Posted by: Yoga PS | 8 March 2011

Exit strategy

Terkadang, jurus paling sakti dimuka bumi adalah jurus melarikan diri. Exit strategy. Kabur meninggalkan lokasi. Hal ini berlaku untuk berbagai bidang dimuka bumi mulai dari perang, bisnis, negosiasi, menjadi maling professional, sampai urusan tilang dengan polisi (untuk hal terakhir ini bersumber dari pengalaman pribadi dan akan saya ceritakan nanti..).

Dalam perang, exit strategy sangat dibutuhkan. Bukan hanya exit strategy (jalur kabur) bagi pasukan kita sendiri, tapi justru bagi pasukan lawan. Sun Tzu pernah berpesan agar memberikan jalan melarikan diri (exit strategy) bagi lawan kita. Loh koq bisa? Karena jika pasukan terdesak dan merasa tidak memiliki jalan keluar melarikan diri, mereka akan berperang mati-matian hingga titik darah penghabisan.

Oleh karena itu, konon Hernando Cortez membakar kapal-kapal yang dinaikinya sendiri. Pasukan Spanyol tidak memiliki exit strategy lain dan dipaksa berperang mati-matian. Pilih mana? Berenang ke Eropa menyeberangi samudera Atlantik sejauh 5.284 mil dan siap-siap diperkosa hiu betina yang sedang datang bulan atau berperang? Sejarah kemudian mencatat 600 orang tentara Cortez mampu menaklukkan 2 juta bangsa Meksiko.

Dalam bisnis exit strategy berarti kemampuan untuk keluar meninggalkan pasar. Kita harus tahu kapan waktunya dan bagaimana caranya. Sampai berapa rupiah kita mampu menanggung kerugian. Cut loss istilahnya kalau dalam investasi saham. Karena meninggalkan pasar tidak semudah meninggalkan dunia. Ada risiko dan biaya yang harus ditanggung. Anda harus tahu bagaimana cara melikuidasi bisnis (menjual asset tersisa), membayar biaya pesangon pegawai, pembayaran utang, dan bagaimana cara menguasai ilmu meringankan tubuh karena para kreditur pasti berlari-lari mengejar-ngejar Anda. Haha.

Exit strategy Sehari-hari

Kita semua pasti menerapkan exit strategy dalam kehidupan sehari-hari. Tak percaya? Pernah nggak berjalan-jalan dipasar tradisional, tertarik pada sebuah barang, menawar harga, lalu ketika Anda keukeuh pada tawaran semula dan berjalan pergi, sang penjual memanggil kembali dan mengatakan setuju. Saya yakin hampir semua dari kita pernah mengalaminya.

Dalam Getting to Yes (buku yang membahas seni sukses negosiasi) dijelaskan bahwa jurus meninggalkan meja negosiasi adalah jurus terakhir paling sakti yang bisa ditempuh jika perundingan buntu. Cara ini ditempuh jika semua pendekatan baik soft hingga hardcore gagal membuahkan kesepakatan. Namun perlu diingat, jurus exit strategy dalam negosiasi hanya bisa digunakan SEKALI! Karena jika Anda pergi lalu kembali dan mengubah penawaran terakhir, maka pihak penjual akan menganggap posisi tawar mereka lebih tinggi. Meskipun lebih baik menjilat ludah sendiri daripada menjilat ludah orang lain. Yakzzzzz………..

Dan kemarin saya baru saja menggunakan exit strategy ini untuk berurusan dengan polisi. (Hah?!? Makanya kalo ngepet lilinnya dijagain bos…)

Polisi Munafik

Ceritanya bermula saat saya ada urusan survey bisnis ke Semarang (6/3/11). Bersama kawan, Aulia, tak lupa kami mengunjungi klenteng agung Sam Poo Kong dan berniat bernarsis ria didaerah kota lama. Tapi dasar, karena waktu lampu merah diperempatan kota lama sudah kuning, saya menggeber gas dalam-dalam. Maklum bos, kebiasaan paradox ala Indonesia, lampu kuning yang berarti hati-hati bagi sebagian orang berarti menambah gas biar enggak kena lampu merah. Anggap saja saya buta warna.

Saya baru sadar ketika ada polisi yang mendampingi dan menyuruh kami menepi. Awalnya saya bangga karena dikawal polisi (serasa punya vorijder bo…). Saya juga sudah bersiap memberikan tanda tangan bagi pak Polisi yang kali aja ngefans sama saya. Kalo mau foto bareng ama Gorilla yang bisa naik motor 10ribu ya pak. Hahaha.

“Silahkan ikut ke pos” kata pak Polisi yang bela-belain ngejer saya.

Sampai pos saya disambut dengan ramah sekali. Busyet polisi zaman sekarang makan apa ya koq udah kaya customer service. Banyak senyum. Ketawa-tawa. Tanya saya itu makhluk apa. Saya darimana, mau kemana, dengan siapa, dan sedang berbuat apa… (AMPUNNN… Kangen Band menyerang alam bawah sadar saya!!!)

Akhirnya saya baru sadar jika jalan yang saya lewati adalah jalur satu arah. Siap-siap deh mengeluarin duit sedekah.

“Ini biaya dendanya 65rb ya Mas, nanti tanggal 25 sidang di pengadilan” kata polisi yang sepertinya “bos” di pos itu.

“Waduh Pak, saya harus balik langsung ke Jogja. Nitip sidang ga bisa po’?” saya coba ngerayu-rayu.

“Sekarang ga bisa Mas. Kalau mau Mas-nya transfer ke BRI besok atau minta tolong temen yang ada di Semarang buat ambil pas sidang tanggal 25”.

Wah minum apaan polisi zaman sekarang jadi sholeh gini? Dikasi duit ga mau. Ternyata rayuan saya kurang maut. Pas saya bingung lagi mau ngerayu pake cara apa, tiba-tiba ada sopir angkot yang lewat.

“Pak, Ada yang berkelahi”

Eh bener! ada dua orang berantem diseberang jalan. Persis diseberang pos polisi!. Menyikapi hal ini, ada ikhtilaf dikalangan polisi sendiri. Polisi pertama mengatakan.

“Eh ayo diewangi kae, ga enak didelok warga” (Eh ayo dibantuin tuh, ga enak dilihat warga).

Tapi polisi satunya malah berfatwa:

“Ben.. Ben wae. Cuma gali koq” (Biar. Biar aja. Cuma preman koq).

Dan jadilah saya disuguhi live streaming tinju jalanan selama kurang lebih 5 menit. Jika ada kopi, pisang goreng, dan duit taruhan pasti lebih asik lagi. Eh bener juga tu polisi, yang berkelahi capek-capek sendiri lalu bubar.

“Premannya disini emang gali-gali Mas. Disini aja udah ada empat orang mati. Kemarin ada yang lagi tidur dikepruk batu kepalanya”. kata pak polisi ‘ben wae’ sambil menunjuk daerah belakang pos. What the?!? Ada orang dibunuh dibelakang pos polisi!!! Bunuh aja polisinya sekalian! (becanda Pak hehe)

Kembali ke urusan tilang, setelah melihat begitu mudahnya polisi membiarkan preman pasar latihan tinju diperempatan, tiba-tiba saya berubah pikiran.

“Dibawa aja SIM saya pak” saya mengubah strategi negosiasi. Menemukan exit strategy.

“Nanti tanggal 25 lho mas. Kalo telat ngambilnya dioper ke kejaksaan. Lebih mbulet lagi ngurusnya”. Sip, pak polisi mulai kemakan jebakan.

“Gpp pak, nanti kita sekalian jalan-jalan lagi kesini hehehe” kata saya kepada Aul.

“Jadi yang mau ditinggal SIM apa STNK Mas?” Pak Polisi bluffing, berusaha mempertegas posisi tawar.

“SIM aja Pak”. Jawab saya mantab. Tiba-tiba polisi itu bangkit dan mengajak saya masuk ke pos.

“Saya sebenarnya kasihan sama Mas. Ya udah saya bantu ‘titip sidang’ aja. Maunya berapa?” Nah lo! Ketahuan belangnya! (Pake sok perawan lagi diawal :p). Setelah nego seperti mau beli baju, akhirnya dari penawaran denda 65rb saya dapat diskon dan membayar 30rb. Lumayan diskon 50%.

Pelajarannya? Selalu berusaha temukan exit strategy. Bernegosiasi dengan birokrasi/pihak yang berkuasa membuat situasi tidak seimbang. Mereka memiliki power yang lebih tinggi sehingga posisi tawar mereka lebih baik. Jika Anda terkena tilang dan tidak bisa hadir sidang, maka Anda tidak punya jalan lain selain mengikuti apapun kehendak polisi (termasuk menentukan besaran “titipan sidang”).

Tapi jika Anda mampu menemukan “jalan lain” untuk tidak terjebak negosiasi dengan polisi baik hati yang membiarkan preman mukulin orang ditengah jalan, posisi tawar Anda akan naik. Anda punya opsi keputusan alternatif dalam negosiasi. BATNA. Best Alternative to a Negotiated Agreement. Karena sebenarnya saya sudah tahu jika polisi hanya menggertak sehingga memaksa “titip sidang” sebesar 65rb. Jikapun SIM saya benar-benar ditahan, setahu saya denda resminya Cuma sekitar 30rb. Saya juga pasrah jika harus jalan-jalan lagi ke Semarang demi sidang.

Terakhir, ini foto-foto di Sam Poo Kong. Bukan sebagai exit strategy, tapi EXIST strategy :p.

haus...

 

Ayo cekolaaa...

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: