Posted by: Yoga PS | 18 February 2011

Menjadi Penjahat yang Paling Jahat

Bagaimana cara menentukan seseorang yang baru kita kenal jahat atau tidak? Mungkin Cesare Lombroso punya jawabannya. Pada tahun 1876, kriminolog Italia ini memeriksa jasad seorang perampok terkenal bersama Vivella. Ditambah pengalaman dan intuisi yang dimilikinya, ia lalu berani membuat kesimpulan tentang ciri-ciri penjahat kelas berat.

Pendapat itu ia tulis dalam bukunya yang terbit tahun 1876 berjudul L’uomo Delinquente (Manusia Penjahat). Ia menetapkan ciri-ciri manusia penjahat sebagai berikut: (tolong hubungi polisi jika Anda melihat ciri-ciri orang seperti ini)

Memiliki rahang yang luar biasa besarnya, tulang pipi yang tinggi, ada tonjolan melengkung pada alis, mempunyai garis-garis yang tegas pada telapak tangan, rongga mata yang sangat besar, telinga berbentuk gagang wajan (yang lazim terdapat pada para penjahat, orang primitif, dan kera), tidak memiliki kepekaan terhadap rasa nyeri, penglihatannya sangat tajam, memiliki kegemaran menato tubuh, kemalasannya sungguh berlebihan, memiliki kesukaan terhadap pesta gila-gilaan, dan keinginannya untuk menumpahkan darah sungguh tak tertahankan.

Saya yakin bayangan Anda langsung tertuju pada tubuh king-kong atletis semacam Arnold Suasanaseger gubernur California yang tidak saya tahu ejaan namanya itu. Tapi itu penjahat abad 18, penjahat za-dul (zaman dulu) yang sekarang sudah hampir menjadi stereotype penjahat kampungan kelas terminal. Sungguh berbeda dengan penjahat kelas atas abad 21.

Penjahat zaman millennium sangat jarang berbadan kekar dan mengusai martial art (seni bela diri) yang mematikan. Mereka bahkan sering terlihat sebagai orang tua yang rapuh, Ibu sabar yang penyayang, dan ayah dari keluarga baik-baik.

Jika Anda tidak tahu David Madoff, tentu kenal Gayus Tambunan. Sayangnya dua penjahat ini ibarat bumi dan langit. Satunya dewa system Ponzi yang menipu milyaran dollar, sedangkan yang lain hanyalah pegawai pajak golongan III yang sedang belajar menjadi penabung yang baik.

Saya tidak ingin Anda menjadi penjahat kampungan macam Gayus. Nanggung. Saya ingin berbagi dua resep untuk membuat Anda menjadi penjahat paling jahat didunia. Dua cara yang menjadikan Anda manusia terkejam sehingga setan berpikir untuk pensiun karena mulai meragukan kekejamannya sendiri.

Postulat yang saya sarankan untuk menjadi penjahat terjahat sebenarnya sederhana:

  1. Penjahat yang paling jahat justru tidak terlihat sebagai penjahat.
  2. Penjahat terbaik adalah penjahat yang berbuat baik.

Ketidakprofesionalan Koruptor Indonesia

Kita pakai studi kasus saja. Andaikan Anda baru saja sukses melakukan korupsi 100 milyar. Entah lewat mark up proyek, menerima suap, proyek fiktif, menjual rekomendasi, atau berbagai cara koruptif lainnya. Kita asumsikan juga tidak ada barang bukti yang tersisa. Benar-benar bersih (hanya Anda, penyuap, dan Tuhan yang tahu skandal ini).

Pertama-tama saya akan mengucapkan selamat, karena korupsi adalah extra-ordinary crime yang merusak seluruh struktur social masyarakat. Sayangnya perjuangan Anda menjadi manusia terjahat didunia belum selesai. Masih ada rintangan yang menghadang.

Masalahnya, mayoritas koruptor karbitan yang tertangkap di Indonesia melupakan dua hal:

  1. Mereka tidak belajar pencucian uang (money laundry)
  2. Mereka mengubah gaya hidup dengan drastis

Koruptor kelas kambing telah menganggap misi mereka sukses begitu menerima uang. Ibarat maling, meski sudah mendapat barang colongan, mereka lupa jika harus keluar dengan aman dari rumah korban.

Mereka bingung memiliki uang milyaran lalu mulai membeli mobil, rumah, perhiasan, dan plesiran keluar negeri. Disinilah masalah mulai timbul. Bau kejahatan mereka tercium begitu mereka mencoba sedikit menikmati hasil “kerja keras” mereka. PPATK mulai curiga melihat rekening yang tiba-tiba gendut. KPK mulai mencium ada yang tidak beres dari harta perolehan mereka. Dan seperti nasib koruptor amatir, mereka akan menghabiskan sisa hidup didalam penjara jika dilakukan pembuktian terbalik.

Lalu apa yang seharusnya kita lakukan untuk menjadi koruptor sukses?

Cuci Tangan

Kita hanya perlu membangun alibi. Alasan perolehan harta yang kita dapatkan. Itulah alasan money laundry, mereka mampu mencuci uang haram menjadi uang halal. Istilah money laundry berasal dari dedengkot gangster Chicago Al Capone pada tahun 1920-an, yang membeli jaringan laundry bernama Sanitary Cleaning Shops, dan menjadikan bisnis ini sebagai kedok hasil jual beli alcohol illegal.

Secara teori tradisional, ada tiga fase pencucian uang: placement, layering dan integration. Uang hasil korupsi diubah menjadi asset, misalnya dibelikan pom bensin seperti pengakuan Gayus. Tahap selanjutnya adalah “mengacak” kepemilikan asset tersebut. Misalnya dibagi menjadi 3 pemilik saham yang diberikan kepada A, B, dan C. A lalu diminta mentransfer sahamnya ke D, E, dan F. B dan C juga diminta melakukan hal yang sama. Si D, E, F dan “underline” B dan C diminta mentransferkan kepemilikannya kepada orang lain (bisa saja fiktif), yang kemudian sampai kepada kerabat si koruptor yang kemudian menghibahkannya kepada dia.

Jika ada yang bertanya darimana seorang PNS bisa memiliki pom bensin? maka cukup jawab jika ia membeli saham pom bensin itu sedikit demi sedikit dari kerabatnya yang berbaik hati dan sedang dilanda krisis keuangan dan sedang butuh uang sehingga menjualnya dengan harga murah. Darimana kerabatnya punya saham pom bensin? Maka minimal penyidik harus mengurai benang kusut hasil layering yang telah dilakukan sebelumnya.

Saya tidak menyarakankan Anda berhubungan dengan bank. Bank sudah semakin berhati-hati dengan maraknya tindak pidana pencucian uang. Dalam UU no 25 tahun 2003 pasal 1 ayat 7a disebutkan transaksi keuangan mencurigakan adalah transaksi keuangan yang menyimpang dari profil, karakteristik, atau kebiasaan pola transaksi nasabah yang bersangkutan. Sudah banyak sekali kasus korupsi terdeteksi diawali dari janggalnya rekening bank nasabah. Bermainlah aman. Hanya gunakan uang tunai. Kalau perlu bangun safe deposit tersendiri (Gayus adalah contoh yang baik).

Modal Sosial

Yang tak kalah penting adalah modal social. Tetaplah hidup rendah hati selama 5 tahun setelah sukses melakukan korupsi. Jangan ubah gaya hidup Anda. Ingat koruptor kelas teri yang langsung bermewah-mewahan dan harus dipenjara secepatnya. Lakukan pencucian uang sedikit demi sedikit. Ciptakan citra Anda sedang rajin belajar bisnis. Membuka banyak bisnis kecil-kecilan. Jika regulasi melarang atas nama Anda, silahkan catut nama keluarga Anda.

Jangan lupa sedekah dan banyak tersenyum. Sedekah berfungsi dua hal: mencuci harta Anda dimata Tuhan, sekaligus membangun “parasitisme social”. Ciptakan ketergantungan masyarakat terhadap bantuan Anda. Jadilah donator rumah ibadah terbesar, ciptakan yayasan social (sangat strategis sebagai sarana pencucian uang). Buatlah penampungan bagi masyarakat miskin. Ingat selalu aturan no 2:

Penjahat terbaik adalah penjahat yang berbuat baik.

Jika Anda sabar, masyarakat mulai menerima kehadiran Anda sebagai malaikat setengah dewa. Mereka sadar jika Anda orang baik, dan mendapatkan rezeki dari hal-hal baik. Mereka mendoakan Anda, mendoakan rezeki Anda. Bisnis Anda mulai tumbuh (dipaksa tumbuh dari hasil korupsi Anda), dan itu berarti Anda harus mulai membangun jaringan koruptif di kepolisian, kejaksaan, kehakiman, aktivis LSM bayaran, dan partai politik.

Jikapun suatu hari Anda tertangkap, akan ada gejolak social. Masyarakat akan kehilangan pilar penolongnya. Massa mendukung persidangan Anda, dan jaksa akan meringankan tuntutannya mengingat jasa-jasa Anda di masyarakat. Orang-orang miskin takkan percaya orang sebaik Anda adalah koruptor kelas wahid.

Anda akan dikenang sebagai Robin Hood. Tersenyumlah dan tetap ingat tujuan Anda untuk menjadi orang jahat yang terjahat. Orang terjahat yang tidak terlihat sebagai seorang penjahat.


Responses

  1. gila..gokil..modus sadis

  2. Kekuatan FreeMason Yahudi bermain di balik masalah Gayus Tambunan, dll.?
    Semua orang sepertinya berusaha untuk saling menutupi agar kedok anggota mafia FreeMason utamanya tidak sampai terbongkar.
    Jika memang benar demikian, maka tidak akan ada yang bisa menangkap dan mengadili Gembong tersebut -di dunia ini- selain Mahkamah Khilafah!
    Mari Bersatu, tegakkan Khilafah!
    Mari hancurkan Sistem Jahiliyah dan terapkan Sistem Islam, mulai dari keluarga kita sendiri!

  3. tinggal praktiknya bos hahahahha

  4. waduh teori konspirasi dah. bole ditulis donk selengkapnya

  5. :ngakak gan
    bner bner bner..

    knapa para penjahat masih pake bank ?? menyerahkan uang ke bank berarti berserah diri untuk diinterogasi..
    investasi lebih bagus..beli tanah, atau emas ?? yup, tidak ada pihak bank yg tiba tiba mengusut anda karena timbunan emas d bawah kasur bukan ?
    atau kalau sudah terlalu terdesak saat ditanyakan uang uang yang bejibun, katakan saja anda ikut bisnis online dengan penghasilan 50juta sebulan :hammer:

    lagipula gayus terlalu ceroboh, apa artinya duit milyaran jika hanya digunakan untuk beli wig dan kacamata ?? omg, gayus tidak tahu style.. setidaknya mungkin dy pernah dengar make over, atau.. ivan gunawan ?? :hammer:

    tulisan yg bagus gan :2thumbup

  6. hahhahah makanya bro, kita harus jadi koruptor yang lebih baik dan lebih profesional dimasa depan!!!

    hehehehe :p

  7. […] Menjadi Penjahat yang Paling Jahat […]

  8. Hahahahahaha….tulisan yang bagus….
    entah bagaimana, saya sendiri uda punya pemikiran kaya gitu dari dulu, sebelum ada tulisan ini ato tulisan2 lain…..(bakat jadi penjahat kali ya..)

    tp tulisan ini pantes buat dpt 2 thumbs up

  9. tinggal dipraktekin om…

  10. […] sudah pernah menulis tentang tips menjadi koruptor sukses, dan juga cara-cara melakukan money laundry dengan sukses. Sekedar review, kelemahan koruptor di […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: