Posted by: Yoga PS | 23 June 2011

Anonymous

Siapa dia?

Siapa dia?

Apalah artinya sebuah nama? Shakespeare bertanya. Banyak, sangat banyak. Aristotle mengabdikan hidupnya untuk menghasilkan taksonomi nama-nama hewan dan tumbuhan. Para ahli pemasaran menghabiskan jutaan dollar untuk membangun sebuah nama. Merek. Brand bahasa kerennya.

Nama bukan hanya panggilan. Nama adalah penanda. Identitas. Penuh semiotika makna. Dalam kasus pemasaran, ada banyak cerita tentang sebuah nama. Toyota pernah menjadi bahan tertawaan karena masuk ke pasar AS dengan nama Toyopet. Mereka baru sukses di pasar AS setelah mengeluarkan brand dengan nama eksklusif: Lexus.

Tapi saya tidak akan berbicara tentang branding dalam marketing. Anda pasti lebih ngerti daripada yang nulis tulisan sampah ini. Saya hanya ingin menulis tentang pentingnya sebuah nama bagi manusia, dan betapa kita (terutama saya) sering melupakan makna dari sebuah nama.

Service Excellence

Ide tulisan ini lahir ketika saya mengikuti seleksi wawancara untuk menjadi tukang gali batu bara. Setelah 2x tes tulis, dan 3x wawancara (serius wawancara sampe 3x!), akhirnya saya bertemu direksi. Direktur perusahaan ini orangnya asyik, menyenangkan. Dan setelah satu jam ngobrol ngalor ngidul-kanan kiri disertai penuh tawa, tiba-tiba dia bertanya:

“Oh ya, siapa tadi nama saya?”

Mak Jleb!!!… Rasanya seperti kejatuhan kapas 100kg yang dilempar dari menara 100 lantai dengan kecepatan 100km/jam. Biarpun kapas, karena beratnya 1 ton, tetep sakit juga.

Saya lupa. Blank. Itulah kelemahan orang supel seperti saya. Sangat mudah membangun keakraban, tapi sering tidak memperhatikan detail. Sangat sering, saya disapa orang yang sudah tidak saya ingat lagi namanya. Bahkan pernah, saya bertemu seseorang ditoko buku, dia mengenal saya. Kami mengobrol dengan akrab selama setengah jam, dan setelah berpisah saya masih tidak tahu siapa dia!. Saya terbiasa terfokus pada tujuan, dan bukan hubungan. Selama tujuan terpenuhi, tidak terlalu penting hubungan dengan partner kita akrab atau tidak.

Padahal nama seseorang adalah kunci penting terciptanya service excellence. Para customer service dan marketer sangat dilatih untuk mengucapkan nama konsumennya dengan baik dan benar. Jangan sampai salah, dan harus diucapkan dengan penuh hormat sekaligus akrab.

Anda pernah dihubungi pihak bank yang menawarkan produk baru? Apakah di saluran telepon dia berkata:

a. “Halo… konsumen” (Halo polisi sekalian)

b. “Halo… cowok” (Godain kita donk?)

c. “Halo-halo Bandung” (Ibukota perjuangan…)

Pasti nama Anda! Untuk urusan ini, Melinda Dee jagonya dengan layanan private banking. Karena dalam layanan ini, pihak bank akan memberikan service yang sangat personalize.

Ibu Kue

Untuk urusan nama dan service excellent yang personalize, saya punya idola: Ibu kue deket kampus. Tuh kan, saya lupa namanya! Pokoknya dia jualan kue deket fakultas ekonomi (sekarang pindah ke FISIP) kampus saya dulu (sudah sebulan jadi mantan kampus).

Apa hebatnya? Weihh… jangan salah. Dia hapal konsumennya one by one! Dia tahu nama setiap pelanggannya, jurusan kuliah, daerah asal, background keluarga, sampai status relationship!. Naksir seseorang? Gampang, tanya saja ama Ibu kue. Selama si doi beli kue di Ibu kue, pasti ada databasenya. Hahaha.

Ibu kue tergolong connector. Tipe orang kedua yang dibutuhkan untuk melakukan penyebaran wabah (tipping point) ala Malcolm Gladwell. Orangnya ramah dan terbuka. Setiap saya lewat, dia pasti akan menyapa, sekedar berbasa-basi, dan ngobrol sana-sini. Bahkan saya suka beli kue ditempat dia hanya untuk cari teman mengobrol.

Yang bikin saya kagum adalah kemampuan dia mendengarkan dan mengingat apa yang ia dengar. Jika Anda bercerita sesuatu, dia pasti mengingatnya dan mampu menceritakan ulang. Padahal setahu saya, dia tidak pernah mencatatnya.

Mendengarkan

Sejak kelupaan nama interviewer tadi, saya jadi sadar. Betapa selama ini saya tidak mendengarkan. Betapa selama ini, saya tidak menghormati lawan bicara. Saya masih memberikan label profesi, dan bukan esensi kemanusiaan yang sejati.

Saya melihat anonymous, manusia yang tidak bernama. Saya hanya melihat cap: tukang parkir, direktur, teller, pelayan, manager, salesman, koki, cleaning service, supir, dll. Saya belum melihat mereka sebagai makhluk Tuhan dengan sebuah nama dan segudang cerita. Mencoba menghargai pilihan hidup mereka, belajar untuk menghormati jalan kehidupan yang diberikan Tuhan untuk mereka.

Saya teringat nasihat Vasudeva dalam novel Siddharta karya Herman Hesse. Siddharta (bukan Gotama) yang kebingungan akhirnya mendapat pencerahan setelah belajar seni mendengarkan.

Vasudeva si tukang perahu berkata:

“Sungai telah mengajarkan padaku bagaimana cara mendengarkan. Kamu juga akan belajar dari sungai. Sungai mengetahui segala sesuatu; segala sesuatu dapat dipelajari darinya. Lihat, kamu sudah belajar dari sungat tentang kebaikan memiliki tujuan sederhana, tenggelam, mencari dasar. Siddhartha yang kaya dan termasyur telah menjadi penolong tukang satang; ini juga merupakan nasihat dari sungai. Kamu juga akan belajar hal lain darinya.

Diatas semuanya engkau akan belajar bagaimana cara mendengarkan, bagaimana mendengarkan dengan hati yang damai, dengan sebuah harapan, jiwa yang terbuka, tanpa nafsu, tanpa keinginan, tanpa penilaian, tanpa pendapat.”

Sekarang saya sedang belajar mendengarkan. Manusia bukanlah anonymous. Mereka memiliki nama dan cerita. Kisah-kisah sederhana yang sarat makna. Saya sedang belajar untuk mendengarkan tanpa keinginan, tanpa penilaian, tanpa penghakiman. Saya akan menyambut semua cerita mereka dengan hati terbuka, mata bercahaya, dan senyum yang sederhana. Tak lupa, jika sempat, saya akan bertanya tentang nama mereka.

Karena saya percaya, sebuah nama adalah sebuah doa.

sumber gambar

*)Minta doanya biar pak direktur ga ngambek. hahaha


Responses

  1. Aku juga lagi belajar buat at least tahu nama gara-gara ajarannya Mbak Arni🙂 aku termasuk tipe orang yang suka belajar dari sikap orang kan. Nah, suatu hari Mbak Arni telepon katering dan langsung bilang, “Iya, halo Mbak Maya…” jelas kita semua melongo! Kok dia tahu nama Mbaknya? Jawabnya simpel, “Kan tadi Mbaknya nyebutin nama.” Jadilah kini kalau aku tahu namanya pasti aku juga sebut nama, termasuk kalau ke teller atau CS bank gitu🙂 Ternyata dampaknya beda, hehehe~

  2. Nasihat yang bagus. Saat sekolah dulu, orang yang abai untuk mengingat nama orang atau detail dari orang yang diajak berkomunikasi langsung dikatakan sebagai apatis. Tetapi, hal itu bisa diubah.

    Btw, siapa nama direktur perusahaannya ?😀

  3. hahahha betul.. betul… betul…

  4. termasuk saia😀

  5. Oh kapas satu kg-nya nimpa saya juga.

    Terima kasih buat mengingatkan. Mari mendengarkan😀

  6. nggak sekedar mendengarkan😀

  7. Saya sangat tertarik dengan masalah “Nama” dan ketika saya membaca tulisan ini (Yang posting siapa lagi namanya……hmmm!), saya semakin mengerti akan pentingnya sebuah nama. Bagaimana jadinya kalau ada seseorang yang tidak diberikan nama oleh orang tuanya, ka jadi repot pa’ RT, pa’ Lurah, Camat, dst. hehehe

  8. gara2 itu saya ditolak hahahaha


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: