Posted by: Yoga PS | 12 December 2010

Susahnya Menjual Agama

islamic bankingIndonesia memang Negara anomaly. Banyak keanehan terjadi disini. Termasuk, untuk urusan agama. Indonesia adalah Negara dengan mayoritas penganut agama Islam. Tapi di Indonesia, label “Islam” ternyata tidak terlalu laku. Baik sebagai landasan ideologis politis, atau sebagai weltanschauung (pandangan hidup) ekonomis.

Dalam politik kita mengenal hukum Liddle. Teori yang dikembangkan William Liddle, seorang Indonesianis dari Ohio State University. Menurut Liddle, yang saya baca dari buku Rizal Mallarangeng, Kabar dari Langit (2007), politik di Indonesia pada akhirnya akan mengerucut pada dua kubu: sekuler-nasionalis versus kaum agamis. Sebuah dikotomi yang lagi-lagi mengingatkan kita pada Clifford Geertz tentang pembagian masyarakat jawa menjadi kaum santri dan abangan.

Tapi kalau saya boleh tanya, kapan terakhir kali partai Islam memenangkan pemilu? Karena 3x pemilu pasca reformasi dimenangkan golongan nasionalis. Tampaknya masyarakat Indonesia agak alergi dengan partai-partai berlandaskan agama. Bahkan Partai Sejahtera Katanya (PSK) sampai mengubah landasan ideologis mereka menjadi partai terbuka.

Untuk masalah ekonomi juga begitu. Perkembangan industry keuangan syariah masih memprihatinkan. Tampaknya kita benar-benar alergi dengan kata “Islam”. Jika Anda search di jurnal ilmiah mengenai “syariah banking”, Anda tidak akan menemukan apa-apa. Karena sebutan “Islamic banking” lebih populer, dan kata “syariah banking” sendiri hanya ada di Indonesia. Hal ini disebabkan ketatnya represi penguasa orde baru terhadap hal-hal yang berbau “islam”. Sehingga saat pengajuan izin bank Islam pertama di Indonesia, diusulkan kata “bank syariah” untuk memperhalus kata “bank Islam”.

Jumlah asset perbankan syariah masih kecil sekali, tak lebih dari 2,5% dari total Rp. 2.500 trilyun asset perbankan konvensional. Meski perkembangan industry ini cukup pesat. Bisa mencapai 30% setahun. Jumlah unit syariah juga sudah melonjak dari 550 kantor cabang pada 2005, menjadi lebih dari 1669 kantor cabang pada bulan Oktober 2010. Tapi tetap saja, dibutuhkan waktu hingga 2014, untuk memenuhi target kapitalisasi asset sebesar 5%.

Dalam Forum Riset Perbankan Syariah II (FRPS) yang terpaksa saya ikuti untuk mengejar makan siang gratis pada 9 Desember 2010, permasalahan klasik masih saja tetap sama:

1.       Market share rendah,

2.       SDM professional yang tetep kekurangan,

3.       Edukasi masyarakat yang masih butuh waktu,

4.       Dan praktik dilapangan sering menunjukkan tidak syariahnya bank syariah

Jujur saja, permasalahan ini sudah ada sejak dulu. Bahkan sejak seminar2 yang rajin saya ikuti (lagi-lagi demi makan siang gratis) dari tahun 2006, masalah yang dibahas ya Cuma itu-itu aja. Dan solusi yang ditawarkan koq ya tetep itu-itu saja. Cuma kali ini disertai data yang lebih update dan metodologi lebih canggih.

Islamic Paradox

Untuk masalah edukasi, saya merasa justru “keislaman” dan kalau boleh saya bilang “kearab-araban” inilah yang menjadi bumerang. Menjadi paradox antara kekuatan sekaligus kelemahan. Menjadi differentiation point, sekaligus kartu mati.

Seperti kita ketahui bank syariah memiliki kekuatan dari produk-produk bernafaskan Islam yang dijualnya (sama dengan Bank Sperma yang khusus menjual sperma :p). Ini adalah competitive advantage yang tidak dimiliki perbankan konvensional.

Penelitian dari Yudi Sutarso (2010) menyebutkan konsumen bank syariah memilih karena factor keIslamnya. Mereka adalah konsumen spiritual. Tidak peduli berapa return yang dibagikan, yang penting halal. Tapi jika pangsa pasar konsumen jenis ini Cuma 3%? Apa mau focus menjadi niche market player terus-terusan?

Seharusnya perbankan syariah tidak hanya berfokus untuk menjual “ke-syariah-annya”. Tapi juga berusaha menggarap 97% konsumen “oportunis” (minjem istilah Priyonggo Suseno). Konsumen yang memilih institusi keuangan dengan pelayanan paling plus plus dan return paling tinggi. Tidak peduli dengan landasan ideologis ekonomis.

Sayangnya masih terlalu banyak produk perbankan syariah yang dikemas “islami”, tapi justru menjadi sesuatu yang membingungkan masyarakat.

Anda tahu perbedaan Murabahah dan Muhasabah? Apa itu Musyarakah? Apa bedanya dengan Musyawarah? wajar kalau Anda tidak tahu. Karena saya sendiri yang nulis juga enggak tahu. Toss. Hahahaha.

Inilah yang membuat penetrasi industry syariah agak lambat. Mereka menciptakan produk yang tidak familiar dengan pasar. Bagaimana jika Wali Sanga (9 Wali) menyebarkan islam dengan cara yang sama? Bagaimana jika mereka datang kepasar, ceramah soal akidah dan qur’an, mencap halal haram. Lalu membagi-bagikan 1 juta alqur’an gratis untuk dibaca masyarakat. Saya yakin pagi ini saya masih menyembah pohon dan roh-roh nenek moyang (bukannya sekarang masih Mas? :p).

Beda pasar beda pendekatan. Wali 9 menggunakan pendekatan budaya. Mereka tidak datang membawa islam sebagai sebuah produk. Komoditas. Tapi sebagai sebuah realitas. Dan realitas akan tetap menjadi realitas meski menggunakan berbagai macam medium penuh kreativitas (Jika Wali 9 masih hidup mungkin mereka akan membentuk Wali Band).

Jika saya jadi owner sebuah bank syariah, saya akan menggunakan pendekatan budaya. Saya akan mempreteli label-label “arab-araban” dan menggunakan muatan local. Endorser iklannya wajib orang non Islam. Sebagai bentuk universalitas dan profesionalitas (kayaknya Tung Desem Waringin cocok deh..). Tak lupa saya akan membuat Ipin dan Upin edisi special perbankan syariah. Sebagai sebuah usaha edukasi pasar sejak dini.

Context vs Content

Kita seringkali sibuk mengurusi kulit. Gimmick. Permukaan. Tapi melupakan subtansi. Seperti cerita-cerita spiritual diberbagai ajaran dengan berbagai versi agama. Diceritakan tiga orang pertapa tua yang terus berdoa. Suatu hari datang pemuka agama dari kota. Dia melihat kesalahan dari doa yang diucapkan para pertapa.

“Tolong ajarkanlah kami doa”. Para pertapa meminta.

Pemuka agama itu lalu mengajarkan sebaris doa. Dan setelah itu ia pun kembali kekota.

Beberapa bulan kemudian ia kembali untuk menengok para pertapa tua. Dan betapa kecewanya ketika ia tahu jika petapa tua telah melupakan doa yang diajarkannya.

“Tolong ajarkanlah kami doa”. Pertapa tua kembali meminta.

Pemuka agama kembali mengajarkan sebuah doa. Mereka bisa mengucapkannya dengan fasih. Pemuka agama yang puas lalu bergegas kembali ke kota.

Namun ketika perahu itu mulai berangkat, salah seorang pertapa mulai lupa doa yang baru saja ia hapalkan. Akhirnya mereka sepakat untuk menyusul sang pemuka agama.

“Guru.. guru… tolong ajarkanlah kami doa”.

Betapa kagetnya sang pemuka agama begitu melihat para pertapa mengejar dirinya dengan berlari-lari diatas air!

****

Bank syariah yang sejati bukan hanya bank yang menggunakan embel-embel syariah dibelakang namanya. Bukan Cuma teller berjilbab, cat ruangannya hijau, atau kata bunga diganti bagi hasil. Bank syariah adalah bank dengan nilai-nilai islam. Ekonomi berdasarkan keTuhanan, keadilan, keterbukaan, dan berlandaskan asas manfaat tolong menolong.

Saya lebih memilih punya bank kafir, tapi dalam praktiknya bernafaskan islam. Daripada bank yang katanya syariah, tapi pada praktiknya tak beda dengan lintah darat berkalungkan tasbih dan kitab suci. Karena setahu saya, Tuhan menurunkan agama bukan sebagai pemanis barang dagangan.


Responses

  1. mantab Yog…gw dukung lo jadi direktur syariah…hahahahahahha
    kalo lo butuh model, gw siap kok…wkwkkwkwkw

  2. brooeee…Tulisanmu sangat bagus kawan..tapi terlallu sudah dipahami..u berbicara antara mengritisi dan menjatuhkan..2 pemahaman butuh penjelasann,karna aku bukan ahli ekonm

  3. wah bahasanya udah wa turunin padahal. thx masukannya

  4. mantap

  5. yang manta kopinya apa susunya bos?😀

  6. Tulisannya muter-muter, mas. Kenapa untuk bicara tentang bank syariah saja harus pakai bicara tentang politik dan parpol islam dalam pemilu? Saya kira akan lebih enak jika langsung fokus ke ekonomi islam dan bank syariah.

    Satu lagi, saya kurang sependapat dgn tulisan mas. Kesan yg saya tangkap dari tulisan mas adalah mas merasa islam bs mjd jawaban dari segala permasalahan di Indonesia (kesan yg saya tangkap salah nggak?). Itu yg saya tdk sepakat. Bangsa ini terlalu heterogen untuk hanya disamaratakan penyelesaian masalahnya melalui islam dan sistem yang “islami”. Ya mas, terlalu heterogen. Termasuk orang-orang yg menyembah arwah nenek moyang dan pohon pun bagian dari bangsa ini.

    Maaf bila ada kata-kata yg kurang berkenan.
    Salam, 😀

  7. dah saya bales via email ya😀

  8. Good…. good… good…..

    aku suwe ra moco tulisan nang blogmu ga

  9. mangga bos

  10. wah tajam sekali analisanya mas… tapi kalo lihat lihat si emang bener juga

  11. setajam silet bos? kan udah dibanned hahahha

  12. Mantab brow. buat nambah pengetahuan.😉

  13. tulisan yang menarik, saya baru tahu soal tantangan2 bank syariah itu. ternyata masih banyak yang tidak syar’i dalam penerapannya. ada data soal ini? kalau dilihat dari ceritanya, pembahasan soal ini kan udah dimulai dari tahun 2006,..

    sangat senang kalau berkenan meminjami saya laporan risetnya, hehe..

    makasih..

  14. uda saya bales via email ya. thx

  15. Sama Bank Sami’un, dia kafir tapi islami

  16. kisah tentang pertapa yang minta diajari doa itu adalah cerpen karya dari Seno Gumira Ajidarma, kakak

  17. tu seno ambil dari cerita2 sufi kali… sempet ribut waktu cerpen dia menang cerpen pilihan kompas

  18. hmm…ironisnya buku kumpulan cerpen terbaik pilihan kompas tsb, diantara puluhan cerpen yg menang, buku itu diberi judul “Dodolitdodolitdodolibret” (karya SGA yg diperdebatkan)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: