Posted by: Yoga PS | 9 October 2011

Para Pencari Tuhan

Untuk mengetahui kualitas iman seorang muslim, maka cukup periksa sholatnya. Karena ibadah ini menjadi tiang agama. Pondasi yang mendasari kualitas takwa seorang hamba. Jika baik sholatnya, insya Allah baik hidupnya. Karena itulah, amalan yang dihisab pertama kali adalah urusan sholat.

Sayangnya sholat saya berantakan. Sering pas injury time (shubuh jam setengah 6, dhuhur setengah 3, dsb), jalannya ngebut via jalan tol pula. Sholat saya juga mengidap gejala ejakulasi dini: ga’ sampai 3 menit sudah kelar. Hahaha. Surat yang dibaca Cuma itu-itu saja. Saya juga masih bertanya-tanya, dimana nikmatnya sholat.

Sampai saya bertemu teman kantor bernama Mas Hari. Dia waktu sholat khusyuk sekali. Tenang. Tidak terburu-buru. Ada semacam perasaan damai yang menjalar. Ada rasa puas yang terpancar. Setelah sholat pasti raut wajahnya memancarkan kebahagiaan. Berseri-seri. Berbinar-binar.

Karena penasaran, saya bertanya, bagaimana caranya sholat senikmat itu. Dia memberi saran:

Coba kamu beli celengan. Terus setiap pagi isi seribu. Sambil berdoa: Ya Allah, ajari aku sholat khusyuk. Nanti setelah penuh, kamu sedekahkan isi celengan itu”

Iman itu anugerah bagi mereka yang terpilih. Dan hanya mereka yang beruntung saja yang dapat terpanggil. Kita hanya bisa meminta kepada Tuhan agar menjadi golongan yang terpanggil itu. Untuk urusan jalan dan cara, kembalikan kepada Tuhan. Itu masalah teknis Sang Penguasa, bukan urusan seorang hamba.

Halaqah

Akhirnya saya mencoba mengikuti pengajian shalat khusyuk yang diikuti Mas Hari. Nama pengasuhnya Ustad Sukanan, dia murid Abu Sungkan yang sering memberi pelatihan tentang sholat. Hari Rabu kemarin saya datang. Bertempat disebuah perumahan di daerah Waru. Di halaman rumah bercat hijau. Tipe perumahan 70. Beralaskan tikar dari anyaman kain.

Ketika saya datang, halaman rumah sudah ramai diisi belasan orang. Rata2 umur 30 sampai ada yang 70 tahun. Saya tampaknya paling muda. Mereka datang untuk belajar sholat. Mencari rahmat Tuhan yang sering terlupakan.

Sebelum sholat, ada sesi “sambung rasa” dengan pencipta. Semacam dzikir. Para jamaah diajak untuk menggali kehadirat-Nya. Menyebut nama-Nya. Jika sholat diibaratkan menelpon Tuhan, proses ini adalah memencet nomor telpon. Beberapa jamaah mulai menangis. Menyebut nama Tuhan dalam isakan dan raungan.

Setelah siap, sholat isya pun dimulai. Untung saya sudah sholat sebelum datang ke perumahan yang dekat dengan bandara Juanda ini. Karena sholat isya memakan waktu 35 menit cuk!!! Pasti saya sudah misuh-misuh karena ga tahan berlama-lama.

Bacaan sholatnya dibaca dengan normal. Tapi setiap gerakan sholat mulai dari takbir hingga salam, dilakukan dengan tenang. Tidak tergesa-gesa. Lambat tapi lembut. Terkadang menimbulkan keheningan. Menghasilkan ketenangan dan kedamaian.

Trance

Setelah sholat, kami duduk bersila di halaman. Ada sesi siraman rohani. Bukan dengan ceramah seperti pada umumnya.

Siraman rohani yang sejati tidak disampaikan dengan lisan. Tapi lewat hati. Ini urusan ihsan. Anugerah Tuhan. Ini langsung dari langit. Kalau berbicara ilmu, maka hanya sampai di tataran wawasan, semua harus dirasakan, dan jangan dipikirkan”

Ustad Sukanan memberi penjelasan. Dia mengajak jamaah mengangkat tangan. Lalu menyebut nama-Nya.

Allahhh.. labbaik Allah humma labbaik… All…..llahh”

Para jamaah mulai menangis.

Ayo lebih dalam… Gali… perjalanan kita lebih dari Ini… rasakan getaran ilahi… jadilah mereka yang terpanggil”

Jamaah bersahutan menyebut nama Allah. Ada yang terisak, ada yang berteriak. Mereka merasakan trance. Sebuah kondisi seperti orang kerasukan.

Sujud… belajarlah ilmu sujud. Seperti sujudnya nabi Adam…”

Beberapa jamaah langsung bersujud. Sambil terus menyebut nama-Nya. Kakek yang duduk di depan saya bahkan terjengkang. Menangis terguling-guling. Saya Cuma terbengong-bengong. Menundukkan kepala sok khusyuk. Bukan karena merasakan getaran ilahi, tapi karena mengantuk dan tak tahu harus berbuat apa.

Aneh memang. Saya beberapa kali ikut acara semacam ini. Dari renungan malam, muhasabah, hingga training kematian. Dan hasilnya ga mempan. Tak pernah saya menangis tersedu-sedu seperti peserta yang lain. Malah pernah sewaktu di Yogya, saya justru ketawa-tawa sampai jadi perhatian panitia. Juga sewaktu disuruh tidur di kuburan. Eh… Saya malah tidur beneran. Repot deh. Hahaha.

Mungkin karena kebanyakan dosa kali ya? Uda kebal hatinya. Tidak sensitive merasakan getaran ilahi. Karena kuncinya ada pada hati. Kenikmatan ibadah hanya bisa didapat dari hati yang bersih. Dan hasil akhir ibadah adalah hati yang bersih. Hati yang terbuka dan bercahaya. Hati yang mampu merasakan kehadiran Tuhan dimana pun ia berada.

Tapi saya teringat pesan Ibnu ‘Athaillah dalam Al-Hikam:

Jika Allah membukakan jalan bagimu untuk mengenali-Nya, tidak usah peduli meski amalmu masih sedikit. Sebab, Dia tidak membukakan jalan tersebut kecuali karena ingin memperkenalkan diri padamu. Tidakkah engkau menyadari bahwa perkenalan tersebut merupakan anugerah-Nya untukmu, sementara amal adalah persembahanmu untuk-Nya. Tentu saja apa yang kaupersembahkan untuk-Nya tidak bisa dibandingkan dengan apa yang Dia anugerahkan untukmu.”

Pencari

Kesibukan mengumpulkan dunia sering meninggalkan lubang di hati. Seperti ada yang kurang. Ada yang hilang. Entah apa namanya. Ditambah permasalahan hidup yang kian berat, kita manusia, membutuhkan sandaran. Bukan pelarian. Tapi jawaban tentang rahasia kehidupan.

Saya percaya manusia akan mendapatkan apa yang ia cari. Karena perbuatan bergantung pada niatnya. Mereka yang hidup mencari harta, akan mendapat harta. Mereka yang hidup demi kehormatan dunia, akan mendapatkan kehormatan dunia. Tapi mereka yang hidup untuk Tuhan, akan mendapatkan semuanya. Cukuplah Tuhan menjadi sebaik-baiknya anugerah kehidupan.

Malam itu, bulan bersinar terang. Langit cerah. Waktu semakin larut. Udara semakin dingin. Terdengar alunan lagu dangdut Ayu Ting-ting menggema lemah entah dari mana. Para pencari ini terus menyebut nama pencipta-Nya. Bercucuran air mata. Berpuas-puas menyebut nama-Nya. Dengan lembut dan penuh kasih sayang. Karena ia Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Malam itu, langit bercahaya karena dipenuhi doa. Satu persatu pecinta Tuhan ini menumbuhkan sayap di hati mereka. Berusaha terbang ke langit. Tertatih-tatih mendaki tangga-tangga doa. Demi mencari anugerah tertinggi: kedamaian hati lewat kehadiran ilahi.

Malam itu, saya seperti debu kecil yang tak tahu harus berbuat apa.


Responses

  1. Orang yang ibadahnya banyak belum tentu lebih bertakwa dibanding orang yang ibadahnya lebih sedikit. Simak saja kata Fathimah istri Umar bin Abdul Aziz tentang suaminya:

    “Demi Allah, Umar bukanlah orang yang paling banyak ibadahnya diantara kalian. Tapi aku tak pernah bertemu dengan orang yang lebih takut kepada Allah daripada dia”

    Tapi semua orang tahu pada zaman itu bahwa Umar bin Abdul Aziz lah orang yang terbaik.

    Walau jelas itu tidak bisa dijadikan alasan…

    Ingat kisah 99 pembunuh? Keinginan keras untuk bertaubat telah membawa sang pembunuh mendapat surga Allah, sementara dengan bodohnya sang ahli ibadah itu mengusir si pembunuh, merasa ia lebih baik.

    Yang penting, terus saja berusaha meraih jalan menuju kepada-Nya dan jangan pernah putus asa.

    “ Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesunguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al Ankabut (29) : 69).

  2. ampon kakak wahyu… terima kasih pencerahannya… berarti masih ada kesempatan buat orang yang ibadahnya bolong2 kaya saia. hahaha

  3. kok abu sungkan???

    abu sangkan kali’ kakakk.. hihihihihi😀

  4. hahaha iya ding lupaaa

  5. Keimanan seseorang kan gag diukur dari seberapa banyak atau seberapa meraungnya dia nangis🙂

  6. hiks..hiks.. T_T

  7. abis pelatihan, sholatnya tepat waktu g bro??

    2 bulan belakangan ini aku sholat tepat waktu terus.. kecuali hari mggu, malamnya ada bola, subuhnya jam 7😀

    efeknya emang terasa, lo bakal mudah nangis.. cuma nonton film harun yahya, baca terjemahan qur’an n ngeliat keindahan alam bisa bikin nangis. aku aja heran kok bisa secengeng ini. aku sampai nangis sesengukan gara2 baca azzumar ayat 53

    aku curiga bapak2 yang ikut pelatihan sholat khusyu tadi, emang sholatnya sudah baik, tp pengen lebih baik lagi.

  8. Tetep aja tuh. wakakakakakka


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: