Posted by: Yoga PS | 5 February 2012

Perdagangan dan Pencerahan

Pencerahan dapat lahir darimana saja dan kapan saja. Termasuk pasar. Tempat berkumpulnya setan. Pencerahan dapat lahir dari perdagangan. Ketika seseorang mampu mendapat pelajaran dari transaksi jual beli yang terjadi. Menemukan benang merah keindahan kemanusiaan dari perputaran uang dan barang.

Contohnya Muhammad. Nabi kaum muslim yang semasa muda menjadi pedagang ulung. Sejak remaja ia sudah berdagang hingga ke negeri syam. Dan lewat perdagangan ia belajar mengembangkan karakter. Ia belajar berkata dan berlaku jujur. Memelihara janji dan integritas. Menjaga dan mengembangkan asset. Juga menyampaikan dan melaksanakan amanah.

Konsep-konsep sidiq, tabligh, amanah, dan fatonah takkan bisa didapat Muhammad jika ia tidak berdagang. Jika ia tidak berbisnis dan menjadi pengusaha yang sukses, mungkin ia tidak akan mendapatkan gelar “Al-amin”. Yang terpercaya.

Muhammad belajar jika modal terbesar seorang pemimpin bukanlah kemampuan berbicara. Bukan janji program kerja. Juga bukan pembagian harta. Modal terbesar seorang pemimpin sama dengan modal terbesar seorang pengusaha. Kepercayaan. Trust. Tanpa kepercayaan, takkan ada perdagangan.

Siddharta

Tokoh karangan pemenang nobel sastra Herman Hesse, Siddharta, juga menemukan pencerahan dari perdagangan. Siddharta yang miskin belajar tentang arti kesabaran dan kepercayaan ketika sedang melamar pekerjaan ke seorang saudagar, Kamaswami.

Siddharta hanya membatu didepan pintu.

“Begitulah caranya ketika Siddharta tidak melakukan apa pun- dia menunggu, dia berpikir, dia berpuasa- tetapi dia melewati hal2 di dunia seperti batu melewati air, tanpa harus bertindak sendiri. Dia melangkah maju dan dia membiarkan dirinya jatuh. Tujuannya yang mengarahkan dirinya padanya, karena dia tidak membiarkan apa pun masuk ke dalam pikirannya yang mengantarainya dengan tujuan tersebut.”

Ketika akhirnya ia diterima dan mendapat kepercayaan Kamaswami, Siddharta belajar sesuatu dari perdagangan. Ia belajar jika ini semua hanyalah tentang manusia. Manusia dengan segala tindak tanduknya, nafsunya, keinginannya, dan hasrat yang ada dibawah sadarnya.

Dan semakin ia tidak peduli dengan barang dagangan, semakin dekat ia dengan kemanusiaan. Pada suatu hari Kamaswami menyuruh Siddharta untuk membeli padi disebuah desa. Ketika Siddharta berada disana, ternyata semua padi telah diborong oleh pedagang lain.

Bukannya segera kembali, ia justru tinggal didesa itu. Bermain bersama anak-anak. Membagi-bagikan bekal perjalanan yang ia punya. Ketika ia kembali ke Kamaswami, modal yang ia miliki sudah habis. Mengetahui hal itu, Kamaswami menjadi murka.

“Apa yang kau lakukan?!? Mengapa Kau habiskan modal kita” seru Kamaswami dengan geram.

Siddharta hanya tersenyum.

“Kamaswami saudaraku, apa yang kau risaukan? Untuk apa kau memikirkan uang yang dengan mudah kita dapatkan?”

Kamaswami menjadi semakin marah. Ia tidak habis pikir dengan tingkah laku Siddharta. Tapi bisnis berpihak kepada Siddharta. Di musim panen berikutnya, desa yang disinggahi Siddharta menolak menjual padinya ke pedagang lain, dan hanya mau menjual padi mereka ke Siddharta. Ia telah memenangkan kontrak perdagangan masa depan.

Supplier sangat senang berbisnis dengan Siddharta. Ia selalu tertawa. Dan tidak pernah protes jika mengalami masalah pembayaran. Konsumen jatuh cinta dengan Siddharta. Ia selalu mendengarkan cerita mereka. Sering memberi hadiah. Dan tidak pernah marah dengan complain serta tuntutan yang bermacam-macam.

Dan Siddharta menjadi semakin sadar. Semakin ia berfokus pada perdagangan, semakin ia tidak akan memenangkan perdagangan. Dan semakin ia berfokus pada kemanusiaan, semakin besar perdagangan yang ia dapatkan.

Alat, Bukan Tujuan

Pelajaran dari Muhammad dan Siddharta (saya tidak membandingkan, karena yg satu nabi agama saya sedang yang lain hanyalah tokoh fiktif novel) mengajarkan kita bahwa perdagangan hanyalah alat. Bukan tujuan. Karena pada akhirnya keduanya meninggalkan dunia bisnis dan murni mengabdi untuk kemanusiaan. Tapi betapa sering kita berpikir, untuk melakukan kebaikan, kita harus mendapatkan kekayaan?

Seperti status facebook seorang senior analyst bursa saham yang ia tulis hari ini:

Apa yg bisa dilakukan dengan uang 1T? Bila uang 1T ditaruh di deposito dengan bunga 7% per tahun, dan dengan pajak bunga 20%, maka tiap bulan bunga bersih yg akan didapat sekitar 4,66 milyar. Katakanlah biaya hidup dipakai sebulan habis 60 juta, maka tersisa 4,6 milyar. Dengan 4,6 milyar pendapatan bersih sebulan, banyak yg bisa kita perbuat untuk masyarakat sekitar kita. Bahkan, walau separuhnya saja yang kita sumbangkan, ada tersedia 2,3 milyar per bulan yang bisa kita sumbangkan untuk membantu panti asuhan, pendidikan anak2 yg kurang mampu, dan masih banyak hal positip lainnya yg bisa dilakukan.

Saya mulai menyadari, mungkin inilah salah satu tujuan saya hidup di dunia ini, mungkin alasan inilah saya diberikan talenta khusus di bidang ini. Semoga saya bisa bermanfaat bagi banyak orang. Dan saya banyak belajar dari Bill Gates, untuk menyadari kapan itu enough is enough, menyadari kapan saatnya berhenti dan fokus pada kegiatan sosial atau menjadi Philanthropy.

Karena memang kalau terus mencari harta, tidak akan pernah ada habisnya dan tidak akan pernah ada puas, selalu ingin lebih dan ingin lebih sampai akhirnya terjungkal kembali akibat sifat tamak dan rakus, baru sadar dan menyesal. Tidak sempat menikmati hidup tenang, menikmati hidup dengan jalan2 keliling dunia, tapi tetap bisa memberikan arti bagi kehidupan sesama. Itulah big dreams saya🙂

Dan pesan seorang Rabindranath Tagore sekitar 70 tahun yang lalu masih relevan untuk saat ini.

“Saya tidur dan bermimpi bahwa hidup adalah kegembiraan.

Saya bangun dan melihat bahwa hidup adalah pelayanan.

Saya melakukan, dan percayalah, pelayanan adalah kegembiraan”.


Responses

  1. dan bergembiralah ketika menikmati hidup,……..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: