Posted by: Yoga PS | 15 September 2010

Jebakan Offside

Peternak sapi dikampung nenek saya bingung. Harga sapi terus mengalami penurunan. Sapi yang semula berharga 12 juta ++ kini bisa didapatkan tak lebih dari 10 juta saja. Padahal harga daging di pasaran terus naik. (Ya Tuhan, tolong ampuni pedagang daging yang ngambil untung kebangetan)

Weqs, koq bisa harga sapinya turun ya? Tentu saja bisa. Presiden kebo saja bisa diturunkan klo mau, masa sapi nggak bisa?

Tangan Tuhan

Salah satu penjelasan paling sakti dalam ekonomi adalah konsep tentang “tangan-tangan gaib” dalam pasar. Artinya, pasar memiliki mekanisme internal untuk mengatur dirinya sendiri. Ga perlu diurusi dan campur tangan pemerintah, pasar sudah mengurusi dirinya sendiri.

Bagaimana cara kerjanya? Kembali pada pelajaran ekonomi bab I halaman 1 yang diajarkan di kelas 1 SMP diseluruh Indonesia: teori permintaan dan penawaran.

Permintaan yang tinggi menyebabkan naiknya harga. Penawaran yang tinggi menyebabkan turunnya harga.

Nah, salah satu sebab jatuhnya harga sapi dikampung nenek saya adalah: banyak peternak yang terperangkap “offside”.

Jebakan Offside

Tak Cuma sepakbola saja yang memiliki aturan offside. Dalam bisnis juga ada aturan “offside”. Offside dalam sepakbola berarti menerima umpan dan berhadapan satu lawan satu dengan pemain belakang terakhir (bisa defender atau kiper, sehingga gol Carlos Vela yang dianulir di pembukaan Piala Dunia 2010 dapat digolongkan offside).

Sedangkan dalam bisnis, offside juga sama. Menerima “umpan pasar” yang sudah ditinggal “pemain belakang” lain!!! Contohnya gini:

Anda punya tetangga depan rumah sekaligus saingan bisnis yang sangat Anda benci. Anda melihat dia sangat sukses berjualan es lilin. Lalu Anda menirunya. Ikut-ikutan berjualan es lilin. Eh…. Besoknya ternyata tetangga Anda sudah tidak berjualan es lilin. Tapi malah jualan jas hujan!!!.

Terperangkap offside berarti memasuki pasar yang benar diwaktu yang salah. Anda bisa meniru kesuksesan tetangga jika berjualan es dimusim kemarau, tapi jika musim hujan? Tentu lebih baik berjualan jas hujan.

Masalahnya banyak pebisnis yang terperangkap offside. Berbisnis asal ikut-ikutan. Hanya kagum melihat kesuksesan orang lain. Lalu menirunya. Tanpa pertimbangan analisa pasar. Lagi ngetrend Lou Han, ikut-ikutan ternak Lou Han. Ngelihat orang sukses buka warung pecel lele, ikut-ikutan buka pecel lele.

Jangan Cuma Ikut-ikutan

Meniru sih boleh saja, tapi kita harus mempertimbangkan aspek “kejenuhan” pasar. Karena jika terlalu banyak supply, harga bisa jatuh. Apalagi jika kita tidak menciptakan inovasi dan diferensiasi, maka barang kita hanya menjadi komoditas generic.

Ingat: bisnis yang KELIHATANNYA menguntungkan saat ini, belum tentu menguntungkan DIMASA DEPAN. Saya percaya butuh pengalaman lapangan bertahun-tahun untuk memiliki insight dan sense of business yang kuat. Semacam “indera ke-6” untuk menemukan peluang bisnis yang menguntungkan.

(Ilmu ini tidak cukup dipelajari hanya dengan membaca. Meski ada beberapa buku bagus yang membahas bagaimana cara membaca pasar, dan meramalkan trend. Karena saya masih mudik dipelosok timur pulau Jawa, jika ada kesempatan akan saya tuliskan khusus untuk Anda).

Saya juga sudah pernah terperangkap offside saat mencoba bisnis peternakan pada tahun 2009-2010 (sekarang dah bangkrut >.<). Saat itu harga telur bebek berkisar 1000-1100/butir. Nah karena melihat peluang, saya dan teman pun mencoba masuk.

Dan kami terperangkap offside. Pasar sudah jenuh. Banyak pemain lain yang ikut-ikutan jadi peternak karbitan. Priiitttt…. Oversupply telur. Tangan Tuhan di pasar mulai bergerak. Harga jatuh menjadi 600 rupiah saja!!! Dan bendera offside sudah dikibarkan…

Demikian pula dengan kasus sapi di kampung nenek. Banyak orang melihat menjadi peternak sapi menguntungkan. Lalu ikut-ikutan “menyerang” (menjadi peternak). Tanpa melihat posisi “pemain belakang” (kejenuhan pasar).

Disaat semua orang dikampung ikut beternak sapi dan terjadi oversupply, maka tangan Tuhan akan mengeluarkan peringatan kartu kuning berupa jatuhnya harga.

Dan bendera offside sudah dikibarkan…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: