Posted by: Yoga PS | 11 February 2011

Menunggu Superman

 

129742675391429342

cover film

Anda masih menganggap Amerika Serikat (AS) memiliki system pendidikan terbaik didunia? Sebaiknya Anda mulai menonton film ini: “Waiting for Superman” (WFS). Rilis sejak 8 Oktober 2010 di Amerika. Ratingnya sampai 7,3 di IMDB. (Silahkan download disini. Koneksi local, resumable, passwordnya: AL@indofiles.org).

Film yang disutradarai oleh Davis Guggenheim ini memang cukup fenomenal. Menerima penghargaan sebagai film documenter terbaik 2010 dari Festival film Sundance. Juga menerima best documentary feature dari Critics Choice Movie Award. Well, nggak perlu heran sih, si om Davis Guggenheim udah berpengalaman buat film documenter seperti An Inconvenient Truth, yang juga tercatat sebagai salah satu film documenter terbaik.

(Seharusnya Ariel Peterpan belajar ke dia untuk membuat film “documenter” yang lebih “bermutu”)

Waiting for Superman menggambarkan perjuangan lima orang anak untuk pergi kebarat dan mengambil kitab suci. Ya, Anda benar. Itu cerita Kera Sakti. Saya Cuma ngetes dan ingin memastikan Anda masih membaca atau langsung scrolling mouse kebawah. Kelima anak itu, Anthony, Francisco, Bianca, Daisy, and Emily adalah anak2 dengan latar belakang sosio kultural berbeda. Mereka sedang berjuang memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas.

Loh, bukannya di AS pendidikannya terjamin berkualitas ya? Eits, baca yang dibawah dulu bos…

Permasalahan Pendidikan AS

Ternyata pendidikan di AS tidak seindah yang kita bayangkan. Citra AS sebagai Negara super power telah membuatnya seolah menjadi Negara terbaik untuk segala hal. Tapi tidak untuk urusan pendidikan public. Skor matematika siswa AS termasuk yang terendah dinegara maju. Coba tebak skor terandah ada dinegara bagian mana? Washington DC gan! Ibukota AS! Dengan skor hanya 17%. Skor membaca juga sama. AS tertinggal dari Negara macam Jepang, Korea, Kanada, dan Eropa skandinavia.

(untuk mengetahui rendahnya statistik pendidikan AS lainnya, silahkan tonton sendiri)

Waiting for Superman menelanjangi kegagalan Negara dalam menyediakan pendidikan berkualitas. Kasusnya hampir sama dengan Indonesia, adanya disparitas (kesenjangan) kualitas pendidikan antar wilayah. Dan sayangnya kesenjangan itu diperparah dengan penyakit bernama disparitas ekonomi.

Jadi jika Anda orang kaya, maka silahkan menikmati world class education system disekolah-sekolah swasta yang tentunya lebih mahal berjuta-juta kali lipat dari SPP SD dekat rumah kita. Tapi jika Anda hanya orang biasa, maka silahkan berdoa untuk bisa diterima disekolah public yang bagus. Berdoa? Iya, karena sekolah favorit sampai harus melakukan undian untuk menerima murid! Yup, seperti lotere. Calon murid diberi nomor urut, untuk kemudian diundi seperti menerima door price.

Memangnya kenapa kalau kita sekolah ditempat busuk? Well, (sok inggris cuk pake well-wellan) dengan ilustrasi film kartun yang sangat menarik sekali, film ini menjelaskan peranan sekolah dalam melakukan mobilitas social vertical. Sekolah yang baik, memberikan system pendidikan yang baik, yang berarti membuka peluang yang lebih besar bagi Anda untuk duduk di piramida puncak struktur social masyarakat ala Max Weber (ampon kakak bahasanya…).

Selain masalah sosio kultural, ternyata guru-guru sekolah di AS sama parahnya dengan guru-guru di Indonesia (semoga tidak banyak). Mengajar asal-asalan, tidak disiplin, kurang antusias, dan terbukti dari rendahnya nilai skor ujian. Rendahnya kualitas guru ini mendorong seorang Michelle Ree (pejabat diknas di Washington DC, Negara bagian dengan skor akademik terendah se-AS) untuk melakukan langkah radikal: memecat guru yang busuk!.

Sayangnya memecat guru yang sudah nyaman berada didalam system hampir sama sulitnya dengan mematahkan telapak tangan (bener kan???). Serikat guru bereaksi sangat keras. Menolak dengan tegas system penilaian berbasis kinerja yang ditawarkan. Seperti umumnya dinegara berkembang, sudah terjadi inertia birokrasi.

Tidak semua pihak hanya diam. Beberapa berinisiatif bertindak, untuk menyediakan pendidikan murah berkualitas. Salah satunya Geoffrey Canada dengan sekolah Harlem Children Zone-nya. Sekolah yang didirikan didaerah dengan tingkat kriminalitas, pengangguran, dan putus sekolah terparah dikota New York. Atau sekolah KIPP, Knowledge is Power Program, jaringan sekolah yang memiliki skor matematika dan membaca lebih tinggi dari rata-rata sekolah swasta di Amerika!.

Kasus Indonesia

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apa yang bisa diambil dari Waiting for Superman? Pertama, saya merindukan insan perfilman Indonesia yang bisa membuat film documenter sekeren ini (sumpah, meski saya belum pernah ke AS, saya sangat tersentuh). Kedua, semoga Punjabi brother dan Multivision plus-plus membaca doa ini dan tobat bikin sinetron ga jelas hahaha.

Ketiga, Waiting for Superman sudah menjadi gerakan social (bukan lagi moral) untuk memperbaiki system pendidikan di AS. Jika Anda mampir ke situs: www.waitingforsuperman.com, akan ada “what to do agenda“. Diantara yang bisa masyarakat lakukan adalah: membantu sekolah dan guru disekitar kita, untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik. Bisa lewat dana, jaringan, surat dukungan, atau cuma berdoa aja. Kita bisa meniru hal ini. Memberi bantuan. Apapun. Lakukan.

Seperti pesan Danzel Washington dalam The Great Debaters: “Do what you can do, so you can do what you want to do”.

Lagipula, masyarakat kita tidak mengenal dongeng tentang Superman.

 


Responses

  1. Hmmm, ntar mau nyari deh filmnya. ijin share link ini ke temenku yaaa🙂

  2. Maaf Mas, link-nya saya share d FB ku.
    Izin yo Mas.. he he he

    Salam Pendidikan

  3. silaken tante🙂

  4. makasih ya udah mampir🙂

  5. mas, izin share di FB ya mas

  6. Mas Yoga.. Terima kasih kirimannya. Saya sebagai guru harus berbuat lebih baik🙂. Terima kasih atas dukungannya!

  7. sama2 bos. semoga jadi guru yang mabrur hehehehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: