Posted by: Yoga PS | 7 April 2011

Dosa-dosa Dityotama

Apaan tuh Dityotama? Dityotama adalah perusahaan ke-5 yang saya dirikan selama kuliah. Kepanjangan dari dua founder CV ini. Ludh Praditto (Dito, seorang mahasiswa cerdas dengan masa depan cerah) dan saya, Yoga PS (kepanjangan namanya masih rahasia). Sebenarnya pengen dikasi nama Dildotama, tapi takut kalau tiba-tiba digrebek ama FPI dan terkena UU Anti Pornografi.

Dityotama berdiri pada 12 Oktober 2010. Bergerak dalam bidang distribusi software manajemen BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Karena ternyata pelaporan dana BOS itu tidak semudah melapor pada komandan upacara.

“Siap, laksanakan!”

Ada aturan-aturan birokrasi yang harus dipenuhi. Jadi sejarahnya, saya punya temen bernama Benny yang membuat software Siap-BOS. Nah, dia kesulitan dalam masalah pemasaran. Akhirnya saya mengajukan diri menjadi distributor untuk daerah DIY.

Tapi… seperti nasib 5 perusahaan saya sebelumnya, Dityotama dapat dikatakan jalan ditempat atau bahkan bangkrut. Belum pernah mencetak penjualan, apalagi keuntungan. Padahal kami sudah memiliki visioning keren banget, target net profitnya aja sampe 81 juta ditahun pertama. Sayangnya itu target doank, tanpa realisasi. Hiks hiks.

Sepanjang pengalaman saya berbisnis abal-abal (musiman), selalu ada kesalahan-kesalahan bego dan tolol yang dilakukan. Tulisan ini mencoba membagi pelajaran dari kesalahan yang saya lakukan, agar pembaca dan saya sendiri tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama.

So, apa aja “dosa-dosa” saya?

Satu: Tidak Fokus

Ini adalah kesalahan fundamental pebisnis pemula. Mereka sangat sering berganti bisnis. Contohnya ya saya sendiri. Saya pernah jualan makanan, buku bekas, bunga saat valentinan, jadi event organizer, jualan kaos, membuka dealer motor rumahan, sampai menjadi peternak bebek. Adakah yang bertahan? Paling lama hanya satu tahun. Dan saya harus membayarnya dengan tumpukan hutang dan masa kuliah yang molor.

Ada beberapa sebab ketidakfokusan ini. Yang pertama adalah tujuan yang tidak jelas. Karena saya berbisnis just for fun dan sebagai sarana pembelajaran, jadinya kurang memiliki ghirah bisnis yang kuat. Begitu bosan, untung sedikit, atau rugi, langsung pingin ganti yang lain. Anget-anget tai ayam kalo kata peribahasa. Ini diperparah dengan ketidakmampuan menciptakan system bisnis.

Penyebab ketidakfokusan kedua adalah kurangnya totalitas. Sebenarnya ini hanyalah excuse. Karena dengan manajemen waktu, kita pasti bisa membagi peran kita untuk berbagai bidang kehidupan. Tapi kita harus maklum jika harus berpartner dengan seorang asisten dosen, supervisor proyek Merapi, dan staff di P2EB UGM yang super sibuk (kurang baek apa gw ngepromosiin lo To’? moga2 si D*** baca dan mau nerima muka lo :p). Sekarang si Dito lagi magang ngepakin kardus di Tetra Pack. Sementara saya baru aja focus nyelesein ujian skripsi.

Padahal ibarat petani, kita tak bisa menanam bibit padi dipagi hari, lalu menggantinya dengan jagung pada sore hari. Membangun kerajaan bisnis seperti menanam pohon. Dibutuhkan ketekunan, kerja keras, dan kesabaran. Dibutuhkan waktu untuk membangun Roma. Dibutuhkan air untuk membangunkan bang Rhoma.

Kedua: NAPO (No Action, Plan Only)

Ini adalah evolusi penyakit NATO (no action talk only). Bedanya jika NATO Cuma bacot doank, nah kalo NAPO ini nulis doank. Jarang action. Penyakit ini menyerang mahasiswa fakultas ekonomi seluruh Indonesia yang memang spesialis jago bikin business plan.

NAPO lebih baik dari NATO. Karena dengan memiliki target TERTULIS, terbukti mampu meningkatkan kinerja. Penelitian yang dilakukan oleh consumer federation of America dan Bank of Amerika mendapati bahwa orang2 dengan penghasilan $10,000 setahun yang dilaporkan memiliki rencana tertulis memiliki uang 2x lebih banyak dalam bentuk tabungan dan investasi dibandingkan mereka yang tidak punya rencana tertulis.

Tapi ya gitu, planning doank klo ga action kapan majunya coba? Itu yang saya alami. Udah buat target aksi, lalu keluar penyakit excuse. Aduh ada acara ini… aduh harus kesitu… aduh ada janji ma dosen… aduh ga bisa sekarang… Tunda.Tunda.Tunda. dan jadinya enggak action-action. Dibutuhkan niat kuat dan dorongan eksternal untuk membunuh penyakit ini.

Total saya hanya mem-prospect kesekitar 7 sekolah dalam 2 bulan. Dari target puluhan sekolah. Yang benar-benar difollow up malah Cuma atu. Aduh… parah dah. Dan ini diperparah dengan dosa ketiga.

Ketiga: No product enthusiasm

Saya bahkan tidak menguasai produk yang dijual!. Jadi agak bingung juga ketika guru-guru bertanya soal teknis pelaporan BOS. Padahal mana ada tukang obat yang ga percaya dengan obat yang dijualnya? Manual sudah ada. Video tutorial juga sudah saya tonton. Tapi tetep aja kadang-kadang ga ngerti. Heheheh. Solusinya? Training lagi dan cari yang lebih ngerti!.

Keempat: Handling objection

Nah ini lagi yang saya juga masih belajar. Bagaimana mengatasi keberatan pelanggan. Mayoritas sekolah menyukai software ini, tapi terkendala dengan harga dan birokrasi. Harus dipikirkan celah-celah anggaran yang bisa dipakai untuk dipakai. Hal ini yang kemudian tidak pernah saya follow up dan carikan solusinya. Saya manut aja ketika disuruh kembali lagi bulan April/Mei tahun depan karena anggaran tidak bisa lagi dialokasikan. Padahal kita harus dapat menciptakan perasaan terdesak, langka, dan kebutuhan yang tak bisa ditunda.

Yeah, need more learning experience…

Penutup

Pelajaran utamanya: membuat bisnis itu mudah. Mengembangkannya menjadi kerajaan bisnis yang sustainable dan profitable itu yang penuh tantangan. Dibutuhkan kerja keras, ketekunan, visioning, kemampuan melihat peluang, management skill, focus pada core business, distinctive competitive advantage, dan keberuntungan takdir Tuhan.

Saya harus mengakui jika sering mengalami kegagalan. Dan seperti pepatah favorit tetangga kontrakan saya, Ahmad Munadi: only the donkey who fall in the same hole. Tapi karena saya lebih mirip kebo daripada donkey, kayaknya gpp deh gagal berkali-kali. Hahaha. Becanda. Kita harus membuat banyak kesalahan, tapi dengan syarat: tidak ada kesalahan yang terulang.

Tolong doakan ya.


Responses

  1. huwaaaaa… T.T
    ternyata emang susah yaaaa😥
    aku yang baru didaulat jadi makelar barang pernak-pernik cewek aja juga ngerasa susaaaaahhh😥

  2. hahahahhaaa..eh bisnis di penerbitan ajaaaa!… hihihihii *promosi.com

  3. nggak terlalu koq tante😛


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: