia modern seharusnya mencari ikan disiang hari dan menulis puisi dimalam hari. Surealisme magis menjadi semakin modis. Cerita-cerita tentang daun yang jatuh, setetes embun, atau  puisi sederhana tentang senja, menjadi semakin bermakna.

Cepat.cepat.cepat.

L-a-m-b-a-t…….L – a – m – b – a – t ……. L   –   a    –   m   –   b   –   a   –   t………

Y tersenyum.

Diluar turun hujan. Dalam tempo lamban dan perlahan.

gambar dari http://nickroshon.com/wp-content/uploads/2010/02/Go-Faster-WordPress-Racer.jpg


Responses

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Adriano Susanto, yoga ps. yoga ps said: tulisan terbaru tentang "teraweh tercepat sejagat raya" http://bit.ly/c1lYVs […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: