Posted by: Yoga PS | 22 April 2012

Atman

Atmanconnection

atmanconnection.com

Seorang teman bertanya, apa perbedaan senang dan bahagia?

Teman tadi mengajukan preposisi sederhana, seringkali kita merasakan kesenangan, tapi apakah kita merasakan kebahagiaan? Contohnya ketika kita memenangkan hadiah undian berupa mobil. Kita merasa senang. Tapi mengapa kesenangan itu berubah menjadi kesedihan ketika ternyata kita mengalami kecelakaan saat mengendarai mobil tadi.

Mobil yang semula menjadi sumber kebahagiaan, tiba-tiba menjadi sumber penderitaan. Betapa relatifnya hidup.

Pertanyaan mengenai kebahagiaan sesungguhnya adalah pertanyaan tentang eksistensi kemanusiaan. Pemikiran tentang ini membayangi para filsuf dan bijak bestari sejak dahulu kala. Epicurus, penggagas hedonism, beranggapan bahwa manusia hidup untuk mencari kebahagiaan. Tapi sayangnya pengikutnya mempelintir definisi kebahagiaan hanya sebagai pemenuhan kesenangan.

Padahal Epicurus mengejar sebuah keadaan tanpa rasa takut (ataraxia) dan tidak adanya rasa sakit (aponia). Kebahagiaan jenis ini hanya bisa dikejar dengan pengetahuan, hubungan pertemanan dengan kasih sayang, dan hidup dengan kebaikan. Kebahagiaan tidak dicapai dengan makan sekenyang-kenyangnya, tidur sepuas-puasnya, bercinta sekuat-kuatnya, atau minum sebanyak-banyaknya.

4 F

Karen Armstrong dalam Compassion menyebutkan bahwa manusia memiliki “otak tua” guna mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan bertumpu pada 4 F: feeding, fighting, fleeing, dan f**king. Manusia butuh makan, mempertahankan hidup, dan memproduksi keturunan. Dan seiring perkembangan peradaban, manusia menciptakan “otak baru”, neokorteks. Pusat penalaran yang membuat kita mampu merenungkan diri sendiri, dunia, dan membentengi diri dari hasrat naluriah primitif itu.

Paul Broca, seorang ahli anatomi Prancis pada 1878 menemukan wilayah yang disebut le grand lobe limbique. Penelitian yang diperkuat oleh Paul Maclean yang menyebutkan bahwa emosi positif belas kasih, sukacita, ketenangan, dan kasih sayang tidak dihasilkan oleh hipotalamus, tapi system limbic yang diduga terletak dibawah korteks. Evolusi otak manusia yang semula hanya memikirkan hasrat fisik mempertahankan kehidupan, ternyata memiliki tempat untuk berkembangnya kelembutan dan kemanusiaan.

Bangsa Arya di India mampu menjadi contoh “penciptaan kebahagiaan” yang lebih tinggi. Kebiasaan berperang yang tak memberikan apa-apa mampu mereka redam. Lahirlah Upanishad, sebuah serangan terhadap pencarian kenikmatan indrawi. Menuju pencarian surgawi. Material berkembang ke spiritual.

Para guru bijak berusaha menemukan atman, “diri sejati” yang menjadi inti. Sesuatu yang absurd. Karena seperti pesan Yajnavalkya, guru awal ajaran ini:

“Anda tidak dapat melihat Yang Maha Melihat, yang melakukan melakukan penglihatan itu

Anda tidak dapat mendengar Yang Maha Mendengar, yang melakukan pendengaran itu

Anda tidak dapat berpikir dengan Yang Maha Pemikir, yang melakukan pemikiran itu”

Mereka yakin jika dapat menemukan atman, mereka akan mencapai kesatuan dengan Brahman, yang Mahasegala. Energy yang tidak dapat dihancurkan dan merupakan bahan bakar kosmos, yang menetapkan hukum, dan mempersatukan alam semesta.

Sebuah usaha yang tidak mudah. Kita harus berlatih Yoga. Bukan sebagai ilmu pernafasan, tapi sarana pengendalian. Seorang calon yogi harus menjalani proses magang yang panjang. Menjalankan lima larangan (yama). Tidak boleh melakukan kekerasan, mencuri, menimbun harta, berbohong, dan berhubungan seks. Proses pembunuhan terhadap 4F. Sampai gurunya yakin ia sudah mengontrol nasfsu kebinatangannya, ia baru diperbolehkan duduk dalam posisi yogik.

Latihan berat dan panjang yang menghasilkan keadaan:

“Tenang, teduh, sabar, dan utuh”.

Sumber Penderitaan

Mereka yang menemukan atman, akan mencapai kesadaran. Dan kesadaran akan menghasilkan penerimaan terhadap kenyataan. Penerimaan pada kenyataan akan menjadi dasar kebahagiaan. Karena sesungguhnya sumber penderitaan adalah persepsi kita terhadap kenyataan, bukan kenyataan itu sendiri.

Contohnya ketika kita mengalami kekalahan dalam sebuah final kompetisi catur. Hadiahnya 1 juta dollar. Tidak ada yang hilang. Kita hanya gagal mendapatkan hadiah satu juta dollar itu. Tapi pikiran kita, mulai mempersepsikan kekalahan ini sebagai penderitaan. Karena kita tidak jadi mendapatkan kenikmatan dari hadiah yang bisa kita menangkan. Hilang sudah bayangan liburan, rumah mewah, perhiasan, dan sejuta fantasi kita tentang apa yang bisa kita lakukan dengan satu juta dollar.

Manusia mendapatkan kesenangan dari pemikiran, dan mendapatkan kesedihan juga dari pemikiran.

Lantas bagaimana cara menemukan atman? Bagaimana cara mencapai “Kesadaran”?

Tentu dengan berlatih. Saya tidak bisa mengajari Anda karena saya juga masih belajar menggunakan ajaran agama saya. Saya masih belajar mengendalikan diri, berpuasa, shalat, mengingat Tuhan, dan mengingat pesan:

“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu” (Barangsiapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya)

Kita tentu tidak perlu menjadi pertapa, mengasingkan diri, dan meninggalkan semua hal yang berbau duniawi. Setidaknya, ada dua kesadaran yang sedang berusaha saya terapkan:

  1. Kesadaran untuk menerima semua kenyataan kehidupan
  2. Kesadaran bahwa kehidupan dunia hanyalah tipuan yang fana dan sementara

Jika saya mengalami penderitaan, saya akan menerima penderitaan itu sebagai kenyataan, tidak akan berimajinasi menggunakan kata “seandainya..”, sambil terus berusaha memperbaiki keadaan. Toh dunia dan seisinya hanyalah permainan ciptaan Tuhan.

Lihatlah manusia yang stress. Jiwa-jiwa yang gelisah dan menderita. Mereka tidak mau menerima kenyataan. Sehingga tidak mendapat pembelajaran. Dan tidak berujung pada perbaikan kehidupan.

Aturannya sederhana: mereka yang menerima, akan merasa bahagia.

Mereka yang menemukan atman akan tersenyum saat mendapat kenikmatan, dan tertawa ketika menerima cobaan. Diri mereka kukuh. Tak terpengaruh. Karena mereka tahu jika keadaan dunia yang serba fana dan sementara takkan mampu mempengaruhi keadaan jiwa didalam dada.

Senang itu sementara. Sedih itu sementara. Hidup itu sementara. Mati itu sementara.

Mereka yang berkawan dengan atman akan tersadar. Dunia ini milik Tuhan. Kebahagiaan milik Tuhan. Penderitaan milik Tuhan. Dan apapun milik Tuhan, pasti bertujuan untuk kebaikan. Ia tidak sombong saat diatas, tidak pasrah saat dibawah, dan tidak menyerah saat ditengah.

Tenang, teduh, sabar, dan utuh.

Pembawaannya tenang. Tatapannya teduh. Hatinya sabar. Jiwanya utuh.


Responses

  1. “sebuah usaha yang tidak mudah. Kita harus berlatih Yoga. Bukan sebagai ilmu pernafasan, tapi sarana pengendalian.”

    nama situ kan udah Yoga🙂

  2. Tapi ga tau kan kenapa ortu saya ngasi nama ginian?

  3. Jadi, Atman itu siapa?

  4. itu pasti tergolong rahasia produksi ya🙂

  5. amiiinnnn.. *mengaminkan kata2 yg paling akhir*🙂

  6. Atman Maulana, vokalis band

  7. Konsensus sosial

  8. yang mana???

  9. kalo kata ajahn brahm, bahagialah saat ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: