Posted by: Yoga PS | 21 January 2011

Tiga Cerita Untuk Desti Sarah Sagita

Aku Tidak Tahu

Seorang calon doktor (Ph.D) menghadapi ujian sidang yang panas di salah satu universitas ternama di Amerika. Penelitiannya tentang bio molekuler mendapat tantangan keras dari promotor dan pengujinya. Namun, ia tetap mampu menjawab semua pertanyaan dengan baik dan meyakinkan. Hampir semua dosen penguji merasa puas, tapi ada seorang penguji yang masih ngotot dan terus mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Bahkan pertanyaan yang ia ajukan sudah tidak menyentuh subtansi penelitian calon doktor tadi.

Secara tiba-tiba sang penguji bertanya tentang sebuah penyakit yang menyerang ikan tertentu. Dengan terheran-heran dan bercampur ketegangan dia berpikir, “Mengapa dia bertanya tentang ini? Dan apa pula subyek yang ditanyakannya?” sambil memikirkan istilah asing yang ditanyakan dosen pengujinya.

Akhirnya, setelah terus dikejar, dengan berat hati, calon doktor tadi menghela nafas dan berkata, “Maaf, saya tidak mengetahuinya…”.

Mendengar jawaban itu, tiba-tiba sang penguji merasa lega. Ia tersenyum dan memandang calon doktor tadi. Dia terlihat sangat puas melihat mahasiswanya tidak dapat menjawab pertanyaan yang ia berikan.

Sang calon doktor terduduk lemas. Terbayang hantu kegagalan. Perjuangan riset bertahun-tahun bisa saja hancur karena sebuah penyakit ikan yang ia sendiri baru pertama kali mendengarnya. Tapi diluar dugaan, setelah pengumuman, ternyata sang calon doktor diumumkan lulus!

Saat berjabat tangan, dia bertanya kepada sang penguji tadi. “Apa jawaban dari pertanyaan yang Anda tanyakan tadi?” tanyanya penasaran.

“Saya tidak tahu”, jawab sang penguji tersenyum.

“Pardon me… Maaf…”

“Iya, itu jawabannya. Saya sendiri tidak tahu jawabannya. Saya menanyakan hal yang sebenarnya tidak ada. Anda sudah menjawab semua pertanyaan kami dengan saat baik saat ujian. Tapi disitulah masalahnya. Kita sebagai ilmuwan terkadang harus mengetahui ada hal-hal yang tidak bisa kita ketahui. Saya ingin Anda belajar hal tersebut”.

Nilai E

Cerita kedua berdasarkan pengalaman pribadi Rhenald Kasali saat sedang menempuh pasca sarjana di luar negeri. Ketika melihat nilai anaknya disekolah, dia merasa heran, mengapa essay bahasa inggris anaknya yang acak adut diberi nilai E yang berarti Excellent (luar biasa). Akhirnya ia “mengadu” ke guru tersebut. Jawaban yang diberikan guru itu sungguh mencengangkan Rhenald.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini,”lanjutnya.

“Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Tugas seorang guru bukanlah memberikan nilai, tapi juga memberikan motivasi belajar kepada sang anak.” Sejak saat itu Rhenald sadar, pendidikan tidak bertujuan menentukan benar salah, lulus tidak lulus, pintar atau bodoh, tapi sejauh mana mampu mendorong siswa untuk terus belajar.

Benang Mencius

Cerita ketiga datang dari China. Ketika itu, Mencius (dianggap orang terbijak kedua setelah Konfucius) pulang kerumah lebih cepat dari waktunya. Ia meninggalkan sekolah untuk bertemu Ibunya.

“Kenapa kamu pulang lebih cepat hari ini?” tanya ibunya sambil menenun.

“Saya sangat merindukanmu, Ibu.”

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ibu Mencius mengambil pisau dan memotong benang pada alat tenun tepat di tengahnya. Mencius sangat terkejut.

“Bagimu menunda belajarmu di sekolah adalah sama seperti saya memotong benang pada alat tenun. Kita sangat miskin. Itulah alasan kenapa saya harus bekerja keras. Kamu harus belajar dengan keras untuk membangun dirimu sendiri. Jika kamu tidak berkonsentrasi pada pelajaranmu dan berhenti di tengah jalan, kita tidak akan pernah keluar dari lingkaran kemiskinan. Kita akan terus hidup dalam ketidakpastian.”

Sejak saat itu Mencius giat belajar.

***

Pelajar dan Pembelajar

Sistem pendidikan kita telah menciptakan jutaan pelajar, tapi sangat sedikit menghasilkan pembelajar. Banyak dari kita yang menempuh pendidikan hanya untuk mendapat nilai, ijazah, dan gelar dibelakang nama. Banyak orang berlomba-lomba menjadi pelajar yang baik, tapi melupakan proses menjadi pembelajar yang unik.

Pelajar dan pembelajar dua hal yang berbeda. Pelajar yang baik, menghindari kesalahan. Pembelajar yang baik, mencintai kesalahan. Pembelajar membuat banyak kesalahan, dengan syarat tidak ada kesalahan yang sama, berhadap mendapat banyak pelajaran didalamnya. Pelajar belajar untuk tidak melakukan kesalahan, tapi justru menghasilkan satu kesalahan utama: hanya memperoleh pelajaran yang sama dalam hidupnya.

Seorang pelajar membenci menjadi orang bodoh. Seorang pembelajar sebaliknya, sangat ingin menjadi orang bodoh. Karena setiap pengetahuan baru yang diketahuinya, akan membuatnya merasa semakin bodoh setiap hari. Seorang pelajar sangat gembira jika ia tahu, bahwa dirinya tahu. Sementara seorang pembelajar akan bersujud syukur jika ia tahu, bahwa dirinya tidak tahu.

Seorang pelajar akan ketakutan jika tidak bisa menjawab pertanyaan ujian. Ia akan gugup, stress, dan merasa gagal. Seorang pelajar membenci terlihat bodoh. Sebaliknya, seorang pembelajar akan bersyukur jika tidak bisa menjawab sebuah pertanyaan. Ini adalah anugerah dari Tuhan, pertanda ada satu lagi pengetahuan yang akan Ia ajarkan. Pembelajar akan menganggap kebodohannya sebagai berkah, berarti masih banyak hal yang tidak ia ketahui, dan masih lebih banyak hal lagi yang bisa ia ketahui.

Saya hanya berdoa agar kita semua bisa belajar menjadi seorang pembelajar. Karena itulah perbedaan sekolah dengan kehidupan. Disekolah kita diberi pelajaran, kemudian diuji. Di kehidupan, kita diuji, lalu diberi pelajaran.

Dan seperti kata Cicero: Dum vita est, spes est. Ketika masih ada kehidupan, di situ pula masih ada harapan.

 

1295591380655487713

More_Grafiti by NeoClown42

Cerita pertama adalah kisah nyata yang saya baca dari buku “Pola Induksi Seorang Eksperimentalis“, karya almarhum Andi Hakim Nasution, mantan rektor IPB yang merupakan ahli statistika eksperimental. Buku yang mengubah pandangan saya tentang statistika dan matematika. Maaf, saya lupa teknis pertanyaannya (pinjeman si Farid sih :D).
Cerita kedua dari notes “15 Tahun yang Lalu” karya Rhenald Kasali. Bisa dibaca di sini
Cerita ketiga dari Kisah-kisah Kebijaksanaan China Klasik karya Michael Tang. Gramedia. 2000.

NB: Bagi yang baca, tolong doain si Desti lulus ujian kompre ulangan yang kesekian bulan depan🙂

 


Responses

  1. inspiratif banget. trims ya?

  2. sama2 bos

  3. 🙂 waah iya, sekolah bikin kita justru ga menikmati belajar karena lebih menekankan dapet nilai bagus untuk lulus..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: