Posted by: Yoga PS | 22 October 2010

Bagaimana Cara Menjinakkan Gajah Liar???

Anda ingin tahu caranya? gampang. Cukup tembakkan obat bius ke gajah, lalu selagi tertidur ikat kakinya dengan rantai besi. Cantolkan rantai itu ke pohon besar seperti lambang partai golkar atau semacamnya. Atau bawa masuk ke kandang.

Setelah bangun? Dimulailah proses rekayasa social. Kita mengubah kebiasaan sang gajah. Sementara ia mulai panic dan mencoba melepaskan diri, kita memberinya makan. Proses ini dilakukan terus menerus sampai gajah terkondisikan bahwa akan selalu ada makanan yang ia bisa santap, dan ia akan merasa aman.

Terus? Cobalah ganti rantai besi dengan tali biasa. Pasti si gajah takkan lari. Karena ia tetap merasa terikat. Juga sudah merasa aman, nyaman, dan terjamin kesejahteraannya (Anda bisa menawarkan asuransi dan program pensiun jika mau :p). Jika ia benar-benar jinak, bahkan tali sudah bisa dilepas, maka si gajah akan menuruti perintah Anda.

Cara ini juga bisa kita terapkan untuk menjinakkan istri paling liar sekalipun.

10.000 jam Habitus

Menurut sebagian ahli psikologi, kita adalah makhluk yang dibentuk oleh kebiasaan (habitus). Aliran ilmiahnya disebut behavioralist. Dengan tokoh bangkotannya Pavlov.

Percobaan Pavlov yang terkenal adalah air liur anjing. Setiap memberi makan anjing (dan membuat anjing itu meneteskan air liur), Pavlov selalu membunyikan bel. Dan ternyata setelah menjadi kebiasaan, air liur anjing tetap keluar meski Pavlov hanya membunyikan bel dan tidak memberikannya makanan. Artinya?

Manusia membentuk kebiasaan, dan kebiasaan membentuk manusia. Membiasakan berbuat baik akan menjadikan kita orang baik. Vice versa. Sebaliknya. Kebiasaan buruk menjadikan kita orang jahat.

Bahkan keahlian apapun didunia ini didapatkan dengan kebiasaan. Latihan yang diulang-ulang. Bisa karena biasa. Itu aturannya. Bakat yang tidak dilatih dan dibiasakan, akan menjadi tindakan biasa. Tindakan biasa yang dilatih dan dibiasakan, akan menjadi bakat.

Malcolm Gladwell dalam Outliers menyebutkan hukum 10.000 jam didalam pola-pola kesuksesan. Setiap jawara dalam bidangnya (ilmuwan, pengusaha, penulis, atlet, pelacur, perampok dll) selalu menghabiskan 10.000 jam berlatih untuk bisa dikatakan expert (ahli). Berapa jam Anda sudah berlatih dibidang Anda? Berapa jam saya sudah mengerjakan skripsi? Loh koq….

Anda tahu mengapa Bill Gates bisa berjaya meskipun  drop out dari Harvard ditahun kedua kuliahnya? Karena ia sudah berlatih 7 tahun mengutak-atik program computer sejak bersekolah di Lakeside!!!.

Lalu The Beatles. Ternyata Beatles memiliki kawah Candradimuka di Hamburg. Saat Beatles masih band cupu, mereka menjadi band pengisi bar. Disanalah mereka berlatih stamina, konsistensi, dan bertemu aliran music lainnya. Selama di Hamburg mereka bermain selama 270 malam dalam waktu satu setengah tahun. Itu terjadi antara tahun 1960 sampai 1962. Sebelum album mereka meledak pada 1964, mereka sudah manggung lebih dari 1.200 kali.

Apa yang kita dapatkan ketika dipaksa manggung 8 jam sehari? Mari kita tanya arwah John Lennon:

“Kami menjadi lebih baik dan memiliki rasa percaya diri yang lebih besar. Kami mendapatkan semua itu karena mendapatkan pengalaman bermain sepanjang malam…

…di Liverpool, kami hanya melakukan sesi selama satu jam saja, dan kami hanya memainkan nomor-nomor kami yang terbaik, lagu yang sama, pada setiap sesi… Di Hamburg, kami harus bermain selama 8 jam lamanya jadi kami benar-benar menemukan cara baru memainkan music kami”.

Latihan Spiritual

Metode latihan, pengekangan, dan pembiasaan juga ada dalam ranah spiritual. Para orang suci selalu berusaha mengekang “gajah” didalam diri mereka. Membius sang gajah dengan berpuasa atau meditasi, lalu melatih sang “gajah”. Termasuk melakukan latihan fisik yang diluar batas kewajaran.

Dalam cerita tentang Zen disebutkan Ji Guang bermeditasi selama tiga tahun untuk belajar kepada Bodhidharma. Setelah itu, ia terus berdiri didepan ruang meditasi gurunya. Ditengah hamparan salju. Hingga salju itu setinggi lutut. Gurunya tak ingin mengajarinya sebelum salju menjadi merah. Dengan tenaga dalam, Ji Guang lalu memotong tangan kirinya dan membuat salju menjadi merah.

Bodhidharma kemudian bertanya, “Apa yang mengganggumu?”

“Pikiranku menggangguku. Tolong tenangkan pikiranku guru”, Jawab Ji Guang.

“Keluarkan pikiranmu dan aku akan menenangkannya”.

Tiba-tiba Ji Guang tersenyum, “Aku mencari pikiranku namun tidak dapat menemukannya. Aku tidak memiliki pikiran!”

“Kau telah sadar!”. Bodhidharma lalu mengajarkan Sutra Lankavatara.

(bingung tentang makna ceritanya? Jika Anda membaca The Complete Book of Zen karya Wong Kiew Kit-sumber cerita diatas, maka Anda pasti akan jauh lebih bingung. Saya yang nulis aja bingung @_@)

Setiap agama pasti memiliki cara menjinakkan sang gajah. Saya tidak tahu agama Anda. Dalam agama saya, kami mengenal praktik berpuasa selama sebulan penuh saat ramadhan. Ketika itu gajah diajak diet. Dilatih mengendalikan kekuatannya. Mengarahkan kekuatannya. Karena gajah terliar adalah gajah didalam diri kita sendiri.

Nah, setelah beberapa bulan ramadhan berlalu, bagaimana kabar gajah Anda? Saya tidak akan berceramah, karena saya bukan penceramah (juga bukan pawang gajah meski badan saya mirip gajah). Saya hanya ingin bertanya:

Apakah kita masih tetap bersemangat melakukan kebaikan meski tidak dibulan ramadhan? Apakah kita masih menyantuni anak yatim? Memberi makan orang miskin? Apakah masih tetap bersedekah? Bagaimana kabar sholat malam? Apakah kita masih menyentuh kitab suci? Mempererat silaturahmi?

Atau sang gajah sudah kembali kehabitatnya semula? Terus mengamuk dan memuaskan nafsunya. Memakan apa yang bukan miliknya. Mengambil apa yang bukan haknya. Mengapa kita menganggap sang gajah sudah jinak dan berani membuka kandangnya?

Untuk itulah kita harus ingat hukum 10.000 jam. Dibutuhkan latihan keras dan terus menerus untuk menjinakkan sang gajah. Tidak ada pengendalian yang instant. Semua butuh kesabaran, ketekukan, pengorbanan.

Bukankah sesama muslim harus saling mengingatkan dalam kebaikan?

Sayangnya saya menulis ini untuk mengingatkan diri saya sendiri. Persetan dengan Anda. Hahaha.

dibutuhkan pembiasaan, kesabaran, dan ketekunan untuk melatih naga

 

Terima kasih sudah membaca. See u next week🙂


Responses

  1. waah sayah ga akan bisa jadi expert dalam bidang apapun kecuali tidur kalo gitu

  2. klo kita latihan sejam sehari, maka dibutuhkan 10.000/365 x 1 jam = 27 tahun untuk bisa ahli

    klo kita menghabiskan waktu 5 jam sehari (anggep aja jam kerja) maka butuh : 10.000/365 x 5 = 6 tahun untuk bisa ahli!

    Bisa to?😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: