Posted by: Yoga PS | 29 October 2010

Parsimoni

“Skripsi ini ditulis bagi mereka yang ingin membunuh para mahasiswa, dosen, akademisi, dan praktisi dengan pikiran over complicated sophisticated. Para pendosa yang membuat bisnis berubah dari sesuatu yang sederhana memenjadi monster yang rumit dan sulit!!!”

Saya selalu kagum dengan kesederhanaan. Parsimoni. Kemampuan melakukan penyederhanaan untuk hal-hal yang dianggap rumit. Sebuah teori yang baik pasti memiliki prinsip parsimoni. Mampu membentuk pola-pola yang berlaku secara umum. Secara sederhana.

Sayangnya penyakit orang pintar itu, belum puas jika belum dianggap pintar. Celakanya, kita justru menganggap hal-hal rumit dan tidak kita kuasai sebagai hal yang hebat, dan orang yang mengucapkannya, pasti pintar.

Jika kita bicara tentang uang. Tentu semua mengerti uang dan beberapa dari kita jatuh cinta dan bersedia menikah dengan uang. Apa yang terjadi jika saya mulai berbicara aspek teknis tentang uang. Misalnya saya menjelaskan inflation targeting framework, trinitas moneter, gold standard, Grisham law, dan berbagai kata teknis komposisi bumbu Indomie: Gluten, Kalium Karbonat, Karboksi Metil Selulosa, Natrium Polifosfat, Natrium Karbonat, Tartrazine CI 19140….

(Cukup…cukup… WOW kakak… Anda pintar sekali!!!)

Inilah cara termudah untuk menjadi pintar. Gunakan kata-kata yang membuat Anda kelihatan pintar. Padahal saya sendiri tidak mengerti kata yang baru saja saya tuliskan :p.

Saran saya jika presentasi: buat pendengar mengerti akan presentasi yang kita sampaikan, dan jika tidak bisa, buatlah pendengar menjadi bingung dan tidak mengerti sehingga mereka terkagum-kagum akan kebingungan dan ketidakmengertian mereka sendiri.

Karena kita seringkali malu untuk bertanya. Malu mengakui ketidakmengertian kita. Malu terhadap kebingungan kita sendiri. Dan kita membuat alasan dengan mengatakan: hal itu terlalu rumit. Kita menolak kesederhanaan, hanya karena kita terjebak dalam kerumitan. Kita tidak belajar prinsip parsimoni.

Padahal seperti kata teman: Orang yang mengakui ketidaktahuannya akan terlihat bodoh selama setahun, tapi orang yang tidak mengakui ketidaktahuannya akan terlihat bodoh selama bertahun-tahun.

Kemudahan

Oleh karena itulah kita membutuhkan pemikir besar, filsuf-filsuf, pemimpin-pemimpin, untuk menghadirkan kesederhanaan kedalam hidup kita. Parsimoni dikehidupan sehari-hari. Newton menjelaskan bekerjanya alam dalam teori gravitasi secara sederhana. Einstein mengemukakan teori sederhana tentang e=mc2. Adam Smith melahirkan teori ekonomi yang sangat sederhana.

Bahkan hampir semua Nabi, Rasul, dan pemuka agama, menjelaskan ajarannya secara mudah dan sederhana. Tak ada kesulitan dalam beragama.

Hampir semua barang yang ada dirumah kita, menganut prinsip parsimoni. Ingin lihat tivi, tinggal mencet remote. Mau masak, tinggal nyetet kompor. Gelap, tinggal mencet lampu. Kita tidak perlu mengerti hukum termodinamika fisika dan mekanika kuantum untuk mengemudikan mobil. Cukup masukkan kunci, dan tancap gas.

Semakin mewah dan mahal sebuah barang, semakin ia membawa kemudahan dan kesederhanaan.

Coba Henry Ford tidak lahir. Maka hidup kita tidak akan sederhana. Untuk kemana-mana kita harus membawa kuda, unta, dan segenggam rumput sebagai bahan bakar. Tanpa Steve Jobs, mungkin kita harus mengerti bahasa pemrograman untuk menjalankan operasi komputer. Bayangkan jika Graham Bell tidak menciptakan telpon, kita akan berkomunikasi dengan penuh kerumitan!.

Untuk mengucapkan “Met bobo…” kepada orang yang kita sayangi diluar kota saja, membutuhkan waktu berhari-hari baru bisa sampai. Itupun jika merpati yang kita utus tidak mati kehabisan nafas. Zaman sekarang? Cukup ketik di hape dan dalam waktu satu detik, pesan itu sudah diterima.

(tapi ada hikmah tersembunyi dibalik hape. Coba bayangkan jika teknologi handphone sudah ditemukan sejak zaman prasejarah, tak akan ada Olimpiade! Seperti kita ketahui, Olimpiade lahir ketika seorang pembawa pesan berlari menuju Athena. Jika sudah ada hape, mungkin berganti menjadi Olimpiade pengiriman sms. Who knows?)

Kesederhanaan

Jim Collins dalam Good to Great menjelaskan juga prinsip kesederhanaan yang ternyata berperan besar dalam kemajuan perusahaan. Syarat nomor satu bagi sebuah perusahaan yang ingin menjadi hebat adalah: memiliki pemimpin yang sederhana.

Berdasarkan riset selama 5 tahun terhadap perusahaan yang menjadi jawara selama 15 tahun didekade 90an, Jim menulis resep untuk menjadi pemimpin hebat:

KERENDAHAN HATI + KEMAUAN = TINGKAT 5

Pemimpin tingkat 5 adalah bauran paradoksal dari kerendahan hati pribadi dan kemauan professional. Mereka menunjukkan kesederhanaan yang menimbulkan kekaguman, tidak menonjolkan diri dan mengecilkan peran pribadi. Sebaliknya, 2/3 perusahaan yang biasa-biasa saja memiliki pemimpin dengan ego pribadi yang sangat kuat dan melupakan kepentingan perusahaan.

(Jika Muhammad Hatta doyan dugem dan tidak hidup sederhana saat studi di Belanda, kita mungkin belum merdeka)

Sepi Ing Pamrih, Rame Ing gawe kata pribahasa Jawa. Mereka adalah pemimpin-pemimpin dengan tingkah laku zuhud. Tidak terlalu cinta dunia. Padahal menguasai dunia. Mereka rata-rata tenang, rendah hati, sederhana, suka menyendiri, pemalu, sangat ramah, sopan, dan tidak percaya mengenai guntingan berita tentang dirinya sendiri.

Sayangnya pemimpin di Negara kita menerapkan parsimoni yang kelewatan. Seharusnya menjadikan masalah menjadi sederhana. Bukan justru menyederhanakan masalah.

Seperti ketua dewan yang dengan “sederhananya” menyuruh orang untuk pindah dari daerah bencana. Kalau eksekusinya bisa sederhana sih ga masalah. Kita bisa meminta bantuan pasukan jin Bandung Bondowoso.

Karena Indonesia rawan gempa, pindahkan saja rakyatnya ke Alaska. Karena di Indonesia banyak koruptor, pindahkan saja warganya ke Antartika. Karena sering banjir, pindahkan saja gedung parlemen dari ibukota. Sekalian saja ke laut biar tenggelam.

Sayangnya tidak sesederhana itu… dan mengutip puisi ‘Aku Ingin’ dari Sapardi Djoko Damono:

“Aku ingin membunuhmu dengan sederhana….”

jagoan kita

Terima kasih sudah baca. See u next week.


Responses

  1. 🙂 iya, tapi patokan sederhana itu apa? Apa bedanya menyederhanakan masalah dengan ‘menjadikan masalah menjadi sederhana’? Mungkin maksudnya, menawarkan solusi masalah yang sederhana?

    Anyway, nice posting

  2. nah itu dia, tingkat “kesederhanaan” seseorang berbeda2 hehehehe

  3. sorry, maksud menyederhanakan masalah tu menyepelekan masalah. rada2 ambigu sih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: