Posted by: Yoga PS | 6 November 2011

Iman Melawan Eman

Julia menghitung isi dompetnya, hanya tersisa beberapa pounds. Itu semua yang ia punya, dan hari itu adalah malam natal. Bagaimana mungkin ia bisa membeli hadiah untuk suaminya, Jim, dengan uang sedikit ini?

Dia meringkuk di sofa dan menangis. Lalu, menarik dirinya dan berdiri, merapikan rambutnya, mencuci muka yang sembab, dan tiba-tiba dia mempunyai ide. Di rumahnya mereka punya 2 benda yang sangat berharga. Yang satu jam emas milik Jim dan yang satunya lagi rambut panjangnya yang sedikit berombak.

“Saya tahu apa yang akan saya lakukan!”, katanya, “Saya akan menjual rambut saya!. Dengan begitu, saya akan mempunyai uang untuk membeli hadiah natal”.

Ia segera menemukan toko yang mau membeli rambutnya. Sekarang ia memiliki 50 poundsterling didalam kantong jaketnya- harga dari rambut yang indah. Ia berjalan menuju toko perhiasan dan membeli tali jam dari kulit yang bagus.

“Akhirnya”, batin Julia, “dia akan bisa memakai jamnya dengan bangga”. Sampai hari ini, Jim tidak bisa memakai jam karena tali jamnya sudah rusak.

Hari itu waktu sudah larut, Jim baru pulang. Ketika ia melihat rambut istrinya yang pendek, wajahnya berubah menjadi pucat. Julia kemudian merangkul suaminya dan berkata, “jangan takut”, ia berusaha menyakinkan. “Ini akan tumbuh kembali dan saya menyukainya seperti ini”.

Untuk sesaat Julia berpikir bahwa Jim akan menangis. Hatinya menjadi kecut ketika Jim memberinya sebuah kotak kecil. “Selamat Natal cintaku”. Katanya. “Tapi saya takut hadiah ini menjadi tak berguna”. Dia membuka kotak dan menemukan sebuah sisir indah berwarna emas – benda yang sering kali dikaguminya di etalase toko perhiasan. Ini tentunya akan sangat sempurna untuk rambutnya yang panjang dan berkilau. Tapi sekarang…

“Cantik sekali”, katanya lirih. “Tapi saya yakin kamu tidak membelinya..”

“Saya tahu betapa kau menginginkannya” kata Jim “saya menjual jam emas saya untuk mendapatkan uang. Saya tidak akan pernah dapat memakainya lagi juga karena talinya sudah butut”.

Julia kemudian memberi Jim kotak kecilnya. Ia membukanya perlahan mencoba menikmati kejutannya. Ketika ia memegang tali jam yang bagus itu ditangannya, ia melihat kedalam mata istrinya dan kemudian tersenyum.

Meskipun Julia telah mengorbankan rambutnya demi membeli tali untuk jam yang dikorbankan Jim bagi rambut Julia, mereka tetap merasa bahagia. Karena pada dasarnya pengorbanan mereka tidak sia-sia. Mereka telah mendapatkan hadiah utama dari sebuah pengorbanan: cinta.

Eman

Saya sengaja menggunakan cuplikan cerita pendek The Gift of The Magi karya O. Henry sebagai pengantar tulisan tentang Idul Adha. Karena saya percaya nilai-nilai kebaikan selalu bersifat universal. Meskipun bersetting cerita natal, tapi tetap memberikan pelajaran tentang arti pengorbanan.

Pengorbanan yang dilakukan Julia kepada Jim, atau Jim kepada Julia, tentu tidak bisa disandingkan dengan pengorbanan Ibrahim dan Ismail. Karena seperti kita tahu, Tuhan menyuruh Ibrahim untuk mengorbankan nyawa anaknya sendiri!!!. Entah apa yang ada “dibenak” Tuhan, hingga turun perintah seperti itu. Untungnya dizaman nabi Ibrahim belum ada Komisi Perlindungan Anak. Hehehe.

Yang jelas, berkorban adalah salah satu bentuk ujian tentang besarnya rasa cinta kita. Karena cinta perlu pembuktian. Lewat ujian dalam sebuah pengorbanan. Dari situ dapat dilihat kualitas cinta yang sesungguhnya. Karena cinta sejati selalu berwujud pengorbanan. Seperti cinta seorang Ibu yang rela berkorban nyawa demi bayi yang dilahirkannya.

Begitu juga dengan cinta kita kepada Tuhan. Juga butuh pembuktian. Ini masalah iman yang tak bisa hanya dalam tataran ucapan, tapi harus berwujud dalam tindakan. Lewat kurban. Dengan membagi rezeki untuk mereka yang kekurangan. Sayangnya iman saya masih sering dikalahkan oleh rasa eman.

Anda tahu, eman (diucapkan seperti nama seorang pelawak) dalam bahasa Jawa berarti rasa berat hati, sayang, dan tidak ikhlas melepaskan. Seperti ungkapan “Emaneman jika dibuang”. Itu berarti “Sayang sekali jika dibuang”. Eman itu rasa sayang yang menggandoli ketika harus berpisah dengan sesuatu.

Eman menunjukkan sikap takut kehilangan, keterikatan, dan tidak rela memberikan. Penyakit yang menghantui amal sedekah dan perbuatan baik lainnya. Rasa eman juga menjadi diagnosa utama tentang penyakit sejuta umat manusia, terutama saya : terlalu cinta kepada dunia.

Iman

Eman hanya bisa dikalahkan oleh iman. Kepercayaan. Percaya bahwa Tuhan itu ada, percaya pada janji Tuhan yang akan membalas kebaikan hingga 700 kebaikan. Percaya tidak ada orang yang miskin karena memberi, dan percaya pengorbanan demi Tuhan hanya akan menghasilkan jalan-jalan penuh keindahan.

Iman akan membunuh rasa eman. Rasa sayang sirna. Rasa takut kehilangan tak pernah ada. Iman mengalahkan eman dan menghasilkan cinta. Seperti Julia yang membuang rasa eman kepada rambutnya demi cintanya: Jim. Seperti Jim yang membunuh rasa eman kepada jam emasnya demi cintanya kepada Julia.

Demikian juga Ibrahim tanpa rasa eman, merelakan anak yang begitu dicintainya. Darah daging satu-satunya. Tentu Ismail juga tanpa rasa eman, didorong semangat iman, rela memberikan nyawanya sendiri sebelum digantikan oleh domba. Membagi kelebihan yang kita miliki bukanlah kurban, itu hanya berbagi. Memberikan sesuatu yang kita cintai barulah berkurban. Tidak merasa emaneman. Karena sudah terlanjur cinta dan beriman.

Karena itu saya percaya ibadah haji dan kurban hanya wajib bagi mereka yang mau, bukan yang mampu. Karena pada dasarnya kita semua mampu, jika kita mau.


Responses

  1. ikhlas sepertinya 1 kata yang cocok untuk mewakili kondisi “rela mengorbankan sesuatu yang dicintai” ya om?

  2. ampon kakak

  3. segala sesuatu bisa dikalahkan dengan iman gan ….. salam kenal

  4. sama2 bos ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: