Posted by: Yoga PS | 19 September 2011

Socius

Ada dua kejadian di tahun 2009 yang membekas di hati saya.

Pertama, saya pernah menangis ketika hendak membeli buku. Serius. Waktu itu saya ingin membeli Marketing in Crisis karya Rhenald Kasali, penulis favorit saya, di sebuah toko buku di Surabaya. Harga di barcode pas cepek. 100 rb rupiah. Saya merogoh dompet, dan pas ada 100rb rupiah. Uang sisa-sisa lebaran pemberian kakak. Hanya itu saja harta saya yang ada.

Jika saya beli buku ini, maka ada ancaman saya pulang jalan kaki 30 km ke Sidoarjo. Karena jarum bensin motor sudah menunjukkan titik nadir. Darimana dapat uang? Minta transfer orang rumah? Repot. Pinjem orang ga ada yang kenal. Gadai KTP? Malu-maluin. Mau jual diri? Dolly masih jauh bung. Hahaha.

Jika tidak jadi membeli, rugi saya jauh2 datang dengan niat membeli buku. Harusnya Eko Prasetyo menulis buku: “Orang Miskin Dilarang Beli Buku”. Tapi inilah kenyataan bisnis bos! Ada uang ada barang. Karena bingung, saya putuskan “bertanya” kepada Tuhan. Saya sholat dulu. kalo lagi bokek aja, inget sholat. Hehe.

Dalam doa, saya mengadu kepada Tuhan. Koq betapa sulitnya orang yang sedang dilanda krisis keuangan untuk bisa menuntut ilmu. Saya tidak menggunakan kata “miskin”. Selain karena malu dan emang munafik, saya percaya selama mindset-nya bener dan ada kemauan berusaha, masalah keuangan hanya bersifat temporer.

Entah mengapa, Tuhan membimbing saya untuk membeli buku itu. Bodo’ amat klo kehabisan bensin. Tinggal ninggal handphone ke “pertamini” (bensin eceran) kan bisa diambil besok. Kalo ga bisa ya pulang jalan kaki. Jika masih ga bisa, masi bisa ngesot. Kali aja bisa buat film horror kebo ngesot. Hehe.

Saat berjalan ke kasir, saya kembali melihat tumpukan buku di rak. Mereka seperti burung yang terpenjara. Mereka harus terbang, ke alam pemikiran pembaca. Suatu saat nanti, buku-buku itu akan kubebaskan. Kuterbangkan. Kukembalikan ke habitat aslinya.

Sambil menangis dan mengusap air mata setelah berdoa, saya berjanji, suatu saat akan membagikan buku-buku bagi mereka yang tidak mampu. Secara Gratis!.

(Eh alhamdulilah untungnya buku itu dapet diskon 20%! Ga jadi gadai hp ke pertamini, ga jadi jalan kaki. Goodbye kebo ngesot…)

**

Cerita kedua di tahun yang sama. Saya ingin mengikuti sebuah kursus di sebuah Universitas di Yogyakarta. Biayanya melebihi uang bulanan saya. Saya sudah memikirkan beberapa cara dari halal sampai haram untuk bisa mengumpulkan uang dan mengikuti kursus itu. Tapi belum kesampaian juga.

God save bonek! Akhirnya saya nekat. Hari terakhir pendaftaran saya datang. Mendaftar. Urusan pembayaran? Minggu depan ya Mbak, Kata saya. Ga tau deh dibayar pake apa. Butuh penari striptease berlemak Mbak?

Dan saya bisa mengikuti pertemuan pertama dengan mulus. Betapa senang hati ini. Modal nekat, dapat ilmu lagi. Biar statusnya penumpang gelap. Karena kulit saya emang gelap. Hehehe.

Di pertemuan kedua, sebelum masuk ruangan, saya dipanggil admin.

“Maaf Mas, Anda belum bisa mengikuti kegiatan karena belum menyelesaikan administrasi”. Saya diusir secara halus. Tumben nih, biasanya untuk mengusir saya perlu bantuan orang pinter dan sesajen. Haha. Dan saya benar-benar diusir!!!.

Begitu sampai kos, saya menangis. Terus bertanya-tanya. Bukankah ilmu itu anugerah titipan Tuhan dan hanya kembali menjadi milik Tuhan? Bukankah ilmu harus disebarkan untuk kebaikan dan bukan untuk keuntungan? Bukankah itu tujuan pendidikan? Mengajak orang menjadi baik. Berbuat baik. Menyebarkan hal-hal baik.

Dalam hati saya berjanji: suatu hari nanti saya akan membagikan ilmu yang saya miliki! Secara Gratis!.

**

Saya tahu penjual buku dan penyelenggara kursus tidak salah. Mereka butuh dana operasional dan biaya lain-lain. Logika mahasiswa fakultas ekonomi saya membenarkan. Pembicara dan penulis pengisi materi juga perlu dihargai. Jika Anda mampu, maka hargailah orang berilmu. Belilah buku mereka yang asli. Bayarlah seminar mereka dengan harga tinggi. Berikan appresiasi dalam bentuk materi.

Tapi tetap saja, dua kejadian ini membuat saya ingin “membalas dendam”. Membagikan ilmu dan buku bagi mereka yang benar-benar tidak mampu. Saya juga ingin membalas kebaikan takmir masjid yang memberikan sebuah buku dan telah mengubah hidup saya. Yang sampai sekarang saya tidak pernah bertemu lagi dengannya.

Darimana saya harus mulai? Dari diri sendiri. Kapan? Sekarang. Emang saya orang kaya, pake nyumbang-nyumbang? Belum kaya. Tapi tidak perlu menunggu kaya untuk berbuat baik. Karena dengan berbuat baik, kita menjadi kaya.

Mulai bulan ini, 1-2 buku akan saya bagikan. Jumlahnya memang sedikit. Tapi lama-lama bisa menjadi bukit. Saya harap teman-teman bisa bergabung. Berbeda dengan gerakan sumbang buku ke perpustakaan atau rumah baca. Disini sifatnya dari teman ke teman. Kita membiasakan membeli 1 buku setiap bulan untuk dikirimkan ke orang lain. Saya percaya kebaikan kecil yang dilakukan secara konsisten akan mengalahkan kebaikan besar yang bersifat sporadis.

Anda tahu, ilmu itu seperti air. Semakin ia dialirkan, diberikan ke orang lain, semakin deras arusnya. Semakin besar energy kinestetiknya. Semakin besar energy potensialnya. Jika air diendapkan, bisa menjadi sarang penyakit. Air yang mengendap kehilangan kodratnya sebagai air. Air hadir untuk mengalir.

Yakinlah, kebaikan akan melahirkan kebaikan. Biar kecil. Meski sedikit. Asal dilakukan dengan ikhlas dan istiqomah, suatu saat akan berbuah manis. Buku-buku yang kita bagi, akan berubah menjadi mawar melati, yang akan ditaburkan di kubur kita nanti.

Manusia tidak selamanya homo economicus. Apalagi homo homini lupus. Kita bisa menjadi homo homini socius.

Manusia adalah teman bagi sesamanya.

*)Untuk sementara, pengumuman pembagian buku masi digodok lewat grub fb ekonom gila. visit www.ekonomgila.blogspot.com for more information


Responses

  1. Mas Yoga, aku boleh join ga? Kabar-kabarin ya🙂

  2. woh silahken tante. bukunya apa aja koq. ni masi bingung teknisnya hehehe

  3. saya siap menampung buku Mas Yoga!!

  4. Mas Yoga, suri boleh ikutan ga? banyak banget buku-buku sekolah adik, tapi bingung mau di kasih kemana, bolehkah ikutan dibagi-bagi? kalo buku selain buku sekolah (novel dll) suri ndak punya😦

  5. boleh kakak. tar yah teknisnya masi digodok

  6. boleh2 tar tante izzah antri dulu tapi🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: