Posted by: Yoga PS | 15 January 2012

Tiga Rahasia Mendapatkan Harga Termurah Untuk Setiap Barang yang Kita Beli

Kapan ke Jogja lagi???

Untuk mendapatkan harga termurah, sebenarnya sederhana: belajarlah seni tawar menawar.

Belanja ga pake nawar? Mana seru! Bagian inilah yang membuat saya paling bersemangat. Bagi saya, seni tawar menawar adalah praktikum kuliah negosiasi yang sejati. Lewat tawar menawar Anda akan belajar manajemen isu konflik, optimalisasi sumberdaya ekonomis, berupaya mencari win-win solution, serta 144 SKS mata kuliah psikologi social dan komunikasi massa (selain dapat diskon harga tentunya :p).

Tawar menawar pula yang membuat pasar kembali menjadi organisme sosial yang manusiawi. Kumpulan manusia. Bukan kumpulan harga-harga. “Fasilitas” yang tidak ada di gerai modern pusat perbelanjaan. Jika Anda berbelanja ke gerai modern di mall, hanya tercipta komunikasi satu arah. Penjual dengan harga yang sudah ditentukan.

Take it, or leave it.

Berbeda dengan pasar biasa. Baik itu pasar yang sudah “modern” (tertata, tercluster, dan udah punya oyjeck klo uyjan juga ga beycheck) seperti Tanah Abang, Pasar Turi, Beringharjo, dll. Secondary market (pasar jual beli mobil contohnya) atau pasar online (cth: FJB kaskus).

Disini Anda bertransaksi dengan manusia. Bukan system barcode atau kasir yang terpaksa tersenyum meski sedang dilanda masalah rumah tangga. Di pasar “tradisional”, Anda bisa bersentuhan langsung dengan pelaku ekonomi. Mendengar cerita mereka. Bercanda. Berbicara soal cuaca, daerah asal, isu politik, hingga gossip artis ternama. Hidup bukan hanya berurusan tentang harga.

Lantas, bagaimana cara tawar menawar biar dapat barang termurah? Cukup ikuti tiga langkah dari saya.

Tiga Cara Untuk Mendapatkan Harga Terbaik Untuk Setiap Barang yang Anda Beli

Jurus-jurus yang akan saya bagikan mungkin membuat proses belanja menjadi agak sedikit lama dan memerlukan pengorbanan ekstra. Jurus ini bisa Anda gunakan untuk melakukan pembelian di semua pasar yang membuka celah negosiasi. Baik itu offline atau online. Apa saja langkahnya? Sederhana. Cukup lakukan 3 hal berikut ini:

  1. Cari informasi
  2. Lakukan negosiasi
  3. Pikirkan exit strategy

Kita mulai dari langkah awal: cari informasi.

Tujuannya adalah mendapatkan fair price untuk barang yang kita incar. Cari info sebanyak-banyaknya tentang harga produk. Berapa harga wajar untuk kualitas barang seperti ini? Berapa harga pasarannya? Pada harga berapa kita ingin membeli? Dimana penjual alternative yang ada? Sudahkah kita melakukan perbandingan harga? Apakah ada penjual yang rela melepas barang pada harga yang saya tawarkan?

Fase inilah yang membuat kaum hawa rela 2 jam muterin pasar hanya untuk menanyakan harga. Sudah mendapat fair price? Good. Kita bisa masuk langkah selanjutnya.

Lakukan negosiasi

Disinilah seninya. Anda tidak perlu membaca Getting to Yes karya Fisher dan Ury untuk menawar baju di Tanah Abang. Juga ga perlu mengambil mata kuliah 3 sks tentang topic ini (kebetulan, saya dapat E waktu kuliah). Cukup lakukan perbandingan harga yang penjual dengan tawarkan dengan harga pasar.

Inilah pentingnya langkah pertama. Anda sudah punya “modal” berupa informasi. Karena di pasar selalu ada asymmetric information. Penjual tahu lebih banyak daripada kita. Dia tahu berapa harga grosirnya, dimana distributornya, apa kelebihan kekurangan barang yang ia jual. Jika kita bisa tahu informasi kunci ini, sungguh merupakan senjata yang sangat ampuh untuk menawar.

Jika pedagang memberikan harga diatas harga pasar, katakan saja harga pasarnya (terkadang bisa 50% dari harga pembukaan). Jika ia tidak mau turunkan harga, tinggalkan. Cari penjual lain. Loh, katanya jurus rahasia bisa dapat harga termurah?

Saya harus mengklarifikasi. Tujuan kita adalah mendapat harga yang WAJAR (fair price), bukan termurah. Karena mahal-murah bersifat relative. Barang disebut mahal, jika diatas harga wajar pasar. Lagipula, jika kita mendapatkan harga dibawah harga wajar pasar (merusak pasar), hanya ada tiga kemungkinan:

  1. Barang itu cacat (tiren, BM, selundupan)
  2. Kita membeli dalam volume banyak
  3. Kita rela jadi istri simpanan Abang yang jualan :p

Jika Anda tahu harga grosirnya 10rb, tentu kita tidak akan bisa membeli dengan harga 10rb juga. Apalagi 9rb. Kecuali nawarnya sambil ngalungin golok ke leher abangnya hehehe. Menawarlah dengan wajar. Pedagang juga manusia yang butuh biaya untuk hidup.

Kita juga bisa menggunakan modal social yang kita punya. Modal social bisa berupa apa saja. Kedekatan family, kesamaan suku daerah asal, humor, track record kerjasama jangka panjang (langganan), sampai rayuan maut. Tujuannya agar penjual rela menurunkan margin keuntungan yang diambilnya.

Diskon harga akan semakin mudah didapat jika kita membeli dalam volume dan frekuensi tinggi. Tapi jika kita Cuma beli wortel satu biji ya wajar saja jika kesulitan mendapat diskon meski sudah katam membaca buku-buku negosiasi sambil kuliah di Harvard Business School sono.

Exit strategy

Pernah nawar, penjualnya ga mau, kita pergi, terus dipanggil-panggil lagi?

Makanya barang belum dibayar jangan dibawa kabur dulu donk! Hehehe. Maksud saya, penjual setuju dengan harga yang kita ajukan ketika pergi. Inilah jurus paling sakti untuk memenangkan negosiasi: berusaha menghancurkan negosiasi.

Exit strategy hanya boleh Anda lakukan pada final offer. Contohnya gini:

Kita: Berapa Bang?

Penjual: 35rb Mbak

Kita: Yah, bahannya Cuma kaya gini. Biasanya Cuma 15rb-an nih (sadis tidaknya kita menawar, tergantung fair price barang itu sendiri)

Penjual: yah mana boleh Mbak, ngambilnya 20rb (pasar itu tempatnya setan, jangan gampang percaya omongan penjual)

Kita: Iya, biasanya 15rb koq. Grosirannya kan Cuma 10rb. Apa saya ngambil di sebelah aja (naikkan bargaining power kita, berikan “ancaman” persaingan)

Penjual: Ga nyampe untungnya Mbak. Paling2 Cuma bisa turun jadi 30rb (Waduh ni mbak2 udah tahu harga pasar, tetep jual mahal ah)

Kita: ya udah klo ga mau 15rb. Boi boi. (cabut, cari penjual laen)

Saat kita pergi, tiba-tiba dipanggil.

Penjual: Ya udah deh, gpp (biar untung dikit yang penting laku)

Tuh kan, jika kita udah ngeluarin jurus exit strategy, pastikan itu jurus terakhir kita jika perundingan sudah buntu. Jangan sampe Anda kembali lagi. Karena itu akan menunjukkan jika kita benar2 butuh ama tu barang, dan secara otomatis menaikkan bargaining power penjual. Dan sekali lagi, jika memang harga pasarnya segitu, ya mau gimana lagi.

Take it, or leave it.

Cari pasar laggiiiiiii!!!! (kaya lagunya EsTeh Dua Gelas)


Responses

  1. tulisan yang ini rada beda yaa atmosfirnya..
    rada kalem.. apa rada wisdom gitu ya?
    hahaha…

    tapi kadang-kadang yang nyebelin dari tawar menawar kalo kita dah nawar baik-baik tapi pedagangnya respon pake urat. hahahahah…

  2. beda apanya? Mungkin gara2 baru nulis pagi ini kali. hihi

  3. tulisan yang kemaren-kemaren atmosfirnya berapi-api..
    kalo yg ini, rada kalem…
    pengaruh waktu nulis kali’ yaa..😀

  4. penurut petuah emak saya.. exit strategy itu ada kaitan nya dengan nama pusat perbelanjaan kebanggan saya di jogja.. malioboro..
    diturunkan dari kata ‘balio moro’ (kembali lah datang kesini)
    semacam kalimat yang diucapkan kalau calon pembeli sudah mulai meninggalkan si penjual karena tawarannya nggak di-acc.. hehee

  5. haha pengalaman yo😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: