Posted by: Yoga PS | 29 April 2012

Locus

productivity501.com

Apa yang membedakan pemenang dan pecundang? Ada banyak pembeda. Mulai dari mindset, sikap, spirit, hingga belief. Tapi saya percaya jika salah satu perbedaan fundamental ada pada persepsi. Cara memandang permasalahan itu sendiri.

Seorang ahli psikologi bernama Julian Rotter membedakan manusia menjadi dua golongan: mereka dengan locus of control eksternal melawan orang dengan locus of control internal. Locus of control berakar dari bahasa Yunani, locus, yang berarti tempat. Locus of control secara gampang merujuk pada “tempat control”.

Mereka dengan locus of control eksternal percaya jika apa yang mereka alami dalam hidup ditentukan diluar control Pribadi mereka. Sedangkan orang dengan locus of control internal percaya jika mereka bisa menentukan nasib mereka sendiri.

Tampaknya sederhana. Tapi besar dampaknya. Yang satu selalu melihat keluar, sedang yang lain melihat kedalam. Jika ada masalah, kaum locus eksternal akan melihat permasalahan ada diluar diri mereka. Bukan diri mereka sendiri. Sebaliknya, kaum locus internal akan mengintrospeksi diri mereka sendiri terlebih dahulu, sebelum melakukan sesuatu.

Penelitian lebih lanjut menunjukkan jika manusia dengan locus of control internal memiliki kepuasan kerja, perkembangan karier, kesuksesan kinerja, dan kebahagiaan hidup lebih baik daripada mereka dengan locus of control eskternal.

Kambing Hitam

Saya tidak tahu, terlepas dari adanya kepentingan politis terselubung, saya melihat aksi-aksi demonstrasi yang marak terjadi menunjukkan bahwa masyarakat kita tergolong memiliki locus of control eksternal. Kita begitu mudah menyalahkan orang lain, lingkungan, dan kambing hitam paling gampang adalah: pemerintah.

BBM naik, salahkan pemerintah. Jalanan rusak, penyebabnya pemerintah. Harga-harga tinggi, pasti gara-gara pemerintah. Masih menganggur, ujungnya pemerintah. Tidak lulus UN, salah pemerintah. Dicopet diangkot, salahkan pemerintah. Sakit gigi, salahkan pemerintah. Kucing depan rumah mati, salahkan pemerintah. Tampang saya ganteng, jangan salahkan bunda mengandung :p.

Kondisi ini menunjukkan rapuhnya modal social masyarakat kita. Tingkat kepercayaan rakyat kepada pemerintahnya sendiri sudah berada dibatas titik nadir. Kalau tidak mau dibilang sudah punah. Apalagi dengan kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri. Kebiasaan mencemoh, meremehkan, dan komentar sinis menghiasi pembicaraan masyarakat sehari-hari.

“Yaelah… Indonesia mana mampu…”

“Paling-paling juga ntar kalah, kemarin aja sampe 10-0”

“Tunggu aja sampe dikorupsi, anggarannya doank segitu”

Kita begitu bingung dengan kondisi yang begitu amburadul, dan keadaan ini membutuhkan pelampiasan. Musuh bersama. Kambing hitam. Tempat dimana kita bebas menghujat, melepaskan amarah dan melupakan sejenak semua beban hidup. Maka demonstrasi mampu menjadi wahana aktualiasi diri yang “paling seksi” sekaligus sarana unjuk eksistensi atas nama penyaluran aspirasi.

Galau

Kita melahirkan generasi galau. Generasi yang hanya bisa menuntut, menyalahkan, dan tidak solutif. Kita sering melupakan peran kita sebagai anggota masyarakat yang harus berpartisi aktif didalam setiap proses pengembangan masyarakat itu sendiri. Seperti pesan abadi John F Kennedy:

“Ask not what your country can do for you–ask what you can do for your country.”

Saya tidak berniat membela pemerintah. Karena saya bekerja di sector swasta. Saya menulis ini justru karena sudah “muak” dengan pemerintah. Maksud saya: dunia tidak akan berubah dengan hanya berharap dan menyalahkan pemerintah!. Karena hal terbodoh yang bisa kita lakukan adalah mempercayai adanya struktur kekuasaan bernama pemerintahan negara yang sedang memikirkan nasib kita.

Saya percaya masih banyak change agent yang melawan dalam diam. Mereka tidak berteriak-teriak meminta pengakuan dan publisitas. Mereka adalah manusia pejuang. Bertarung untuk menang. Karena disaat para pemenang terus mengeluarkan peluh, kaum pecundang terus mengeluarkan keluh.

Mereka adalah manusia dengan locus control internal. Mereka belajar, bekerja, dan berkarya dalam proporsi yang mereka bisa. Mereka adalah generasi yang percaya jika Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah tindakannya hari ini.

*)Ditulis untuk opini Equilibrium dengan tema demonstrasi

Responses

  1. copas ah…

    Mereka adalah manusia pejuang. Bertarung untuk menang. Karena disaat para pemenang terus mengeluarkan peluh, kaum pecundang terus mengeluarkan keluh.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: