Posted by: Yoga PS | 26 August 2011

Ramadhanomics

Ramadhan yang datang tidak hanya membawa berkah spiritual, ia juga membawa berkah ekonomi. Ramadhan dapat disebut sebagai stimulus ekonomi pemberian Tuhan. Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan saya berani berkata demikian. Dua hal yang selalu dirindukan saat bulan mulia ini tiba. Dua hal yang unik, khas, dan tak ada di bulan-bulan lainnya. Dua hal yang… (please deh om… Dua anak cukup!). Oke-oke.. Dua hal itu adalah: peningkatan konsumsi dan mudik ke kampung halaman.

Paradox Konsumsi

Kita mulai bahas stimulus ramadhan yang pertama: konsumsi. Entah mengapa, ajaran islam yang membatasi konsumsi di siang hari dibalas dengan indah di malam hari. Terjadi peningkatan konsumsi, baik bahan pangan hingga berbagai kebutuhan rumah tangga.

Silahkan perhatikan data inflasi yang disajikan BPS. Hari raya idul fitri 1427 H yang jatuh pada 24 Oktober 2006  membawa kenaikan inflasi sebesar 0,86%. Lalu idul fitri 1428 H yang bertepatan pada tanggal 13 Oktober 2007, terjadi inflasi  0,79%. Selanjutnya berturut-turut idul fitri 1429 H pada 1 Oktober 2008 membawa 0,97%, Idul fitri 1430 H pada 21 September 2009 memberikan dampak 1,05%, dan terakhir ramadhan edisi 1431 H mengerek harga mencapai 0,76%.

Apa kesimpulannya? Tingkat inflasi selalu diatas 0,7%, dan ini berarti Anda akan menjadi kaya jika berdagang pada bulan ramadhan dibandingkan bulan lainnya. Industry retail mencatat kenaikan omset hingga 300%. Data-data yang ada pasti belum mencatat peranan ekonomi informal yang dihasilkan ramadhan lewat penjual takjil-takjil atau kue lebaran dadakan.

Islam benar-benar membawa rahmat kan? Eit tunggu dulu. masih ada stimulus ekonomi yang dibawa bulan ramadhan: ritual mudik. Kebiasaan pulang kampung yang tak bisa ditinggalkan oleh masyarakat urban perkotaan. Departemen perhubungan memperkirakan tak kurang ada 15,5 juta pemudik yang akan berdesak-desakan pada ramadhan tahun 2011 ini.

Kita pakai hitungan bego-begoan (karena saya emang bener2 bego dan ga’ tahu data pasti potensi ekonomi para pemudik ini). Anggap saja satu orang membawa uang 2 juta rupiah sebagai bekal perjalanan (baru ongkos transportasi, belum yang lain2). Maka sudah berputar uang sebesar 15.500.000 x Rp.2.000.000 = Rp. 31.000.000.000.000!. Bingung bacanya? Tiga puluh trilyun bos! Jumlah yang cukup untuk menyuruh Nazarudin bolak balik Kolombia-Indonesia sampai 7,750 kali!.

Belum lagi ada kenaikan harga Tuslah. Tiket bisa menjadi 3x harga normal. Ckckkcc. Mungkin karena pasti ada kenaikan harga, Bank Indonesia (BI) telah  mengantisipasi kebutuhan uang tunai masyarakat dengan meningkatkan distribusi dan persediaan uang tunai di Kantor Pusat BI dan kantor BI di daerah. Diproyeksikan kebutuhan uang (outflow) selama ramadhan dan idul fitri sebesar Rp 61,36 triliun.

Kebutuhan dana tersebut naik 12% dari sebelumnya Rp 6,57 triliun dibandingkan realisasi kebutuhan pada tahun lalu sebesar Rp 54,78 triliun. Sementara itu, persediaan uang tunai secara nasional akhir Juli 2011 sebesar Rp 123,39 triliun, yang terdiri dari uang pecahan besar (UPB) sebesar Rp 106,86 triliun dan uang pecahan kecil (UPK) sebesar Rp 16,53 triliun. Seolah tak mau kalah, nilai transaksi kartu kredit diprediksi naik sekitar Rp1-1,5 triliun pada Ramadhan 2011 menjadi Rp14-14,5 triliun!!!.

Kemenangan Fisik, Perayaan Fisik

Banyak dari kita yang menganggap ramadhan hanyalah upaya menahan lapar dahaga dan nafsu syahwat semata. Pemahaman ibadah yang masih bersifat banal dan dangkal. Dan ibadah penahanan fisik, membutuhkan perayaan fisik. Makanan lezat untuk mulut yang tersekat, baju baru untuk perut yang menahan lapar, mudik untuk mengobati luka seorang homo economicus yang harus meninggalkan kampung halaman demi mengais rezeki.

Ramadhan memang membawa paradox. Anjuran menahan diri kita bayar dengan kegiatan konsumsi ultra tinggi. Tanya kenapa?

Sumber:

http://kaltim.tribunnews.com/2011/08/05/roda-ekonomi-ramadhan

http://ramadhan.inilah.com/read/detail/1767510/jumlah-pemudik-lebaran-2011-capai-155-juta

http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=03&notab=5

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/08/20/252447/293/14/Potensi-Zakat-di-Indonesia-Rp217-Triliun-per-Tahun


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: