Posted by: Yoga PS | 8 January 2012

Tentang Lomba dan Rahasia Hidup Bahagia

Ada banyak lomba yang pernah saya ikuti selama jadi mahasiswa. Mayoritas sih menang. Menangis dan menanggung malu maksudnya… hiks.. hiks… tapi beberapa kali menang beneran. Hadiahnya lumayan. Mulai dapat duit jutaan, blackberry, sampai ada yang Cuma dapat botol minuman (hadiah hiburan T_T).

Karena itu saya sangat mengappresiasi ide Dyah yang ingin mengadakan lomba menulis untuk peringatan satu tahun ekonom Gila. Sebenarnya saya punya ide untuk lomba foto model, tapi nanti pasti ga seru. Soalnya saya pasti menang. Menangis dan menanggung malu lagi deh. Hehehe. Tapi kalo lomba sumo, kayaknya saya menang beneran :p.

Lagipula, hidup adalah perlombaan. Kita berlomba untuk hidup. Kita adalah hasil balapan lari jutaan sel sperma laki-laki yang menghamili ibu kita. Hanya satu sel juara yang mampu membuahi sel ovum wanita yang melahirkan kita. Kita adalah hasil perlombaan itu!.

Dua Pelajaran Kehidupan

Dari sekian banyak lomba menulis, ada dua pelajaran utama yang bisa saya petik hikmahnya.

Pertama: lomba sebenarnya adalah perlombaan dengan diri sendiri.

 Musuh utama kita bukanlah peserta lain. Tapi diri kita sendiri. Bagaimana menghasilkan karya magnum opus yang state of the art. Beyond expectation para juri. Ini juga berarti perlombaan melawan malas. Rasa takut kalah. Kebingungan mengurai masalah dan mencari solusi. Dan bagaimana cara manajemen kerja agar bisa mengirimkan karya tepat waktu.

Jadi jika kita kalah, berarti kita dikalahkan oleh diri kita sendiri, bukan orang lain. Dan jika kita menang, berarti kita mengalahkan diri kita sendiri, bukan orang lain.

 Kedua: ada yang lebih penting dari sekedar uang.

 Mengenai motivasi mengikuti lomba. Uang memang penting. Tapi ternyata ada yang lebih penting! Apa itu? Kebahagiaan hidup!!! Inilah motivasi saya yang paling utama dalam mengikuti lomba menulis. Bagi saya, menulis itu menyenangkan. Membahagiakan. Mencerahkan kehidupan.

Kita bisa mempertanyakan hal-hal yang jarang dipikirkan orang kebanyakan, menemukan fakta-fakta yang jarang diketahui oleh orang lain, dan mengkomunikasikannya guna mempengaruhi pemikiran orang lain.

Menulis menjadi semacam terapi bagi saya. Ada kenikmatan rasa penasaran, terjerembab dalam pusara keingintahuan, tertimbun timbunan pertanyaan, berusaha mememukan jalan pencerahan, tersesat dalam labirin pencarian, dan menemukan kepuasan ketika meneguk cawan pengetahuan.

Saya menyebutnya orgasme intelektual.

Menulis Bahagia

Gara-gara mengejar orgasme intelektual, saya pernah mendapat nilai E ketika kuliah. Waktu itu dosennya Tony Prasetyantono. Ekonom yang tulisannya sering nongol di Kompas. Saya sangat menikmati kelas beliau. Tidak pernah textbook, penuh insight, dan dia juga sering memberikan “bocoran” off the record tentang kasus-kasus ekonomi yang terjadi di negeri ini (dia juga doyan pamer cerita jalan2nya ke luar negeri).

Saking nge-fans-nya saya sama dia, saya ingin memberikan “kado special”. Pada saat tugas akhir, kami mendapat tugas menulis paper ekonomi pembangunan. Tapi saya berbeda! Saya malah menulis paper itu dalam bentuk cerpen!. Judulnya “Ketika Ekonomi Dihisab”. Jadi ceritanya ketika kiamat, semua ilmu pengetahuan harus menceritakan sumbangsih apa yang mereka berikan pada dunia. Dan saya menceritakan sejarah, modeling, perkembangan, dan tak lupa kritik tentang ekonomi pembangunan.

Di kata pengantar saya memberikan semacam “kuliah kehidupan”. Saya prihatin tentang metode pengajaran ekonomi yang sangat kering dan tidak menyegarkan. Terlalu banyak data dan fakta. Tanpa rasa sastra yang menyentuh jiwa. Saya percaya tulisan-tulisan ekonomi bisnis di masa depan HARUS ringan, segar, menyenangkan, dan kalau bisa harus puitis plus humoris.

Biar semakin dramatis, saya memberikan “garansi”:

“Saya juga rela jika Bapak memberikan nilai E untuk mata kuliah ini.”

Eh, waktu saya liat transkrip, ternyata DAPAT E BENERAN!!!

Tapi entah mengapa, saya merasa bahagia. Sanggaattt bahagiaaaaa!!!

Itulah “bibit-bibit” awal lahirnya Ekonom Gila.

Ekonom Bahagia

Saya menulis. Dan saya bahagia.

Semangat inilah yang ingin ditularkan oleh Ekonom Gila. Menulis itu menyenangkan. Berbagi itu mensejahterakan. Pengetahuan itu kekuatan yang memberikan kebahagiaan. Tapi banyak yang belum mencoba. Takut menuangkan kata. Malu jika dibilang tidak bisa. Terkadang, kita harus memberikan insentif atau rangsangan dalam bentuk lomba.

Karena itulah lomba Ekonom Gila ada.

Dan terbukti, ada banyak tulisan yang masuk untuk lomba Ekonom Gila. Banyak yang menarik. Ide-ide yang unik. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada peserta lomba. Semoga Tuhan menambah ilmu yang Anda punya. Saya hanya ingin bertanya:

“Sudahkah kita menulis dengan bahagia?”

 Itulah hadiah utama yang ada. Bukan uang, voucher buku, atau popularitas. Karena jika kita hanya mengejar materi, kita takkan pernah menyentuh subtansi.

 Hadiah utama lomba Ekonom Gila adalah rasa bahagia. Kebahagiaan berbagi pengetahuan dan pengalaman. Kebahagiaan ketika menjelaskan pengetahuan yang dititipkan Tuhan dalam bentuk tulisan.

Karena itu, setelah lomba, tetaplah menulis. Tetaplah menyumbangkan apa yang Anda ketahui. Bagikan kepada kami. Mari menciptakan komunitas pengetahuan ekonomi yang saling mengisi. Demi hidup bahagia. Demi harta tertinggi umat manusia: pengetahuan yang menjadi dasar peradaban.

Bagaimana dengan pemenangnya? Secara formal masih dirundingkan oleh tante Dyah. Tapi secara subtansial, jika Anda sudah mengirimkan tulisan, berarti Anda adalah pemenang. Mengalahkan jutaan manusia lain yang tidak pernah mau berpikir, bertanya, menggali, dan berbagi ilmu yang ada di semesta. Mereka hidup hanya demi hidup itu sendiri. Asal bisa kuliah, bekerja, mendapat uang, membayar tagihan, berkeluarga, dan menikmati hari tua dengan memandangi senja di jendela.

 Sebuah alur hidup yang datar dan membosankan…

 Tapi Anda berbeda. Anda bertanya. Mempertanyakan keadaan. Melakukan perubahan. Anda terus belajar. Mengasah pemikiran. Terus mencari dan menggali. Anda tahu setiap investasi satu dollar di kepala kita akan menghasilkan 100 dollar di kantong kita.

 Lupakan soal pemenang. Lupakan soal tulisan harus baik-ilmiah-mencerdaskan-mencerahkan. Tulis saja apa yang ada di kepala. Karena selama kita menulis dengan bahagia, berarti kita adalah juara!!!.

 Bagi saya, tulisan yang baik adalah tulisan yang memberikan kebaikan bagi pembacanya, dan kebahagiaan bagi penulisnya.



Responses

  1. saya baru bisa nulis fiksi:mrgreen:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: