Posted by: Yoga PS | 28 August 2011

Pulang

pointer.co.idIbrahim bin Adham adalah seorang pangeran dari kerajaan Balkh yang terletak di Khurasan. Pada suatu siang, ia memimpin pertemuan dengan menteri-menterinya di balairung istana yang megah. Tiba-tiba masuk seorang lelaki berwajah buruk rupa kedalam ruang pertemuan tersebut. Wajahnya sangat menakutkan sehingga menteri maupun pengawalnya tidak berani memandang.

Dengan tenang, lelaki itu melangkah ke depan singgasana raja.

“Apakah yang kau inginkan?” tanya Ibrahim.

“Aku baru saja sampai di tempat persinggahan ini” jawab lelaki itu.

“Ini bukan sebuah persinggahan para kafilah. Ini adalah istanaku. Engkau sudah gila!” sanggah Ibrahim.

“Siapa pemilik istana ini sebelum engkau?” tanya sang lelaki.

“Ayahku!” jawab Ibrahim.

“Dan sebelum ayahmu?”

“Kakekku!”

“Sebelum kakekmu?”

“Ayah dari kakekku!”

“Dan sebelum dia?”

“Kakek dari kakekku”

“Kemanakah mereka sekarang?’ tanya si lelaki.

“Mereka telah tiada, mereka telah meninggal dunia!” jawab Ibrahim dengan nada geram.

“Jika demikian, bukankah ini sebuah persinggahan yang dimasuki oleh seseorang dan ditinggalkan oleh yang lainnya?”

Setelah berkata demikian, laki-laki itu menghilang. Meninggalkan Ibrahim yang bergetar ketakutan. Ada yang bilang jika lelaki itu Khidir, sosok misterius yang pernah menjadi guru Musa. Yang jelas, seperti dongeng sufistik lainnya, selalu lahir keajaiban. Ada binatang yang berbicara dan berdzikir, kemampuan berjalan diatas air, atau mudahnya mendapatkan emas permata.

Sebenarnya, saya masih meragukan kebenaran cerita bombastis itu. Namun, esensi dari cerita-cerita ini semua sama: pelajaran tentang fananya ciptaan Tuhan yang bernama dunia. Dan ada kenikmatan spiritual surgawi yang jauh lebih tinggi dari sensasi empiris indrawi.

Rumah

Harta dunia, bagi orang yang terbuka mata hatinya, hanyalah permainan yang sementara. Ada yang bilang dunia itu seperti mimpi yang penuh ilusi. Terlihat nyata, tetapi sesungguhnya tidak ada. Seorang sufi, Yunus bin Abil A’la pada suatu hari terjaga dari tidurnya. Lalu, dipanggilnya segenap murid dan keluarganya.

Kepada mereka, ia bercerita,

“Aku melihat dalam tidurku semua yang kubenci dan kucintai. Sesudah aku bangun, lenyap pula seluruhnya. Itulah dunia. Yang kita alami hari ini akan sirna sebagaimana peristiwa yang lalu tinggal kenangan belaka”.

Tak ada yang abadi. Semua berjalan. Yang mendapatkan, akan kehilangan. Yang kehilangan, akan mendapatkan. Yang gembira, akan bersedih. Yang bersedih, akan bergembira. Yang hidup, akan mati. Yang mati, akan hidup lagi.

Kita hanyalah musafir yang sedang mempersiapkan bekal untuk pulang. Karena “rumah” sesungguhnya, bukan di dunia. Dunia hanyalah terminal, stasiun, atau airport. Tempat transit dan bukan tujuan akhir perjalanan. Kita adalah penumpang yang sedang menunggu giliran untuk “mudik”.

Mudik

Bukankah kata qur’an, dunia hanyalah permainan? Karena dunia hanyalah permainan, maka kita harus bermain untuk menang dan menikmati permainan ini. Asal jangan lupa daratan. Beribadahlah seolah-olah kita akan mati esok hari dan kejarlah dunia seolah-olah kita akan hidup selamanya! Tagline yang sayangnya sering mengalami sensor di prinsip pertama. Menghasilkan homo economicus yang menghalalkan segala cara.

Untuk itulah fenomena mudik dapat menjadi pelajaran yang menarik. Karena Anda tahu, setahu saya tidak ada orang mudik membawa semua rumah, semua deposito, semua pembantu, dan semua asset yang ia miliki. Seorang pemudik hanya membawa bekal secukupnya. Untuk bekal perjalanan dan oleh-oleh yang dibagikan untuk handai taulan di tempat tujuan.

Untuk apa mencintai semua harta dunia jika suatu saat kita akan “mudik” tanpa membawa harta itu? Rasul pernah memberi nasihat kepada Ibnu Umar,

“Wahai Abdullah, jadikanlah hidup dunia ini seolah-olah kamu orang asing atau seorang pengembara dan anggaplah dirimu termasuk para penghuni surga”.

Bagi yang mudik, saya ucapkan selamat menempuh perjalanan spiritual. Selamat mensyukuri macet, antri, dan berdesak-desakan di jalanan. Semoga kita selamat sampai di tujuan, di kampung halaman. Meski kampung halaman kita yang sesungguhnya bukan disini.

Kira-kira, kapan kita “pulang”?


Responses

  1. siap2 nunggu panggilan, walau saatnya jemputan itu datang, saya belum sepenuhnya siap🙂

  2. minta dijemput kapan neng???


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: