Posted by: Yoga PS | 19 November 2010

Proxy

Salah satu penyakit kemanusiaan modern adalah kegemaran melakukan perhitungan. Kejayaan perkembangan logika dan matematika telah meminta tumbal. Semua urusan membutuhkan ukuran. Justifikasi. Kuantifikasi. Penjelasan dalam bentuk angka-angka pasti. Termasuk untuk urusan hati.

Kehidupan butuh pengukuran. Karena pengetahuan membutuhkan kepastian. Aliran positivistic membangun bangunan pengetahuan dari serangkaian asumsi yang membutuhkan pengujian. Dan pengujian membutuhkan penghitungan.

Untuk itulah kita, manusia modern abad 21, menciptakan proxy. Sebagai jembatan pengukuran.

Untuk mengukur kinerja seorang direktur dipakai proxy pertumbuhan laba dan harga saham. Untuk melihat kecerdasan seorang mahasiswa dipakai proxy nilai IPK, tak lupa nilai UAN menjadi proxy lulus tidaknya seorang siswa SMA.

Kita mengukur kesuksesan seseorang dengan proxy kekayaan dan jabatan.  Proxy kecantikan menurut industry televisi adalah warna kulit, bentuk rambut, dan seberapa menggairahkannya bentuk badan Anda. Untuk mengetahui keshalehan seseorang kita menggunakan proxy ibadah yang ia lakukan.

Tapi bagaimana dengan niat. Bagaimana proxy untuk ukuran hati? Apakah kita bisa mengukur niat dan hati seseorang? Karena seperti kata Einstein:

“Tidak semua yang diperhitungkan bisa dihitung, dan tidak semua yang bisa dihitung, diperhitungkan.”

 

Ziarah

Dalam cerpen Ziarah karya sastrawan Rusia Leo Tolstoy, diceritakan dua petani tua yang ingin berziarah ke Jerusalem. Kota suci tiga agama. Efim Sechevelof dan Eliyah Bodroff.

Setelah menempuh setengah perjalanan, sampailah mereka disebuah desa miskin. Mereka menemukan sebuah keluarga yang hampir mati kelaparan dihajar musim dingin yang kejam. Disinilah mereka berbeda pendapat. Antara meneruskan perjalanan, atau tinggal memberikan bantuan kemanusiaan.

Efim memilih menunaikan “perjalanan suci” yang sudah ia cita-citakan. Ia melanjutkan perjalanan. Menuju panggilan Tuhan. Sementara Eliyah memilih jalan berbeda. Ia menghabiskan waktunya di jalan kemanusiaan. Membantu keluarga miskin yang hampir meninggal itu.

Dibuatnya api, dimasaknya bubur. Dirawatnya keluarga malang ini. Perbekalannya diberikan. Sisa uangnya digunakan untuk berbelanja kebutuhan di kota. Dan tak lupa membeli seekor keledai untuk membantu keluarga ini kembali bekerja. Eliyah harus melupakan niatan ziarah. Meski ia sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun mempersiapkan perjalanan suci ini.

Yang terjadi kemudian adalah keajaiban. Efim yang telah sampai ke Jerusalem, melihat Eliyah sedang berdoa di bukit Golgota. Ia melihat Eliyah ditengah gerombolan Jemaah. Efim sebelumnya tidak yakin, bagaimana Eliyah bisa sampai tepat waktu. Dan ia melihat Eliyah berdoa dikelilingi para peziarah. Seperti Santo. Orang suci. Dan Efim hampir tidak bisa mendekati Eliyah. Tapi dia yakin, lelaki tua itu adalah Eliyah. Tetangganya sendiri.

Haji Korupsi

Agama memang mengajarkan ritual. Tapi seringkali manusia membuat ritual hanya menjadi semacam symbol. Penanda secara semiotika. Sebagai pembeda dengan sesama. Hal ini diperparah dengan realitas bahwa agama bisa juga menjadi komoditas yang ternyata laku keras.

Itulah mengapa saya masih menganggap wajar jika ada koruptor yang bergelar haji. Hati dan niat seseorang adalah rahasia ilahi. Lagipula terbukti, gelar haji bisa menjadi proxy religiusitas seseorang yang bisa meningkatkan citra diri saat pilkada nanti.

Karena masalah hati tidak mengenal proxy. Kita takkan pernah tahu motivasi seseorang dalam beribadah. Demi menjawab panggilan spiritual, atau sekedar ritual yang bisa mengangkat derajat seseorang dalam kehidupan social.

Bapak teman saya yang mendaftar haji tahun ini, baru mendapat quota 6 tahun lagi. Menunjukkan betapa antusiasme masyarakat untuk menjawab panggilan ilahi. Sampai berkali-kali.

Apakah salah? Tentu tidak. Malah bagus. Menunjukkan kemakmuran ekonomi disatu sisi, dan motivasi beribadah yang tinggi sekali. Tapi ditengah ketimpangan si kaya dan si miskin yang semakin menganga, pertanyaan muncul: untuk apa berhaji berkali-kali jika tetangga kita tidak bisa makan 3x sehari? Seharusnya agama bisa menjadi solusi. Pembawa api utilitarian dan semangat untuk berbagi.

Dalam akhir cerita cerpen Tolstoy diatas, Eliyah tetap menganggap Efim hanya berhalusinasi melihat dirinya sampai ke Jerusalem. Karena ia tetap berada di desa miskin itu hingga Efim kembali. Sepertinya Tolstoy ingin berkata: urusan agama takkan berarti apa-apa jika tidak berbicara tentang manusia. Tak ada dikotomi Tuhan dan manusia dalam kebaikan. Karena Agama hadir untuk mencerahkan, sekaligus mensejahterakan kemanusiaan.

Untuk itulah perintah kurban lahir. Mengajarkan kita tentang esensi kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan sejati hadir ketika manusia kembali menjadi makhluk yang rela saling berbagi.

Hewan kurban yang kita sembelih hanyalah sebuah proxy. Darah dan dagingnya takkan pernah sampai ke Tuhan, tapi ketaqwaan seorang hamba-lah yang mampu naik, menembus langit, dan dicatat oleh para malaikat. Dan ketaqwaan itu memiliki sebuah proxy:

Kedamaian hati.

Love for the Arts by Delacorr


Responses

  1. Mantaps, Bro!!!

  2. yoi bro!

  3. ngomong-ngomong, nabi Muhammad itu pergi haji berapa kali ya?? setahu saya hanya satu kali, yakni pas haji Wada’
    (koreksi jika saya salah)
    hidup Nabi malah dipenuhi untuk urusan menolong orang…

  4. klo haji wada itu setahu saya yang terakhir bos… hehehhe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: