Posted by: Yoga PS | 11 December 2011

Tiga Pelajaran Untuk Demonstran

Semoga tenang disanaDunia berubah sejak 17 Desember tahun lalu. Dipicu seorang tukang buah yang lama menganggur dan masih berhutang $200. Pemuda itu lalu memutuskan membeli gerobak dan berjualan di kaki lima. Tapi nasibnya sedang sial, siang itu polisi Tunisia melakukan razia di kota Sidi Bouzid, 256 kilometer dari Tunis.

Gerobaknya disita. Sang pemuda, Mohammad Bouazizi yang dipanggil Basboosa, memberontak. Dia mengadu ke balai kota dan tidak mendapat tanggapan apa-apa. Akhirnya, ia membeli dua kaleng bensin, lalu membakar dirinya sendiri di depan kantor gubernur. Setelah tiga minggu, pemuda 29 tahun ini menghembuskan nafas terakhir.

“Aku pergi, Ibu. Maafkan, aku tidak patuh. Aku pergi dan tidak akan kembali,” katanya dalam dinding akun Facebook-nya.

Kematian seorang tukang buah yang memicu kemarahan rakyat. Ribuan pelayat berdatangan. Berteriak lantang. “Kami akan membalaskan dendam Anda, Mohammad!” Pemakaman berujung rusuh. Tragedy yang menjadi tipping point. Penyebar wabah ketidakpuasan pemerintah. Rakyat yang sudah muak, lapar, tertekan, dan butuh kehidupan yang lebih baik memberontak. Kematian Bouazizi seakan-akan menjadi martir perjuangan. Ia berubah menjadi sekam api pemberontakan.

“Saudaraku telah menjadi simbol perlawanan di dunia Arab,” ujar kakaknya, Salem Bouazizi.

Hasilnya, Presiden Tunisia Zine el-Abidine Ben Ali harus turun dan mencari suaka ke Arab Saudi. Tragedy pembakaran diri yang “membakar” Timur Tengah. Memaksa penguasa-penguasa dunia Arab, untuk turun dan melarikan diri.

Replikasi Setengah Jadi

Hampir setahun kemudian, 7 Desember 2011, aktivis KontraS, Sondang  Hutagalung, melakukan aksi yang serupa. Ia membakar dirinya depan Istana Negara. Akhirnya mahasiswa 22 tahun ini meninggal tiga hari kemudian. Tapi tidak seperti Bouazizi, hampir tidak ada yang “terbakar”. Rakyat masih merasa biasa-biasa saja. Koruptor masih tertawa-tawa. Politikus masih sibuk berdebat. Mafia hukum masih terus tawar menawar di pasar pengadilan.

“Kobar api Sondang menyebar, tapi tidak mampu membakar hati dan menyambar kaki sahabatnya, kawan-kawan kampusnya, dosennya, rekan-rekannya sesama aktivis KontraS, tokoh agama, akademisi dan para aktivis yang gemar berbicara kemanusiaan dan keadilan,” kata Adian Napitupulu, mantan aktivisi 98.

Kematiannya tidak membakar apa-apa. Tidak terjadi tipping point. Tidak ada penyebaran wabah seperti Bouazizi. Sondang sepertinya harus rela hanya akan menjadi penghias halaman pertama surat kabar, liputan televisi, topic seminar, menjadi pergunjingan pro kontra di forum dunia maya, atau topic obrolan warung kopi di masyarakat. Setidaknya ia mencatatkan sejarah sebagai orang pertama yang melakukan aksi bakar diri di bumi Indonesia selama melakukan demonstrasi.

Tapi apa yang sebenarnya ia cari? Jika Sondang ingin menyampaikan kritik kepada pemerintah, mengapa tidak ada aksi lanjutan? Mengapa tidak ada masyarakat yang ikut “terbakar”?

3 Pelajaran untuk Demonstran

Saya mencatat ada tiga hal yang menjadi penyebab tidak terjadinya dampak lanjutan aksi bakar diri yang dilakukan Sondang.

Pertama, ketidakjelasan pesan. Untuk apa ia membakar diri? Apa tuntutannya? Mengapa ia melakukannya? Semua masih menjadi misteri. Bahkan dalam berita yang saya lihat dari Trans7, disampaikan jika motivasi aksi bakar diri ini masih belum pasti.

Then, how could you spread message if you have no message??? Bagaimana Anda bisa menyebarkan sesuatu jika sesuatu yang Anda sebarkan tidak jelas? Tidak seperti Bouazizi yang memiliki pesan jelas: Kembalikan gerobak kami dan lindungi rakyat kecil!

Kedua, isu yang tidak “menjual”. Isu berarti problem yang diangkat. Kegagalan menjual isu berarti aksi yang kita lakukan akan sepi peminat, dan tidak berarti apa-apa. Okey, Anda membakar diri, lalu apa? Apa yang ingin Anda katakan? Apa bedanya Anda membakar diri demi nasib rakyat atau Anda sudah frustasi dengan kehidupan Anda sendiri? Menyalahkan pemerintah? Harga-harga mahal? Kemiskinan naik? Memang itu adalah sebuah masalah. Tapi apakah bisa diselesaikan dengan membakar diri?

Ketiga, kegagalan menarik simpati. Simpati mutlak dibutuhkan jika Anda ingin melakukan perubahan social. Simpati akan menghasilkan partisipasi aksi. Biasanya, simpati akan hadir jika pelaku aksi adalah korban rezim. Namun, untuk kasus Sondang, apakah rakyat memberikan simpati? Tidak semuanya. Bahkan banyak pihak yang menghujat pelaku aksi bakar diri ini. Mulai dari tuduhan frustasi, menyia-nyiakan masa depan, sampai konspirasi sekedar mencari sensasi kontroversi.

Impact

Dalam buku tentang cara membuat perbedaan di dunia, Impact: How to Get Noticed, Motivate Millions, Anda Make A Difference in a Noisy World karya Ken McArthur disebutkan jika Anda ingin mengubah dunia, maka langkah pertama adalah: memiliki pesan dan tujuan yang jelas. Lalu identifikasikan audience Anda. Setelah itu temukan medium yang tepat, ciptakan cerita, jelaskan aksi spesifik yang harus dilakukan oleh orang lain, sebarkan pesan via berbagai media, melakukan follow up, dan berusaha menemukan leverage.

Pesan yang Anda sampaikan harus jelas dan sederhana. Isunya harus dekat dengan kehidupan sehari-hari, berpengaruh, krusial, mengundang simpati, bisa dilakukan oleh orang lain, dan kaya dengan cerita. Jika saya mengajak Anda mengumpulkan tanda tangan petisi hukuman mati untuk koruptor tentu lebih mudah “dijual” daripada membuat dukungan satu juta tanda tangan untuk menurunkan berat badan saya.

Aksi bakar diri Bouazizi dapat “membakar” dunia Arab karena issue yang ia angkat begitu sederhana, actual, dekat dengan kehidupan sehari-hari, penuh simpati, dan menjadi sebuah cerita nyata. Jika Anda ingin melakukan “aksi heroic” lainnya, pikirkan pesan McArthur diatas. Dunia tidak akan menjadi lebih baik hanya dengan membakar diri sendiri, mogok makan, memecahkan kaca, berteriak-teriak, dan menggunakan kepentingan rakyat untuk sarana pemenuhan nafsu kekuasaan.

Saya percaya masih banyak cara yang lebih cerdas untuk memajukan Indonesia.


Responses

  1. setujreeeng!!!😀
    termasuk juga jika Anda mengiklankan diri,harus dengan tujuan dan pesan yang jelas😀 hahaha~

  2. loh kan tujuannya da jelas😀

    Tante mau daftar??? Masi setahun lagi koq🙂

  3. bener banget tujuannya harus jelas. Diantara teman-teman yang sering ikut demo, yang tahu tujuannya cuma korlap dan segelintir orang, sedangkan yang lain seringkali hanya ikut meramaikan tanpa tahu tujuannya apa. They feel the spirit but not understand what the meaning.

  4. Makanya saya dulu paling males klo diajak demo. Mending klo demo masak2an hehehe

  5. tapi sebenernya susah juga lhoo untuk mengumpulkan banyak massa (walaupun hanya memanfaatkan kesadaran naif mereka).😀

  6. yang jelas indonesia sudah sedemikian rupa buruknya sampe-sampe ada orang protes sambil bakar diri ampe mati di depan istana negara juga gak mempan.

  7. hehehe mending bakar kebo ya😛


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: