Posted by: Yoga PS | 2 October 2011

[Curhat] Bad News, Good News

Ada berita baik dan berita buruk yang ingin saya sampaikan.

Berita baiknya, saya akhirnya sadar jika saya ganteng (yang mau muntah silahkan ngantri di belakang). Okay, berita baik selanjutnya: saya pindah kerja ke ibukota.

Oh ya lupa cerita, setelah lulus bulan mei dari kampus tercinta, saya diterima menjadi jongos disalah satu BUMN dan bekerja di Surabaya. Antara Juli-September. Ternyata saya tidak terlalu menikmati pekerjaan di pasar modal. Hidup sepertinya membosankan jika selama 30 tahun kedepan saya habiskan dibelakang komputer, memelototi candle stick, membaca laporan keuangan, membuat rekomendasi harian, dan merayu nasabah melakukan trading.

Saya harus menerima kenyataan jika saya seorang fundamentalis sejati ala Benjamin Graham (gurunya Warrant Buffet) dan tidak terlalu menikmati proses menjadi seorang trader, apalagi spekulan. So saya resign dan alhamdulilah mulai November pindah ke Jakarta untuk menjadi kacung perusahaan multinasional asing di bidang advertising dan media investment.

Saya masih mencari passion saya, dan terus bertanya tentang arti dan tujuan hidup di dunia. Saya baru mencoba dua bidang yang saya sukai ketika kuliah: marketing dan finance (saham dkk). Saham sudah dicoba (dan saya tetap ingin jadi value investor dengan swing trading mingguan :D), Jadinya saya coba banding setir kebidang yang tak kalah asyiknya: advertising dan media.

Saya juga masih berniat kerja sambil membangun bisnis saya nanti. Niatnya sih kerja cari modal, skill, dan jaringan. Jika ternyata kerjanya menantang dan menyenangkan, mungkin bisa lanjut sampai pensiun. Tapi sebagai backup, saya HARUS punya bisnis sampingan. Entah apa itu. Mungkin Tolstoy Farm. Hahaha.

Bad News

Berita buruknya: Tantangan menulis berkualitas menjadi semakin berat. Ritme hidup di ibukota membuat saya harus berangkat pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Padahal untuk menghasilkan tulisan selama ini, saya butuh membaca 2-3 buku setiap minggu. Rajin membuat resume dan kutipan. Membedah tumpukan sastra, novel, dan puisi (agar tulisan berjiwa dan tidak kering). Membackup data statistik. Traveling dan berbincang-bincang dengan orang untuk menggali insight plus perspektif baru. Tak lupa rajin merenung serta melakukan kontemplasi.

Saya tidak terbiasa asal tulis. Karena menulis adalah salah satu passion hidup saya. Dan saya serius menjalaninya. Sudah ada writer plan 2020 yang sudah berlangsung selama setahun. So far so good. Dalam fase konsolidasi hingga 2013 saya hanya memiliki target sederhana: rutin menulis setiap minggu!. Indicator kesuksesannya meliputi konsistensi terbit, kuantitas keterbacaan per halaman, jumlah “jempol” dan tautan, serta komentar yang masuk di setiap tulisan.

Agar tetap produktif menulis minimal seminggu satu tulisan, saya akan menghadirkan rubric baru: [Curhat]. Namanya doank curhat. Tapi ga 100% curhat. Dalam [Curhat] saya lebih mengedepankan pandangan pribadi. Sehingga tidak perlu capek2 cari data, teori, atau landasan ilmiah. Tulis aja apa yang dikepala. [Curhat] lahir dengan konsep free writing yang lebih personal dan sentimental. Sehingga lebih membantu saya untuk mengekspresikan diri dan berbagi.

Lantas, kalau situ rindu gaya tulisan saya yang sebelum2nya gmana? Gampang. Jika tidak ada label [Curhat] di judul tulisan, berarti itu tergolong essay2 reguler saya. Insya Allah masih segar, kaya data, punya landasan teori ilmiah yang dikemas ringan, memiliki nuansa sastra, serta mencerdaskan dan mencerahkan (Amiiiiinnnnnnnnnnnnn :D).

Tak lupa saya umumkan pergeseran jadwal terbit tulisan, dari hari Jumat menjadi hari Minggu. Karena saya butuh waktu untuk keluar dari rutinitas dan menggali pandangan-pandangan baru. Mencari inspirasi dan berbagi aspirasi. Saya akan tetap berusaha keras menghadirkan tulisan berkelas. Karena setiap ide tulisan yang lahir sudah saya anggap seperti anak sendiri. Anak kata-kata yang harus dirawat dan dibesarkan dengan sepenuh jiwa raga.

Bagi saya, menulis adalah salah satu bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Karena telah menitipkan kecerdasan, pengetahuan, dan kesempatan untuk mengembangkan pemikiran. Saya akan terus menulis. Untuk Tuhan dan kemanusiaan.


Responses

  1. “Indicator kesuksesannya meliputi konsistensi terbit, kuantitas keterbacaan per halaman, jumlah “jempol” dan tautan, serta komentar yang masuk di setiap tulisan”

    sama Bung!
    tambah lagi, banyaknya orang yang subsribe blog.

  2. masalahnya saya ga cuma pake blog ini. tapi juga ada pembaca khusus dari fb atau kompasiana. multi channel gitu🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: