Posted by: Yoga PS | 23 April 2011

Kenyang

Alkisah, ada seorang raja yang memiliki hobby makan makanan enak. Dia mengetahui segala hal yang berhubungan dengan gastronomi dan ilmu kuliner. Hampir semua makanan enak sudah ia makan, sehingga sang raja mulai merasa bosan. Ia ingin mencicipi makanan paling nikmat di dunia yang belum pernah ia lihat.

Akhirnya, ia mengadakan sayembara. Kontes memasak sejagad raya. Diundanglah berbagai juru masak ternama dunia. Berlomba-lomba menciptakan masakan baru yang paling maknyus dan belum pernah diciptakan sebelumnya.

Namun hasilnya ternyata mengecewakan. Sang raja tidak menemukan makanan baru yang belum pernah ia makan. Menurut ia juga, semua masakan koki cukup mengecewakan. Rasanya standar. Bukanlah sesuatu yang luar biasa. Tidak unik dan nendang. Raja lalu membatalkan kontes dan tidak mengumumkan pemenang.

Tiba-tiba ada kakek tua yang mengajukan diri. Ia mengaku bisa menciptakan masakan paling nikmat di dunia. Tapi dengan satu syarat:

“Paduka harus ikut dengan saya besok pagi. Karena masakan yang saya buat sangat special, ia harus dimasak dipuncak gunung dan tidak boleh dibawa turun. Paduka juga tidak boleh dibantu oleh pengawal untuk mendaki gunung itu”.

Mendengar itu, sang Raja semakin penasaran. Ia pun menyanggupi syarat sang kakek. Esoknya, pagi-pagi buta mereka sudah berangkat. Mendaki gunung adalah hal baru bagi sang Raja, ia harus bersusah payah karena tak boleh dibantu pengawalnya. Beberapa kali ia berhenti kehabisan nafas, tapi rasa penasarannya mendorong sang raja untuk terus mendaki.

Menjelang siang, akhirnya mereka sampai di puncak gunung. Raja sudah tak sabar dan sangat lapar. Kakek tua menyuruh sang raja beristirahat, sementara ia menyiapkan masakan. 30 menit kemudian, tersaji sebuah sup berwarna keruh.

“Silahkan paduka nikmati” tawar sang kakek.

Dengan lahap raja menghabiskan sup itu. Sungguh, baru kali ini ia menikmati sup senikmat ini. Sup kakek adalah sup terlezat yang ia makan. Setelah habis, akhirnya ia bertanya:

“Sup apa ini kakek?” tanya si raja.

“Hanya sup ayam bawang biasa”.

“TIDAK MUNGKIN! Bagaimana mungkin sup ayam bawang bisa senikmat ini“. Sanggah raja.

Kakek tersenyum.

“Karena paduka memakannya ketika lapar. Selama ini, paduka makan hanya berdasarkan keinginan. Bukan berdasarkan kebutuhan. Paduka makan karena paduka ingin makan. Termasuk ketika masih kenyang. Itulah yang membuat rasa masakan koki istana terasa hambar. Dan karena itulah sup ayam bawang ini terasa special. Saya membawa paduka ke puncak gunung bukan untuk mencari masakan ternikmat di dunia, tapi rasa lapar ternikmat sedunia”.

Makanan dan Pencerahan

Berapa banyak dari kita yang memakan kekosongan? Kita makan, tapi pikiran kita tidak memakan makanan itu. Semua hanya bertumpu pada rasa, bau, citra, dan kenikmatan empiris. Karena kita tidak makan secara spiritual, kita masih kelaparan. Memakan terlalu banyak, merendahkan makanan tertentu, dan sering tidak mensyukuri makanan yang dianugerahkan Tuhan.

Dan semua yang berawal dari fisik, akan berakhir ke fisik. Lapar menjadi kenyang. Kenyang berubah menjadi lapar. Tak berkesudahan. Padahal lapar dan kenyang lebih dipengaruhi factor psikologis, mental dan pemikiran. Makanan juga bukan hanya urusan perut. Dalam berbagai aliran agama dan spiritual, pengendalian makanan termasuk aktivitas yang mendekatkan diri kepada Tuhan. Mengajarkan pencerahan.

Agama saya mengajarkan umatnya untuk berpuasa. Nabi saya mengajarkan untuk makan ketika lapar, dan berhenti sebelum kenyang. (Jika sudah kenyang, maka sebaiknya jangan berhenti :P). Ajaran untuk mengendalikan musuh terbesar umat manusia: nafsunya sendiri.

Pertapa Buddha zaman dahulu menggunakan cara yang lebih ekstrim. Bermeditasi tanpa memakan apa-apa. Mencoba mengerti makna dukkha. Memikirkan samudaya. Merindukan Nirodha. Mengamalkan magga. Konon, pertapa tingkat tinggi mampu tidak memakan apa-apa selama berbulan-bulan. Ia bertahan hidup dengan meminjam kosmos alam raya.

Dalam cerita Zen, disebutkan ketika Guru Vinaya You Yuan menanyai Zhao Zhou:

“Apakah kau masih berlatih dibidang pembinaan spiritual?” tanya sang Guru.

“Aku masih melakukannya”. Jawab Zhao Zhou.

“Bagaimana kau berlatih?”

“Saat nasi datang, aku makan. Saat keleahan datang, aku tidur”, jawab Zhao Zhou.

“Semua orang melakukan itu, jadi, setiap orang menerapkan pembinaan spritiual sepertimu!”

“Tidak sama”.

“Mengapa tidak sama?”.

“Saat waktunya makan, mereka tidak makan. Mereka mengikatkan diri pada ratusan pikiran. Saat waktunya tidur, mereka tidak tidur. Mereka diganggu oleh ribuan rencana yang penuh perhitungan”.

Penyakit manusia modern bukanlah kekurangan makanan, tapi memakan terlalu banyak. Sayangnya mereka tetap merasa lapar. Karena kelaparan spiritual takkan bisa dipuaskan oleh makanan material. Hasrat dan nafsu. Ketika ia dipenuhi, akan melahirkan nafsu yang lebih tinggi. Ketika gagal dipenuhi, menimbulkan kegelisahan dan penderitaan.

Masyarakat urban merindukan kebahagiaan dan kedamaian. Tapi banyak yang lupa bahwa kebahagiaan akan selalu berwujud kesederhanaan. Karena hidup sesungguhnya sederhana. Cukup ambil secukupnya. Bagikan selebihnya. Karena kita hidup di dunia tidak untuk selamanya.

13035182371184209096

#Nulis gara2 sakit di dada abis olahraga. Ditulis untuk diri sendiri dan jutaan penderita obesitas: Diet donk!!!

Cerita tentang raja dari majalah BOBO yang masih saya ingat sampai sekarang. Kisah ini saya baca sewaktu kelas 2 SD. Bercerita tentang masakan paling enak sedunia. Saya sudah lupa judul dan pengarangnya (lah, katanya masih ingat?!?). Maaf, saya lupa kalau saya tidak ingat. Nanti akan saya ingat-ingat hingga saya lupa.

Kalau cerita tentang Zen dari The Complete Book of Zen karya Wong Kiew Kit. 2004. Gramedia


Responses

  1. Eh, gw juga inget pernah baca cerita ini🙂 Sip sip!

  2. oh ya? berarti terkenal donk ni ceritanya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: