Posted by: Yoga PS | 24 June 2012

Sisyphus

Sisyphus

Those who do not learn from history, will repeat the history.

Terkadang, manusia dikutuk untuk mengulangi kesalahan yang sama.

Seperti kisah Sisyphus, raja daerah Corinth dalam mitologi Yunani. Sisyphus yang melihat Zeus membawa lari Aegina, putri Asopus, lalu mengadukannya kepada sang dewa sungai. Zeus yang sangat murka kepada Sisyphus lalu menghukumnya dengan cara menjebloskan putra Aeolus ini kedalam Tartarus, alam bawah tanah terbawah. Neraka paling dasar.

Didalam Tartarus ia mendapat hukuman yang sangat menyiksa. Sisyphus harus mendorong batu besar menuju sebuah bukit, hanya untuk melihat batu itu jatuh kebawah saat di puncak. Dan ia harus mengulangi proses mendorong batu itu, mulai dari bawah lagi. Terus menerus. Tak pernah putus.

Ada banyak interpretasi tentang Sisyphus. Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus menganggap jika Sisyphus adalah symbol pencarian eksistensi kehidupan manusia. Sebuah kondisi penuh hukuman dimana kematian bisa menjadi jalan keluar. Sayangnya, Sisyphus harus berurusan dengan keabadian. Dan apa yang lebih menyiksa dari melakukan pekerjaan tanpa makna selamanya?

Seperti pesan Fyodor Dostoyevsky:

“Apabila kita ingin menghancurkan seseorang, merusak dia sepenuhnya atau memberi hukuman yang menyakitkan. Sehingga pembunuh paling kelam pun gentar dan takut menghadapinya, yang perlu kita lakukan hanyalah memberinya pekerjaan yang tak berguna, sia-sia, dan irasional!!!”

Yang jelas Sisyphus adalah sebuah symbol kesia-siaan. Perjuangan yang tidak menghasilkan, dan hanya berakhir pada kekosongan. Tragedi Sisyphus adalah cerminan kehidupan yang terus menjadi siklus. Tapi benarkah Sisyphus adalah sebuah symbol penderitaan?

Perjuangan

Kita dapat melihat segi positif dari tragedy Sisyphus. Tentang perjuangan yang tak pernah putus. Meski ia tahu batu itu tak akan pernah melewati puncak, ia terus bergerak. Sisyphus terus berusaha. Sekuat tenaga. Terkadang tidak memiliki tujuan lebih baik daripada tidak melakukan tindakan.

Tapi tentu kita tidak boleh meniru Sisyphus. Manusia dibekali akal untuk berpikir. Memikirkan tujuan, cara, dan yang terutama: mencari makna. Apa yang dilakukan Sisyphus mungkin seperti apa yang kita lakukan setiap hari: bangun, pergi kuliah atau bekerja, pulang ke rumah, tidur, untuk bangun dan melakukan rutinitas yang sama setiap hari, tanpa tahu apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini.

Untuk menghindari aburditas kehidupan seperti Sisyphus, yang kita butuhkan adalah kesadaran. Kata Camus:

“The workman of today works every day in his life at the same tasks, and this fate is no less absurd. But it is tragic only at the rare moments when it becomes conscious.”

Bulan Sisyphus

Banyak dari kita meniru Sisyphus. Hidup tanpa kesadaran. Terutama ketika menyambut bulan ramadhan. Kita seperti memanggul batu berisi dosa-dosa. Bergerak menuju puncak bukit fitrah, berusaha membuang dosa itu. Untuk terlahir kembali menjadi manusia yang suci.

Dan seperti Sisyphus, kita menjatuhkan batu itu dengan tetap berbuat dosa seperti sedia kala, setelah bulan suci itu berlalu. Hal ini seperti membuang batu itu kembali kedasar. Dengan terus menuruti hawa nafsu. Melupakan apa yang telah kita bangun. Ramadhan seolah hanyalah ritual tahunan dimana ada selebrasi maaf-maafan, puasa, mudik, THR, lebaran, dan baju baru.

Setelah bulan yang baik itu, kita melakukan kesalahan yang sama. Mengulang dosa-dosa yang terbilang. Kembali meninggalkan perintah-Nya, tetap saja melakukan larangan-Nya. Persis seperti Sisyphus. Ramadhan adalah bukit, batu yang kita bawa adalah dosa. Dan seperti siklus. Kita memohon ampun untuk dosa yang kita lakukan. Setiap tahun.

Kita harus meniru perjuangan Sisyphus, tapi jangan meniru kebodohannya. Mari kita meniru perjuangannya mendaki bukit kesadaran. Berusaha menemukan rahmat Tuhan. Meski jauh. Meski seringkali kita jatuh. Tapi itulah hidup. Iman membutuhkan pembuktian. Kebaikan membutuhkan pengorbanan. Cinta membutuhkan perjuangan. Terus menerus. Tak pernah putus.

Seperti apa yang dilakukan seorang Sisyphus.


Responses

  1. Lezat tulisannya mas. Terima kasih telah mengingatkan😀. Selamat berramadhan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: