Posted by: Yoga PS | 26 September 2010

Surat Kematian

Coryell-deviantartSeorang tukang pos terjatuh didepan rumahku. Tukang pos yang malang. Harus kehilangan nyawa dengan posisi melintang. Kubaringkan ia diberanda. Didekat pohon mangga. Kubiarkan sepeda motor bebek oranye itu meraung-raung dijalan raya.

Ditangannya ada sebuah surat. Dengan amplop coklat dan prangko abu-abu. Kuambil kiriman itu. Kulihat siapa pengirimnya. Tidak ada siapa-siapa. Kulihat sapa penerimanya. Aku tak mengenalnya.

Kurogoh dompet tukang pos. kucari kartu tanda pengenalnya. Siapa tahu dia adalah anggota teroris yang sedang mengantarkan sebuah misi rahasia.

Hanya ada KTP dan secarik kertas lusuh yang sudah kusut didompet itu. Sebuah tanda tentang sebuah pesan yang penuh tanya. Sebelum sempat kubaca. Tukang pos yang sudah mati ini tiba-tiba berdiri. Lalu berpidato panjang sekali:

“Saya sudah 30 tahun menjadi tukang pos. Menjadi tukang pos adalah panggilan hidup. Weltanchaung. Ini sudah tertulis didalam kitab kejadian sebelum menjadi kenyataan. Bahwa saya, Ahmad Subekti, diciptakan untuk melakukan pengiriman.

Jibiril. Ya Jibril. Saya hidup seperti jibril. Menjadi utusan Tuhan. Apa bedanya jibril dengan saya? Bukankah kami sama-sama menjadi kurir saja?

Selama 30 tahun mengabdi, saya, Ahmad Subekti, tidak pernah gagal dalam mengantarkan surat. Biar hujan badai. Biar gunung meletus. Biar kiamat sekalipun. Asal tidak gerimis. Pasti saya terjang. Bahkan saya memiliki sebuah moto hidup: Mengantarkan surat atau mati!

Tapi kali ini, saya tak bisa menemukan alamat surat ini. Surat terakhir untuk hari ini. Aib. Sungguh sebuah aib. Ahmad Subekti, tidak bisa mengantarkan surat! Apa pertanggungjawaban saya di akhirat nanti? Sungguh memalukan. Sebuah surat adalah amanat Tuhan yang harus disampaikan.

Padahal saya sudah berputar-putar kesana kemari diseluruh dunia. Mencoba mencari alamat untuk sang surat. Juga sudah bertanya kesiapa saja. Termasuk rumput yang bergoyang. Bahkan google saja tidak bisa menemukan alamat surat ini!

Untuk apa hidup jika tidak memiliki tujuan hidup? Bukankah tujuan dari hidup adalah untuk hidup dengan tujuan?  Padahal seorang Ahmad Subekti memiliki prinsip: Mengantarkan surat atau mati.

Dan kali ini, karena saya gagal mengantarkan surat, maka saya harus mati. Sekian.Terima kasih”

Setelah berbicara berapi-api. Tukang pos kembali mati. Pidato perpisahan yang seolah-olah menjadi requiem pengiring kematian. Tak lupa aku ikut bertepuk tangan.

Kubaca nama dan alamat di KTP tukang pos. Kubandingkan dengan surat yang ada ditanganku.

Tukang pos yang baik hati. 30 tahun mengabdi. Tapi belum pernah menerima surat untuk dirinya sendiri.

Tukang pos yang kasihan sekali. Ia tidak lagi mengenali. Alamat surat untuk dirinya sendiri.


Responses

  1. uwow..
    yoga,saya suka ini, direnungkan dulu.

  2. ga usa serius2 non @_@

  3. uwoooh…aku ngerti
    kayaknya maksud dr pesan ini adalah
    itu surat(an) takdir dari Tuhan untuk tukang pos agar mati, hari ini
    ya kan..bang Yog
    ;D

  4. waduh aku juga ga tau neng…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: