Posted by: Yoga PS | 30 October 2011

Pencabut Nyawa

gaf.co.id

Pada bulan Januari 1848 di lembah Sacramento California, seorang tukang kayu bernama James W. Marshall dan partnernya, John A Sutter, berhasil menemukan emas secara tidak sengaja. Mereka sudah mencoba merahasiakan hal ini. Tapi emas adalah emas. Semakin ditutupi, semakin berkilau.

Samuel Brannan, pemilik toko perkakas didekat lumbung gergaji mereka, pergi ke San Fransisco untuk menyebarkan “kabar gembira” ini. Tujuan Brannan murni bisnis: agar banyak orang datang dan membeli peralatan tambang di tokonya. Dalam beberapa bulan, kabar menyebar seperti angin. Seluruh kota mengetahuinya. Dan seluruh kota mengejarnya. San Fransisco berubah menjadi kota hantu. Kota mati. Karena semua orang, tua muda, wanita pria, anak-anak dan dewasa, pergi untuk berburu emas.

Musim panas ditahun yang sama, berita sudah menyebar ke West Coast, menyeberangi Mexico, bahkan hingga ke Hawai. Rumor juga mencapai Mississippi dan Negara bagian timur. Presiden AS kala itu, James K Polk akhirnya membuat pengumuman resmi tentang penemuan emas di California. Pengumuman yang membuat orang-orang menjual harta mereka, membeli cangkul dan sekop, lalu pergi ke California untuk menambang emas.

Kutukan Midas

Para penambang, yang kemudian dikenal sebagai forty-niners atau argonauts, datang dari seluruh penjuru negeri. Termasuk imigran yang berbondong-bondong menyeberangi lautan dari Eropa, Australia, bahkan dataran China!.  Sejarah mencatatnya sebagai gold rush. Sebuah demam yang melanda 10.000 orang yang tumpah ruah berburu logam mulia ini.

“Go west, young man!” seru Horace Greely, pendiri New York Tribune pada 1859. Seruan yang kemudian mengecewakan dirinya sendiri karena setelah melakukan perjalanan ke barat, ia hanya menemukan dataran tandus yang kering, tatanan social tanpa hukum, dan kenyataan dimana lebih mudah membeli whiskey daripada makanan. Kriminalitas sangat tinggi. Bandit berkeliaran. Opium dijual bebas. Prostitusi menjadi sebuah kewajaran. Seperti setting cerita-cerita di film Koboi zaman sekarang.

Jika Negara dengan alam yang kaya dikenal memiliki “kutukan sumber daya”, maka daerah yang memiliki sumber daya mineral seperti emas harus mengalami “kutukan Midas”. Seperti kisah Midas, raja Phrygia di Asia kecil. Permohonannya kepada Dionysus sang dewa anggur, agar setiap yang disentuhnya menjadi emas, dikabulkan. Permasalahan timbul ketika semua makanan dan orang yang dikasihinya, ikut berubah menjadi emas ketika disentuh.

Apalah artinya emas jika tidak membawa kesejahteraan dan kebahagiaan. Tak pernah ada kedamaian di daerah penghasil emas. Papua masih menjadi contoh korban “kutukan Midas”. Propinsi dengan sumber daya tambang terbesar di Indonesia ini masih terus tertinggal dari propinsi lain yang justru tidak memiliki cadangan emas dan tembaga. Berita konflik karyawan Freeport dan maraknya penembakan terhadap aparat keamanan hanyalah puncak gunung es tentang gagalnya “trickle down effect” dari kekayaan cadangan emas dan tembaga di bumi Cendrawasih.

Mungkin karena itu juga, cerita rakyat di Armenia menyebut emas sebagai pencabut nyawa.

Dongeng Armenia

Alkisah, tiga saudara perempuan hidup disebuah bukit. Pada suatu hari ketika sedang menggali di halaman belakang rumahnya mereka menemukan sebuah kotak yang besar. Setelah dibuka, mereka kemudian menjerit sejadi-jadinya,

“Awas! Ini adalah pencabut nyawa. Apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan menguburnya kembali atau kita harus meninggalkan rumah ini?”

Empat orang pria yang baru pindah disebelah rumah secara tidak sengaja mendengar teriakan tadi. Keempatnya lalu bertamu dan bertanya tentang masalah yang dihadapi tiga perempuan ini. “Kami sedang berusaha memutuskan bagaimana cara menjauhkan diri dari pencabut nyawa ini”. Kata mereka.

“Apakah yang dimaksud dengan pencabut nyawa?” tanya salah satu pria, “Tunjukkan kepada kami”.

Ketiga bersaudara itu kemudian berjalan menuju sudut halaman dan menunjuk kearah kota berisi penuh emas. “Inikah pencabut nyawa yang dimaksud?” tanya pria yang lain.

Keempat pria itu lalu tertawa. “Dapatkah kalian percaya?” tanya pria yang paling besar badannya. “Mereka pikir emas adalah pencabut nyawa”. Kata yang lain sambil tertawa terbahak-bahak.

Pria yang berjanggut kemudian menyarankan ketiga perempuan ini untuk pergi ke kota dan menyerahkan urusan pencabut nyawa ini kepada mereka. Perempuan itu setuju dan segera pergi.

Empat pria ini kemudian mengatur siasat. Mereka setujua untuk membagi emas secara adil diantara mereka. Mereka juga setuju bahwa dua diantara mereka pergi ke kota untuk membeli makan siang dan dua lainnya tinggal untuk membagi emas tersebut.

Kedua pria yang tinggal setuju bahwa mereka cukup membagi emas itu untuk mereka berdua saja. Mereka menyusun rencana untuk menyergap dan membunuh dua pria lainnya sekembali dari toko makanan untuk kemudian dikuburkan didalam lubang dimana emas itu ditemukan.

Sementara itu, dua pria yang bertugas membeli makanan juga memutuskan untuk membunuh dua orang lainnya dan membagi emas menjadi dua saja. Mereka meracuni makan siang yang mereka beli dan berencana menguburkan mayat temannya dibekas lubang tempat emas ditemukan.

Sesampainya mereka di rumah, dua orang yang tinggal berhasil menyergap dan membunuhnya. Sebelum menguburkan mayat, mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Mereka tidak tahu jika makanan itu telah diracun sebelumnya. Tidak lama kemudian, mereka menyusul 2 teman yang baru saja mereka bunuh.

Malamnya, ketiga perempuan itu kembali dari kota dan menemukan empat orang pria mati di samping kota emas. “Sudah kami katakan ini adalah pencabut nyawa. Tapi mereka tidak percaya”. Akhirnya mereka pergi lagi. Meninggalkan emas si pencabut nyawa itu.

Pesan moralnya: Jika Anda menemukan “sang pencabut nyawa”, boleh diserahkan kepada saya.


Responses

  1. wah wah…
    ada pencabut nyawa di jariku!

  2. Saya jadi keinget komik butut yang dulu pernah saya baca. Komik lokal, karangan Ema Wardhana. Latarnya Arabia. Pelakunya musafir. Tapi jumlah dan ceritanya persis. Saya simpan di mana ya komik itu.. :S

  3. pesan terakhirny itu loh.. xixixixii =))

  4. mana kasih ke saia aja :p

  5. iya, biasanya klo folks (cerita rakyat) sering banyak copy paste yang mirip2.

    Seharusnya niru sinetron, “Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, tempat, dan bla bla bla”

  6. pesan sponsor tuh :p


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: