Posted by: Yoga PS | 17 May 2012

Ujian

bestmastersineducation.com


Saya membenci ujian ketika sekolah. Apalagi kalau ujiannya deres. Bisa banjir deh. Huehueue. Ada beberapa sebab. Causa prima-nya adalah karena nilai-nilai sekolah saya jelek. Untung tampang saya enggak (fitnah dan boong itu beda tipis loh :p). Sangat jarang masuk 10 besar untuk urusan nilai. Tapi untuk masalah berat badan, jangan ditanya donk hehehe.

Jikapun ranking 10 besar itu pun ranking 9 titik 5. Dalam artian ada lima orang dengan nilai sama yang pantas duduk dirangking 9. Hebat banget kan sampe ada 5 orang dengan nilai sama. Mungkin karena budaya gotong royong dan rasa senasib sepenanggungan. Mungkin juga karena tingginya solidaritas social. Termasuk untuk urusan ujian. Nyontek maksudnya.

Jujur, waktu sekolah saya pinter. Pinter mengeksploitasi orang lain lebih tepatnya. Saya memiliki kemampuan menganalisa kemampuan seseorang, melakukan pendekatan personal, membangun jaringan social, mengoptimalkan belas kasihan kemanusiaan berbalut rasa-tidak-tega-memiliki-teman-gendut-dan-bego seseorang untuk kepentingan pribadi.

Dulu juga saya ga pernah nyatet, karena saya punya “sekretaris pribadi”. Anak cewek yang rapi catetannya dan pasti langganan saya fotokopi. Ada tugas paper atau LKS? Tenang… ada “tim riset” yang menyediakan data jawaban. Besok ujian? Malemnya main game donk! Karena setiap ujian saya udah punya “tim ahli”. Anak2 jago matematika, bahasa inggris, dan IPA yang bisa saya berdayakan.

Kebiasaan nyampah ala parasit ini berhenti ketika kelas 3 SMA. Waktu itu saya sadar jika SPMB tidak memungkinkan membawa “tim ahli” ketika ujian. Saya mulai tobat, insyaf, kembali ke jalan lurus kebaikan. Saya ingat Tuhan. Narkoba, miras, judi, dan prostitusi saya tinggalkan. Merindukan cahaya kebaikan. Sambil teringat kembali dosa-dosa yang telah saya lakukan. Jika saya teruskan, lama-lama tulisan ini jadi majalah Hidayah sodara-sodara.

Dan hasilnya, saya meraih nilai UN tertinggi sekabupaten! Guru-guru tidak percaya. Keluarga tidak percaya. Teman-teman tidak percaya. Saya sendiri juga tidak percaya! Saya takut! Saya takut jika ada jaringan mafia yang menculik anak SMA cerdas dengan nilai UN tertinggi untuk dipaksa menjadi pegawai negeri. Atau Jangan-jangan ini hanyalah taktik propaganda zionisme Israel dan sekutunya untuk menciptakan euphoria dan mencuci otak kaum muda Indonesia. Jika saya teruskan, lama-lama tulisan ini jadi majalah Sabili sodara-sodara.

Kembali ke laptop (karena saya nulisnya di laptop beneran) Setidaknya ada beberapa hal lain yang membuat saya membenci ujian sekolah. Terutama UNAS:

  1. Ujian sekolah hanya menghasilkan robot penghafal
  2. Ujian sekolah hanya menciptakan budaya cerdas individual

Robot

Bagaimana cara mengukur kepintaran seseorang? Seharusnya lewat memberikan masalah untuk dipecahkan. Tapi itu masalahnya… masalahnya kita tidak tahu masalahnya. Aduh, nulis apaan sih ini. Intinya, ujian sekolah hanya menekankan aspek kognitif. Anda dianggap pintar jika tahu berapa massa jenis air, kapan tahun kelahiran Diponegoro, dan dimana itu Swaziland.

Tidak ada pengembangan kreatif. Murid diposisikan seperti ensiklopedia yang harus tahu banyak. Dia harus tahu bagaimana bunga bisa kawin, apa itu VOC, berapa jarak bumi ke bulan. Pendidikan kita membunuh pertanyaan-pertanyaan konyol seperti apakah ada bunga waria yang ga jelas mana putik benang sarinya, mengapa nenek moyang kita begitu bego mau dijajah 350 tahun, atau berapa jarak Matahari ke Ramayana. Oh maaf, itu matahari department store.

Murid pintar adalah murid “recaller”. Mereka yang mampu merekam informasi, lalu memanggilnya kembali ketika dibutuhkan. Hal ini diperparah dengan kultur individu yang diciptakan. Kita dilarang bekerja sama selama ujian. Ujianku, nilaiku, untukku. Padahal setahu saya, kita tidak mungkin memecahkan masalah sendirian. Kita membutuhkan bantuan dari orang lain.

Sepertinya susah untuk menghapus UN. Pemerintah kita masih butuh ukuran untuk menentukan pintar bodohnya seorang anak. Ujian yang dilakukan system pendidikan negeri ini tidak bertujuan mencari pengetahuan. Tapi pengukuran kecerdasan kognitif. Oleh karena itu tidak ada soal essay, tapi pilihan ganda agar mudah menentukan benar salah. Dan kita dididik hanya untuk mencari jawaban, bukan pertanyaan baru.

Pengetahuan Tidak akan Membuat Anda Sukses

Ya, itu kenyataannya. Tahu banyak tidak akan membuat Anda memiliki banyak. Jika kesuksesan ditentukan dari banyaknya pengetahuan, maka seharusnya pemenang nobel, pengusaha, CEO, dan actor pengubah social didominasi oleh pustakawan. Tapi kita membutuhkan kemampuan lebih dari sekedar me-recall informasi. Kenyataannya kesuksesan kita ditentukan dari kemampuan konstruktif kreatif untuk menggunakan informasi itu demi memecahkan permasalahan umat manusia. Pengetahuan bukanlah kekuatan. Jika ia tidak digunakan.

Fakta dan informasi menempati kasta terendah terendah dari pengetahuan. Diatasnya ada pengalaman. Lalu diatasnya lagi ada kebijaksanaan. Dalam cerita Zen disebutkan seorang guru yang mengetes kedua muridnya. Sang Guru bertanya,

“Apa itu pencerahan?”

Murid pertama dengan bersemangat dan berapi-apa menjelaskan definisi pencerahan. Ia mengutip semua teori dari orang bijak sejak zaman dahulu kala. Tak lupa menyebutkan syarat dan tahap-tahap yang harus dilalui seseorang untuk mencapai pencerahan. Sang Guru terkagum-kagum dengan pengetahuan murid pertama. Lalu ia bertanya ke murid kedua, “Apa itu pencerahan?”

Berbalik 180 derajat dengan murid pertama, ia hanya diam. Lalu sambil menatap gurunya ia tersenyum, matanya membulat, terbuka lebar. Wajahnya berseri-seri. Cerah sekali. Tak ada kata. Tak ada penjelasan apa-apa. Murid kedua hanya diam. Tapi Sang Guru sudah paham, murid kedua telah lulus karena mampu menjawab jawaban Sang Guru.

Lantas, Apa perbedaan sekolah dengan kehidupan?

Di sekolah kita diberi pelajaran, lalu diuji. Di kehidupan kita diuji, lalu diberi pelajaran.

*Ditulis untuk anak2 yang lagi sibuk ujian. Jangan lupa main ya! :P
Minta doanya juga by the end of this month bakal ada ujian Unilever media college hehehe

Responses

  1. Unilever Media College?? Good Luuuuuuuccckk!!! .. jangan lupa bawa odol+sabun ya? kan Unilever😛

  2. mas ijin tak bagi ke plesduk saya

  3. Monggo bos


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: