Posted by: Yoga PS | 30 September 2010

Bejatnya Dongeng Indonesia

Ternyata, dongeng Indonesia itu penuh dengan pelajaran korupsi dan tipu muslihat. Mungkin ini yang menyebabkan prilaku sebagian masyarakat Indonesia penuh dengan kelicikan, kemunafikan, dan berbagai trik untuk mengkadalin orang lain. Tentu tidak semuanya. Masih banyak yang penuh muatan moral positif.

Tapi saya punya tiga contoh cerita rakyat yang seharusnya tidak diceritakan lagi:

Kancil

saifulislam.com

Siapa yang tidak kenal tokoh ini? Tentu banyak. George Bush dan jutaan anak Amerika mungkin tidak kenal kancil (bener tho?). Tapi di Indonesia kancil begitu populer. Populer dengan kecerdikan yang sebenarnya penuh kebohongan dan jauh dari pesan kejujuran.

Masih ingat tentang Kancil sang pencuri ketimun? Saat tertangkap si kancil lalu membohongi anjing Pak Tani. Mengatakan jika ia akan diajak ke pesta. Anjing yang sudah seperti wartawan infotainment karena termakan gossip dan tidak mengenal kata cross check ini langsung percaya. Si kancil kembali Berjaya.

Saat membaca cerita ini ketika SD berabad-abad yang lalu (umur Om Jin berapa?), tak lupa dibumbui pesan moral: Anak-anak, jadilah seperti kancil yang cerdik. Wow… kancil memang cerdik. Cerdik untuk urusan membohongi dan memanipulasi!

Cerita kancil dan pak tani tidak mengajarkan pentingnya arti sebuah kejujuran dan tanggung jawab. Berani berbuat, berani menanggung akibatnya. Justru kancil dipuji karena bisa melarikan diri. Sebuah pelajaran untuk membohongi orang lain demi keselamatan diri sendiri. Luar binasa!

Tangkuban Perahu

ryry12.wordpress.comIni adalah dongeng terbejat menurut saya. Karena ada tiga hal heboooohhh (pake logat Wim Cycle):

Pertamax. Beastialist. Bercinta dengan hewan. Ckckckck… Saya tidak percaya zaman dulu fantasi seksual nenek moyang kita sudah seliar ini. Tapi itu kenyataannya. Dayang sumbi menikah dengan Tumang (seekor anjing) ketika berhasil mengambil pintalan benangnya yang jatuh (mungkin Frisbee terinspirasi dongeng ini). Hebatnya lagi, perkawinan mereka bisa menghasilkan anak (mungkin istilah doggy style terinspirasi dongeng ini ;D).

Lalu Incest. Hubungan sedarah. Saat Sangkuriang jatuh cinta kepada Dayang Sumbi, ibunya sendiri. Entah ramuan anti aging system apa yang dipakai Dayang Sumbi. Atau memang Sangkuriang dasarnya mengidap Oedipus Complex. Bergairah dengan babon tua. Yang jelas, cinta mereka sempat bersemi. Sebelum Dayang Sumbi meraba kening Sangkuringan dan sadar jika pemuda ini adalah anaknya sendiri. (Saya tidak tahu kening yang diraba itu kening beneran atau “kening” yang lain – ngeres mode On)

Then manipulasi. Lagi-lagi soal manipulasi. Saat Dayang Sumbi meminta syarat dibuatkan waduk dan ketika hampir selesai, ia berdoa kepada dewa, tiba-tiba ayam berkokok lebih cepat. Matahari lalu terbit. Syarat itu telah gagal. Dan Sangkuriang yang ngambek menendang perahu yang hampir jadi itu. Jedeerrrr… jadilah Tangkuban Perahu.

Bandung Bondowoso feat fade to black membangun 1000 candi

gesercursor.com

Legenda ketiga yang tak kalah busuk dan absurd adalah cerita tentang Roro Jongrang dan developer 1000 candi Bandung Bondowoso. Saat pembangunan dilakukan dan sudah hampir jadi, Roro Jonggrang mengetuk lesung untuk membangunkan ayam. Ayam yang berkokok kemudian membangunkan matahari. Dan Roro Jonggrang kembali dipuji.

Lagi-lagi soal manipulasi. Cerita-cerita diatas tidak mengajarkan nilai-nilai ksatria tentang pentingnya kejujuran. Berani menerima kekalahan. Fair play sesuai aturan. Jujur. Kata yang sangat dibutuhkan bangsa ini. Tanpa kejujuran, tak ada transparansi. Takkan ada pemerataan pembangunan. Ketidakjujuran adalah penyebab hancurnya birokrasi dinegeri ini.

Mungkin kasus-kasus korupsi negeri ini terinspirasi dongeng diatas. Cerita-cerita yang kurang mengedepankan nilai kejujuran. Justru memuji jika bisa menyelamatkan diri. Mengakali peraturan itu sendiri. Padahal, sebuah cerita mampu menjadi inspirasi bagi pembaca. Terutama bagi anak-anak yang masih hidup dengan penuh imajinasi.

Pendidikan Anti Korupsi

Usaha KPK yang berusaha memasukkan kurikulum anti korupsi mulai tingkat sekolah dasar patut mendapat apresiasi. Namun, seperti tujuan penulisan artikel sampah ini: kita harus mengawasi cerita yang kita ceritakan kepada anak kita (untungnya saya masih perjaka ting-ting ^_*).

Karena cerita adalah simbol organisasi yang menggunakan ekspresi verbal atau tertulis (Martin:1983, Mitroff dan Kilmann: 1976, Trice dan Beyer: 1993). Sebuah cerita mampu berperan sebagai alat akumulasi modal sosial. Alat penyampai nilai-nilai social tentang kondisi ideal yang ada dimasyarakat.

Bahkan menurut Michael Lounsbury and Mary Ann Glynn dalam Cultural Entrepreneurship: Stories, Legitimacy, and the Acquisition of Resources (2001) sebuah cerita dalam  story telling memegang peranan penting dalam pembentukan budaya kewirausahaan. Sebuah cerita dapat menjadi role model inspiration bagi seorang yang masih bingung akan apa yang harus dilakukan.

Sebuah cerita tidak hanya menjadi sekedar bacaan yang kemudian dilupakan. Cerita akan meresep ke alam bawah sadar. Mempengaruhi pikiran kita. Mempengaruhi perkataan kita. Mempengaruhi tindakan kita.

Ini seperti pesan dibuku-buku cara cepat sukses, kaya, dan beristri tiga:

Watch your mind, it will become word. Watch your word, it will become action. Watch your action, it will become habit. Watch your habit, it will become character. Watch your character, it will become your destiny.

Perhatikan pikiranmu, pikiran akan menjadi kata. Perhatikan katamu, kata akan menjadi tindakan. Perhatikan tindakanmu, tindakan akan menjadi kebiasaan. Perhatikan kebiasaanmu, kebiasaan akan menjadi karakter. Perhatikan karaktermu, karakter akan menjadi takdirmu.

Perhatikan takdirmu, takdirmu akan menjadi mukamu… hahahahah klo ini saya tambahin sendiri :p

****

Saya masih ingat betul cerita tentang Kancil dan Buaya. Jadi suatu hari kancil hendak menyeberang sungai. Tiba-tiba kaki kirinya tergigit buaya. Kancil tidak kehilangan akal.

“Hey Buaya, mengapa kamu menggigit kakiku yang sudah mati? Kakiku tidak nikmat lagi. Kenapa tidak menggigit kakiku yang masih lincah?” kata kancil sambil menggoyang-goyangkan ketiga kakinya yang lain.

Entah sutradara cerita membayar berapa si Buaya sehingga mau melepaskan gigitan dan kancil langsung melompat pergi. Mungkin juga si Buaya juga belum membaca bird in the hand theory dalam pelajaran investasi.

Ketika kemarin membaca berita tentang Bupati terdakwa korupsi yang “berpura2 mati”, lalu setelah mendapat grasi tiba-tiba belajar menyanyi, saya seperti membaca cerita kancil versi masa kini.


Responses

  1. sepakat mas. sepertinya kita butuh dongeng-doneng baru yang lebih berkualitas, setidaknya biar anak kita nanti gak konsumsi cerita sampah macam si kancil tadi. mari buat :p

  2. buat apa neh? buat cerita ato buat anak? (upssss)

  3. bener yog…
    negeri kancil..

  4. kan udah ada cicak buaya heheheh

  5. Tp ga pertanyaannya apakah dongeng it sebuah rekayasa apa kejadian nyata…? mungkin kl dongeng yg no 1 dah pasti it rekayasa, nah yg nomor 2 dan 3 it nyata apa tidak? (rak nyata kok rumangsaku terlalu memaksa, n lebeyyy, hahahaaaa)

  6. dongeng mah boong2an bos. tapi kan anak2 tetep nganggep percaya hehehhe

  7. nice post….bisa jadi, saat ini negeri kita mirip dongeng__

  8. you’re really a excellent webmaster. The website loading speed is incredible.

    It kind of feels that you are doing any distinctive trick.
    Moreover, The contents are masterwork. you have
    done a wonderful process on this subject!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: